Mimpi Andika Kuliah di PTN Terganjal Biaya Rp 4 Juta - Kompas.com

Mimpi Andika Kuliah di PTN Terganjal Biaya Rp 4 Juta

Indra Akuntono
Kompas.com - 08/08/2012, 10:38 WIB

DEPOK, KOMPAS.com — "...Tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi". Itu penggalan lirik dari lagu yang dinyanyikan Bondan Prakoso feat Fade2Black. Lagu ini tak hanya menjadi hits di kalangan anak-anak muda, mungkin juga menginspirasi.

Setidaknya, itulah yang diilhami oleh Andika Ramadhan Febriansah (19). Andika adalah seorang penjual peyek bayam. Akan tetapi, ia menyimpan sebuah mimpi besar: bisa melanjutkan pendidikan hingga ke pendidikan tinggi. Bagi Dika, tak ada yang mustahil dari sebuah mimpi. Namun, apa daya, ketika kenyataan membenturkannya pada persoalan biaya.

Dika, demikian ia biasa disapa, sebenarnya telah lulus dari SMA Master alias Masjid Terminal, sebuah sekolah di area terminal Depok yang dikelola oleh Yayasan Bina Mandiri pada tahun 2011. Seluruh siswa di sekolah ini adalah anak-anak jalanan atau dari keluarga miskin.

Tahun lalu, Dika sempat mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan ujian SIMAK Universitas Indonesia, tetapi gagal. Mimpinya untuk kuliah terganjal, dan ia sibuk membantu kegiatan belajar mengajar di Sekolah Master sebagai staf administrasi. Di kala luang, ia terjun ke jalanan sebagai penjual peyek bayam di sekitar Jalan Margonda Raya, Depok.

Tahun ini, ia kembali meniti mimpinya. Meski gagal di SNMPTN, tapi ia berhasil menembus ketatnya persaingan masuk Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui jalur ujian mandiri. Oleh UNJ, ia dinyatakan diterima di Fakultas Ilmu Sosial Jurusan Sejarah.

"Sekarang saya sudah diterima di kampus negeri, tapi ada masalah lain, yaitu biaya," ungkap Dika, saat ditemui Kompas.com, di Sekolah Master, Depok, Jawa Barat, Selasa (7/8/2012).

Anak bungsu dari tiga bersaudara ini mengatakan, setidaknya ia harus memenuhi kewajiban membayar biaya masuk hampir mencapai Rp 4 juta. Bagi dia dan keluarganya, sangat sulit mendapatkan uang sebesar itu, terlebih dalam waktu singkat. Penghasilannya dari berjualan peyek hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari. Tak berbeda jauh dengan penghasilan orangtuanya.

Tak lunasi, dinyatakan mundur

Dika akan dinyatakan mengundurkan diri oleh pihak kampus, jika sampai tanggal 11 Agustus belum melunasi biaya tersebut.

Menurut Dika, ia dan keluarganya telah berusaha mencari dana untuk menutupi biaya masuk tersebut. Salah satunya menghubungi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNJ untuk didampingi memperoleh beasiswa Bidik Misi. Akan tetapi, semuanya belum membuahkan hasil. Apalagi, Dika masuk melalui jalur ujian mandiri.

"Peluang mendapat Bidik Misi sangat kecil soalnya saya masuk dari jalur mandiri. Ditawari pinjaman dari advokasi UNJ, tapi saya takut enggak bisa melunasi tunggakannya," ucap Dika.

Sekarang, Dika yang bercita-cita ingin menjadi politikus ini hanya bisa berharap, menunggu bantuan dan keajaiban Tuhan. Ia bersiap mengobati rasa kecewa dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk: melewatkan kesempatan studi di kampus negeri. Gagal kuliah karena alasan ketidakmampuan finansial.

"Mudah-mudahan saya diberikan peluang. Saya siap kalau perlu diadu otak, jangan cuma finansial, tapi juga akademis," ujar Dika.

PenulisIndra Akuntono
EditorInggried Dwi Wedhaswary
Komentar

Terkini Lainnya