Senin, 24 November 2014

News /

Warga Alami Trauma

Minggu, 29 Juli 2012 | 02:54 WIB

INDRALAYA, KOMPAS - Aktivitas di empat desa di Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Sabtu (28/7), terhenti pasca- penembakan oleh polisi di Desa Limbang Jaya I, sehari sebelumnya. Warga trauma dengan peristiwa yang menewaskan seorang warga desa itu.

Warga yang tewas tertembak, dalam bentrokan antara warga dan polisi di Desa Limbang Jaya I dan II, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Jumat lalu, adalah Angga bin Dharmawan (12) (Kompas, 28/7). Empat warga lainnya terluka tembak. Konflik itu berlatar belakang perebutan lahan antara warga dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Cinta Manis.

Selain di Desa Limbang Jaya I dan II, suasana traumatis juga terjadi pada warga di Desa Tanjung Pinang I dan II. Warga tegang dan berkumpul di lokasi kematian Angga, yang tertembak di kepalanya. Polisi tak terlihat di desa itu. Polisi dan TNI berjaga di wilayah PTPN VII Cinta Manis, sekitar lima kilometer dari desa.

Sejumlah warga di empat desa itu, yang ditanyai Kompas, mengaku tak berangkat bekerja, Sabtu. Mereka melarang anak-anaknya ke sekolah pula. ”Kami takut keluar dari desa,” papar Eva Fadiah, warga Desa Limbang Jaya I. Hal yang sama disampaikan Kepala Desa Tanjung Pinang I Habibi.

Menurut Sobri, warga Desa Limbang Jaya I, yang terluka karena tembakan, mengakui, kejadian Jumat lalu amat menakutkan. Suara tembakan terdengar sekitar 30 menit. Anggota Polri berkeliling desa sambil mengacungkan senjata. ”Warga tidak melawan,” katanya.

Jenazah Angga, Sabtu, dimakamkan. Dharmawan, ayah Angga, mengaku tak tahu-menahu tuntutan terhadap lahan yang kini dikuasai PTPN VII Cinta Manis. Tuntutan disampaikan warga yang tergabung dalam Gerakan Petani Penesak Bersatu (GPPB). Ia bukan anggota GPPB.

Polisi membela diri

Pejabat Sementara Kepala Bidang Humas Polda Sumsel Djarod Padakova menjelaskan, tim yang terdiri atas 120 anggota Polri, Jumat, memasuki empat desa itu dalam rangka patroli dialogis. Polisi juga melakukan olah tempat kejadian terkait laporan hilangnya 127 ton pupuk PTPN VII Cinta Manis.

Polisi menembak, kata Djarot, karena membela diri dari serangan warga. Sejauh ini tak ditemukan peluru tajam sebab semua anggota kepolisian dibekali peluru karet.

Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ridha Saleh, meminta satuan Brimob Polri ditarik secepatnya dari lokasi PTPN VII Cinta Manis. Polisi menjadi aktor utama kekerasan yang menelan korban jiwa di lokasi tersebut. (ire/dik)


Editor :