Sabtu, 19 April 2014

News /

Banjir dan Longsor di Ambon, Dua Tewas

Selasa, 17 Juli 2012 | 03:31 WIB

Baca juga

AMBON, KOMPAS - Banjir dan longsor di Ambon, Maluku, yang dipicu hujan deras sepanjang Minggu (15/7) hingga Senin (16/7) mengakibatkan dua orang tewas. Selain itu, longsor juga mengakibatkan belasan rumah rusak serta terputusnya ruas jalan dan jaringan air bersih bagi sekitar 3.000 warga.

Dua warga yang tewas adalah Sandy Bagon (25), warga Batu Merah, dan La Komeng (10), warga Wayame. Sandy tewas tersetrum saat sedang membantu tetangganya di Batu Merah yang terkena banjir.

Banjir diakibatkan meluapnya sungai yang melintas di permukiman padat penduduk, Senin dini hari. Banjir yang berulang kali terjadi setiap musim hujan itu baru surut Senin pagi.

Adapun La Komeng tewas tertimbun longsor dari bukit setinggi sekitar 10 meter di belakang rumahnya, Senin sekitar pukul 02.00 WIT. Tubuhnya ditemukan sekitar pukul 13.00 WIT setelah pencarian oleh TNI, polisi, tim SAR, dan warga.

Ani Budi (45), ibu La Komeng, mengaku, longsor terjadi saat mereka tidur lelap. ”Saya baru sadar saat hampir seluruh badan tertimbun longsor. Saya bisa keluar setelah dibantu warga,” katanya.

Longsor juga mengakibatkan dua warga di Batu Meja, Ambon, tertimbun setelah rumahnya terkena longsoran bukit. Namun, keduanya bisa diselamatkan warga. Mereka dilarikan ke rumah sakit karena luka berat.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon dan Komandan Kodim 1504 Pulau Ambon Letnan Kolonel JL Toruan, banjir terjadi di Hative Kecil, Jalan Baru, dan Batu Gajah. Senin pagi banjir di wilayah ini sudah surut.

Longsor terjadi pula di Batu Merah, Mangga Dua, Tantui di Kota Ambon, dan Liliboy, Maluku Tengah. Longsor membuat sedikitnya 14 rumah rusak.

Kepala Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika Ambon Erasmus Kayadu mengatakan, hujan berintensitas tinggi akan terus terjadi sampai September. Warga yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor harus waspada.

Sementara itu, hingga kini, mayoritas masyarakat Jawa Barat belum mendapatkan pelatihan intensif mitigasi bencana alam. Padahal, Jabar adalah daerah paling rawan bencana alam. ”Dari 43,8 juta penduduk Jabar, baru 1.400 mendapatkan pelatihan mitigasi bencana alam,” kata Dadang Abdulrahman, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Daerah Jabar, Senin. (APA/CHE)


Editor :