Rabu, 3 September 2014

News / Edukasi

Kreatifitas Siswa

SMKN 2 Sungguminasa, Menggali Motif Khas Daerah

Senin, 25 Juni 2012 | 08:37 WIB
Luki Aulia dan Aswin Rizal Harahap

Kain dan busana batik bermotif dari Jawa membanjiri pasar di Kota Makassar dan Sulawesi Selatan. Prihatin karena tidak ada batik bermotif khas yang mewakili Makassar ataupun Sulawesi Selatan, guru dan siswa mulai menggali dan mengembangkan motif-motif khas daerah.

Memiliki identitas khusus yang menjadi ciri khas daerah menjadi penting. Apalagi jika ditorehkan pada kain yang akan menjadi salah satu warisan budaya. Makassar ataupun Sulawesi Selatan membutuhkan motif-motif khas yang dikenal secara nasional. Sejauh ini, ada dua motif khas yang ditemukan, yakni motif lontara (aksara tradisional masyarakat Bugis-Makassar) dan alat-alat kesenian tradisional.

Motif lokal, seperti aksara lontara, menurut Wakil Kepala Sekolah Bagian Kurikulum Abidin B, belum pernah digunakan sebelumnya. Padahal, motif itu bisa mewakili Sulsel karena empat etnis (Bugis, Mandar, Makassar, dan Toraja) menggunakan aksara itu. ”Yang ada selama ini hanya batik motif Toraja. Tetapi, Toraja belum bisa mewakili semua etnis di Sulsel. Kami punya faktor kesamaan di lontara,” ujarnya.

Untuk mempertahankan eksistensi Sulsel, setiap siswa, terutama di program keahlian kriya tekstil, didorong untuk memasukkan motif-motif lokal ke dalam desain mereka, baik itu desain batik modern atau tradisional, berbahan baku katun, maupun sutra. ”Bagian paling sulit bagi siswa sebenarnya mendesain batik motif Toraja. Bagian desain baru selesai dalam empat kali pertemuan. Kalau untuk mewarnai lebih cepat, satu hari bisa selesai,” kata guru kriya tekstil, Ratnawati.

Motif-motif lontara dan alat musik tradisional menghiasi kain aneka warna dan busana karya siswa yang dipajang di lemari kaca di ruang pamer sekolah. Agar motif lokal dikenal meluas, sekolah ini aktif mengikuti pameran, baik di kabupaten/kota, provinsi, maupun pusat. Hasilnya, hampir setiap bulan ada saja pesanan yang datang dari instansi pemerintah atau individu.

Sekolah kewalahan menerima banyak pesanan karena keterbatasan sumber daya manusia. Sekolah kerap meminta bantuan para lulusan. Untuk mengerjakan pesanan, biasanya siswa memanfaatkan waktu setelah jam sekolah.

Meski banyak pesanan, Abidin merasa batik khas Sulsel belum berkembang. Komitmen dan dukungan dari pemerintah daerah belum kuat. Jika ada kepedulian, motif-motif khas akan bermunculan seiring perkembangan industri batik. Contohnya di Papua dengan motif khas Jayapura. ”Pemerintah di sana memerintahkan pegawai untuk memakai batik mereka. Kalau di sini kan belum,” ujarnya.

Tak adanya kesadaran atau keengganan masyarakat menggunakan batik khas lokal dikhawatirkan akan mematikan kekayaan budaya setempat. Sekolah ini berharap besar kepada para lulusannya sehingga muncul generasi baru di industri kriya tekstil. Sayangnya, kata Abidin, tak banyak siswa mengembangkan batik setelah lulus. Selain modal dianggap harus besar, tak ada dukungan dari industri batik.

Tenun


Selain batik, dalam program keahlian kriya tekstil, siswa mempelajari tenun. Bagi Nur Indah Sari, siswa kelas X, menenun tidak mudah. Proses yang paling sulit adalah memasukkan benang ke dalam alat tenun yang terbuat dari kayu. Meski demikian, ia suka menenun dan sejak awal ingin belajar menenun. ”Saya ingin membuka usaha sendiri,” kata Nur.

Salah seorang guru tenun, Sutrisna, mengatakan, setiap tahun ada siswa yang keluar dari program keahlian ini karena tidak telaten. Untuk membuat kain tenun dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Sedikit saja tidak konsentrasi, siswa akan sering keliru memasukkan benang ke matagun. Hasilnya bisa fatal, bentuknya tidak beraturan. ”Kalau sudah jadi kain, baru terlihat salahnya. Dalam satu minggu, siswa mengerjakan tenunan tiga hari. Kelas XI sudah bisa buat kain tenun lebih besar,” katanya.

Selain syal, siswa terbiasa membuat kain tenun untuk hiasan dinding, pemisah ruangan, karpet, dan keset. Pengembangan tenun lebih diarahkan pada struktur, sedangkan batik pada motif-motif lokal.

Guru dan sekolah berharap pengusaha tekstil, terutama batik, mempunyai kesadaran bekerja sama membina siswa.

Agar tak bergantung pada industri dan untuk menaikkan nilai jual batik dan tenun, siswa kriya tekstil mempelajari mata pelajaran busana sebagai muatan lokal. Harapannya, siswa memiliki keterampilan mengolah tenun dan batik mulai dari hulu ke hilir. ”Harus bisa mengolah dari benang menjadi baju,” ujarnya.

Ikon pariwisata

Dari tahun ke tahun, program keahlian kriya tekstil menjadi jurusan favorit di sekolah yang membuka program keahlian kriya kulit, logam, keramik, dan desain komunikasi visual. Selain kriya, sekolah ini juga membuka program keahlian teknik las dan mekanik otomotif.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Manajemen Mutu Mansur Akili menjelaskan, sekolah yang dibangun tahun 1989 merupakan salah satu dari sekolah menengah industri kerajinan di Indonesia. Sekolah ini lahir dari Sekolah Menengah Karawitan Indonesia yang dikenal sebagai SMKN 1 Gowa dan ada dalam kompleks yang sama. Tahun 1983 muncul pemikiran perlunya membuat industri kerajinan dan ikon pariwisata Sulsel.

”Jadilah sekolah ini. Karena sulit mendapat lokasi yang cukup besar di Makassar, Pemerintah Gowa memberikan tanah ini. Prospeknya bagus karena pemerintah mendorong industri rumah tangga, terutama di bidang wisata. Sulsel ingin mencitrakan diri sebagai daerah tujuan wisata,” kata Mansur.

Ke depan, sekolah ini akan mengembangkan kriya kulit, program keahlian yang baru dibuka tahun 2009. Kendalanya, industri kriya kulit belum berkembang di Sulsel. Padahal, SMK yang memiliki kriya kulit amat jarang. ”Sayang bahan baku kulit dari sini dibawa ke Jawa. Kami harap industri ikut mendukung sehingga kita bisa tumbuh bersama,” ujarnya.

 


Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Sumber: