Jumat, 25 April 2014

News / Edukasi

Mahasiswa UNY "Sulap" Minyak Jelantah Jadi Pembersih Lantai

Jumat, 3 Agustus 2012 | 09:18 WIB

Baca juga

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan Universitas Negeri Yogyakarta berhasil memanfaatkan limbah minyak goreng atau minyak jelantah untuk dijadikan pembersih lantai yang diberi nama Karbol Milan. Hal itu diungkapkan Koordinator Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Asri Novianti, di Yogyakarta, Kamis (2/8/2012).

"Proses produksi Karbol Milan dibagi menjadi tiga tahapan, yakni penjernihan minyak jelantah, pembuatan karbol, dan pengemasan produk," kata Asri.

Asri mengatakan, Karbol Milan diproduksi dalam beberapa varian aroma di antaranya jeruk nipis, apel, bougenvil, dan melati. Karbol Milan dikemas dengan botol plastik bening berukuran 600 mililiter disertai label produk dan petunjuk penggunaan.

"Karbol merupakan produk pembersih lantai yang banyak digunakan oleh masyarakat. Produk pembersih lantai merupakan kebutuhan bagi rumah tangga dan seluruh gedung instansi, lembaga atau pusat perbelanjaan," kata mahasiswa Program Studi Pendidikan IPA, Fakultas MIPA UNY itu.

Menurut Asri, gedung-gedung besar setiap hari membutuhkan karbol pembersih lantai dengan jumlah yang cukup banyak sehingga dibutuhkan anggaran yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pembersih lantai. 

"Namun, produk Karbol Milan yang memanfaatkan minyak jelantah memiliki harga yang lebih ekonomis dibandingkan karbol pada umumnya. Dengan demikian, kebutuhan pembersih lantai dapat tercukupi tanpa perlu menyediakan anggaran yang cukup besar," katanya.

Asri menjelaskan, Karbol Milan mempunyai kelebihan dibandingkan dengan produk karbol lain yang ada. Karbol Milan menggunakan bahan limbah minyak goreng sehingga harganya lebih terjangkau.

Dengan harga yang sangat ekonomis, kata dia, potensi Karbol Milan untuk diterima pasar sangat besar. Dengan kualitas yang tidak mengecewakan, tetapi lebih murah dari produk karbol lainnya.

"Saat ini konsumen sangat berhati-hati dalam membeli produk, dan harga merupakan faktor utama yang menjadi pertimbangan," kata Asri.

Minyak jelantah biasanya hanya dibuang oleh ibu rumah tangga dan warung makanan kaki lima yang menjajakan berbagai jenis makanan.

"Padahal, minyak jelantah merupakan jenis limbah yang cukup mencemari lingkungan karena sifatnya yang nonpolar, sehingga tidak bisa larut dalam air yang bersifat polar. Saat dibuang ke perairan  minyak jelantah sukar untuk hilang," ujar Asri.

Anggota Tim PKMK UNY yang berhasil memanfaatkan minyak jelantah untuk dijadikan pembersih lantai adalah Hasan Ashari, Nulat Panggayuh Mahardika, dan Wahana Cahya Wibawa.

 


Editor : Inggried Dwi Wedhaswary
Sumber: