Senin, 21 April 2014

News / Edukasi

200 Remaja Pelajari Sistem Subak

Selasa, 26 Juni 2012 | 08:19 WIB

Baca juga

TABANAN, KOMPAS.com - Untuk kedua kalinya lembaga kursus bahasa Inggris English First (EF) kembali mengadakan kegiatan World Heritage Education Program. Bekerja sama dengan UNESCO, kali ini peserta diajak mempelajari sistem pengairan subak di Bali yang lolos ke dalam nominasi warisan dunia. Acara yang diadakan sejak 24-26 Juni 2012 itu diikuti oleh 280 peserta berusia 8-18 tahun dari berbagai cabang EF di seluruh Indonesia.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak melihat secara langsung sistem subak di Desa Jati Luwu, sekitar 25 km dari Kabupaten Tabanan, Bali. Country Director EF Indonesia, Arleta Darusalam, mengatakan selain belajar bahasa Inggris, murid-murid EF juga diajarkan untuk memiliki pemahaman akan keragaman budaya tanah air.

"Di tangan anak-anak ini ada tanggung jawab pelestarian budaya. Mengajak anak-anak belajar tentang budaya bisa menjadi promosi jangka panjang karena mereka mengalaminya secara nyata," katanya di sela acara.

Selain melihat langsung sistem subak, para peserta yang kebanyakan adalah anak-anak yang berasal dari kota itu juga diajak memanen padi organik menggunakan ani-ani. Mereka juga berbaur dengan penduduk Desa Jati Luwu untuk belajar gamelan dan tarian tradisional. Syntia (13), peserta dari Kediri mengaku senang mengikuti kegiatan ini sebagai pengisi liburan.

"Paling berkesan waktu panen padi karena ini baru pertama kali," ujarnya.

Masanori Nagaoka, Kepala Unit Budaya UNESCO kantor Jakarta, mengatakan, pentingnya melibatkan generasi muda dalam upaya pelestarian warisan budaya.

"Peran UNESCO dalam pelestarian budaya dan sejarah sangat terbatas. Peran utama justru ada pada masyarakat sekitar yang memiliki kebudayaan," katanya.

EF dan UNESCO memulai kerjasama mereka dalam pelaksanaan World Heritage Education tahun lalu di Jawa Tengah yang berfokus pada pelestarian budaya dan warisan Candi Borobudur.


Penulis: Lusia Kus Anna
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary