Jumat, 31 Oktober 2014

News / Edukasi

Pendidikan Dini

Karena Hati Kami Teriris

Kamis, 22 Maret 2012 | 09:48 WIB

Bangku plastik warna-warni, perosotan, alat-alat peraga, dan sejumlah gambar hewan serta buah terlihat di bagian dinding lembaga Pendidikan Anak Usia Dini Yayasan Al Hadiid, Kota Padang, Sumatera Barat. Pada papan pengumuman di luar tertempel beragam undangan dan permintaan untuk tampil dalam berbagai pentas dan acara, seperti lomba pergelaran busana serta pembacaan dongeng.

Sedikitnya 10 bocah laki-laki dan perempuan, Rabu (18/1) bercengkerama di dalam dua ruangan, yang masing-masing berukuran sekitar 3 meter x 3 meter. Anak-anak itu sebagian besar berasal dari keluarga nelayan. Ayah dan ibu mereka sibuk mencari penghasilan selama seharian.

Mereka diasuh tiga guru, Hotiah (34) yang juga sebagai kepala sekolah serta Eni Purniwati (33) dan Warnisari (22). Hari itu, sebagaimana hari-hari lain, mereka belajar sejak pukul 08.00 hingga pukul 10.30.

Apa yang tidak seperti hari-hari lain adalah jumlah murid yang belajar. Jika hari itu sekitar 10 orang bisa mengikuti pelajaran, hari berikutnya belum tentu.

”Kalau ada hujan dan badai, sekolah libur. Juga kalau ada air rob pasang dan banjir,” kata Hotiah. Ia mengatakan, saat ini tercatat ada 25 murid yang belajar di lembaga pendidikan anak usia dini tersebut.

Namun, sesungguhnya bukan itu alasan utama murid-murid yang tidak selalu lengkap jumlahnya, melainkan biaya sekolah itu yang dibayar harian, sebesar Rp 2.500.

”Kadang kala, jika ada murid tidak punya uang hari itu, mereka tidak sekolah. Padahal, kami sudah memberitahukan, jika memang tak ada uang pun bisa terus datang ke sekolah,” ujar Hotiah.

Sistem pembayaran itu diterapkan Hotiah berdasarkan pendapatan orangtua anak-anak tersebut yang diperoleh secara harian. Ketika memulai kelas pendidikan itu tahun 2007 dengan selembar karpet lusuh, Hotiah bersama suaminya, Eka Putra (42), hanya memungut biaya Rp 1.000 per hari. Lalu, biaya naik menjadi Rp 1.500, Rp 2.000, dan kini Rp 2.500 setiap harinya.

Biaya itu dipergunakan untuk menanggulangi pengeluaran operasional sekolah, yang menurut Hotiah mencapai Rp 1.000.000 setiap bulan, dan membayar iuran air, rekening listrik, serta gaji tenaga pengajar.

Selain itu, uang tersebut untuk membayar sewa rumah seharga Rp 3 juta per tahun. Lokasi rumah kontrakan pun sudah berpindah sejauh 50 meter dari rumah kontrakan lama.

”Sejak tahun 2008, kami pindah rumah kontrakan,” kata Hotiah. Kini, sebuah rumah kontrakan sederhana di Jalan Pari, Gang Lumba-lumba 22, Kelurahan Rimbo Kaluang, Kecamatan Padang Barat, dengan halaman seadanya dijadikan lokasi belajar.

Hotiah memulai pendidikan prasekolah dasar bagi anak-anak nelayan itu karena merasa sedih. Kenyataan bahwa kini ada semacam ”tes” bagi anak-anak yang hendak masuk sekolah dasar membuat dia gundah.

”Anak saya mengalaminya walaupun tes lisan seperti membaca,” kata Hotiah.

Tidak seperti anaknya, yang relatif beruntung karena masih bisa beroleh pengajaran dan persiapan pendidikan sebelum menempuh SD, tidak demikian dengan sebagian besar anak nelayan. Mereka cenderung bermain bebas begitu saja tanpa ada yang mengajari kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, yang diharapkan sebagian guru SD dikuasai terlebih dahulu oleh para calon murid mereka.

”Awalnya, ya, karena cinta kepada anak-anak dan hati kami yang teriris-iris saat berjalan-jalan di sekitar pantai dan melihat anak-anak itu,” kata Hotiah mengenang yang dia lakukan bersama suaminya. Dia lalu mengumpulkan anak-anak tersebut dan segera memulai pelajaran perdana.

Belakangan bantuan mulai berdatangan. Sejumlah donatur dan pemerintah tergerak membantu. Itu termasuk kemudahan pemberian izin operasional dari Dinas Pendidikan Kota Padang.

Kelas yang menampung murid dibagi dua. Kelompok Belajar bagi murid dengan rentang usia dua tahun hingga empat tahun. Sementara kelompok Pra Sekolah dikhususkan bagi murid berumur lima tahun hingga enam tahun.

Masyarakat pun merasakan hasilnya. ”Ya, sekarang cucu saya sudah mulai bisa mengeja tulisan dan membaca surat-surat pendek dalam kitab suci Al Quran. Saya tidak sempat mengajari dan tidak bisa juga,” kata Nenda.

Sehari-hari Nenda berdagang kelontong di rumahnya. Cucunya, Yola Pradipa (5), belajar di bawah asuhan Hotiah dan guru-guru lain sejak Juni 2011.

Kurikulum standar masih ditambah dengan pemahaman bagi murid-murid soal ancaman bencana gempa bumi dan kemungkinan tsunami. Itu mengingat permukiman padat itu persis berada di tepi pantai yang langsung menantang samudra.

Akan tetapi, Hotiah mengatakan, kesulitan utama yang kerap dialami guru adalah relatif tidak adanya kerja sama antara orangtua dan pelajaran yang sudah diberikan di sekolah. Materi pendidikan karakter yang diberikan terkadang menguap begitu saja dengan mudahnya setelah materi belajar di sekolah usai.

”Kadang-kadang anak-anak masih suka ikut bicara dengan kasar, mengikuti yang mereka lihat di lingkungan sekitar yang memang dekat pasar dan kesibukan nelayan di pantai,” tutur Hotiah.

(Ingki Rinaldi)

 


Editor : Lusia Kus Anna
Sumber: