Sabtu, 20 Desember 2014

News / Edukasi

Dirugikan UKG "Online", Guru Buat Pengaduan

Jumat, 3 Agustus 2012 | 14:21 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG) secara online yang semrawut, terutama akibat koneksi internet yang buruk, merugikan guru. Para guru yang merasa dirugikan membuat berita pengaduan kepada pengawas di lokasi ujian.

Nia Kurniawati, guru SMP Negeri 11 Bandung, Jawa Barat, Jumat (3/8/2012), mengatakan, dirinya membuat berita acara pengaduan kepada pengawas di lokasi ujian yang dihadirinya di SMP Negeri 52 Bandung. Pada saat UKG online mata pelajaran IPA Terpadu, sebanyak 28 soal yang ada gambar dan tabel tidak dapat dibuka di komputernya. "Saya merasa dirugikan karena tidak bisa mengerjakan 28 soal. Gambar/tabel yang menyertai soal tidak terbuka meskipun saya sudah tunggu lama," ujar Nia.

Selain itu, dalam soal UKG mata pelajaran IPA Terpadu, juga lebih banyak soal Fisika. "Saya berlatar belakang guru Biologi. Untuk Fisika ada guru lain yang mengajar. Saya cukup kesulitan mengerjakan yang Fiiska," kata Nia. Alhasil, dengan segala kendala teknis dan materi soal, Nia hanya mampu mencapai nilai 56. Batas minimal kelulusan 70.

"Saya bisa menerima kalau saya masih kurang kompetensinya. Kenyataannya memang begitu. Artinya, masih banyak yang perlu saya pelajari," ujar Nia. Namun, Nia menyayangkan hal teknis yang mengganggunya saat ujian. Ketika gambar/tabel tak muncul pada 28 soal di komputernya, Nia awalnya berniat mengosongkan jawaban. "Saya tidak mau menebak jawaban karena gamba/tabel di soal enggak keluar. Ternyata komputer tidak mau mengeluarkan nilai kelulusan kalau ada yang tidak dijawab. Pengawas bilang, isi asal saja supaya komputer bisa menghitung. Toh, tidak mengurangi nilai. Terpkasa saya isi asal-asalan meskipun soal tidak jelas akibat gambar/tabel yang enggak muncul," ujar Nia.

Keluhan serupa disampaikan Emanuel Sri Joko, guru Bahasa Inggris SMP swasta di Kota Bekasi, Jawa Barat. Dirinya terpaksa mengerjakan soal Bahasa Inggris untuk guru SMA ketika log in sesuai dengan nomor peserta ujian dan nomor unik pendidik tenaga kependidikan (NUPTK). "Akhirnya, enggak semua soal saya kerjakan. Gambar tidak keluar. Lay out soal jelek. Jadi pusing sendiri," kata Emanuel.

Menurut Emanuel, dirinya hanya mengerjakan 80 dari 100 soal. Alhasil, Emanuel tidak lulus. "Jika mutu soal UKG online seperti itu, banyak kesalahan, apa gunanya? Mending saya tidak usah ikut. Soalnya, guru dirugikan," kata Emanuel.


Penulis: Ester Lince Napitupulu
Editor : Rusdi Amral