Kamis, 2 Oktober 2014

News /

SMKN 7 PALANGKARAYA

Jago Mengolah Lahan Pertanian

Senin, 27 Agustus 2012 | 05:15 WIB

Oleh  Ester Lince Napitupulu

Kehadiran SMKN 7 Palangkaraya yang memiliki program keahlian pertanian terbilang masih baru, sekitar enam tahun. Namun, keberadaan sekolah kejuruan ini mampu memberi warna baru bagi petani di sekitar Palangkaraya.

Berlokasi di antara area transmigrasi di Kelurahan Kalampangan, Sabangau, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sekolah ini bermitra dengan para petani setempat. Umumnya siswa yang bersekolah di SMKN 7 Palangkaraya ini memiliki orangtua yang bekerja di sektor pertanian, terutama sayur-mayur.

”Sekolah pertaniannya berdasarkan teori-teori, sedangkan petani berdasarkan pengalaman langsung,” kata Satriawan, Kepala SMKN 7 Palangkaraya. ”Dengan kemitraan, kami bisa saling mengisi. Siswa mendapat pengalaman, sedangkan petani mendapat semacam teori pertanian,” ujarnya.

Meskipun sarana dan prasarana di SMKN 7 Palangkaraya masih terbatas karena merupakan pengembangan dari SMKN Kecil 1 sejak 2006, kehadiran sekolah ini mampu memberi inspirasi pengembangan pertanian. Pemerintah setempat mulai melirik potensi sekolah menengah pertanian ini untuk bisa mengembangkan potensi pertanian yang bisa diterapkan di lahan gambut.

Potensi yang dilirik sekolah ini adalah mengembangkan kemampuan siswa untuk bisa menyediakan bibit berbagai tanaman yang dibutuhkan para petani. Para petani umumnya menanam sayur-mayur, seperti pare, kacang panjang, gambas, bayam, dan daun bawang.

Selain mengembangkan pembibitan sayur-mayur, sekolah juga memperkenalkan budidaya tanaman buah naga dan bunga rosela. Kedua tanaman ini belum terlalu dikenal di Palangkaraya. Kalaupun ada, tanaman itu didatangkan dari Jawa.

Budidaya buah naga dan rosela dilakukan di lahan sekolah yang menjadi tempat praktik pertanian para siswa.

Produk unggulan

Dari hasil uji coba sekolah, ternyata budidaya tanaman bunga rosela (Hibiscus sabdariffa) sangat cocok di lahan gambut yang kandungan air dan asamnya cukup tinggi.

Ketebalan gambut di sekitar Kalampangan bisa mencapai 15 meter. Sebelum ditanam, lahan gambut diolah dengan cara dibakar dan diberi kapur, lalu dipupuk. Hasil panen bunga rosela cukup bagus sehingga dapat memberikan keuntungan lumayan. Tanaman sudah bisa dipanen saat berumur tiga bulan hingga sembilan bulan.

Tanaman rosela pun jadi produk unggulan SMKN 7 Palangkaraya. Dalam sejumlah pameran hingga tingkat provinsi, produk rosela SMKN 7 Palangkaraya menarik perhatian dan banyak dibeli. Tidak cuma bibit tanaman, produk olahan, seperti sirup dan teh rosela, juga selalu laris manis.

”Tadinya rosela tidak terlalu dikenal petani dan masyarakat. Setelah kami kenalkan sebagai produk unggulan, mulai dilirik masyarakat,” kata Thesdly Leo Tamara Timbung, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 7 Palangkaraya.

Menurut Leo, sekolah meminjam lahan milik kelurahan seluas 0,5 hektar untuk menambah tanaman rosela. Dengan demikian, produksi rosela dari sekolah ini, mulai pembibitan hingga pengolahan, seperti sirup dan teh, bisa berjalan rutin.

Dari satu barisan yang berisi 100 batang tanaman rosela bisa dihasilkan sekitar 100 kilogram. Sekolah menyediakan bibit tanaman rosela dalam polybag. Yang berukuran kecil dijual seharga Rp 35.000. Adapun yang berukuran besar dan berbunga seharga Rp 50.000 per polybag.

Sekolah juga membuat sirup rosela yang dijual saat pameran. Adapun kelopak bunga rosela yang dikeringkan cocok dibuat teh. Kelopak bunga rosela yang kering dikemas dalam plastik berisi 10 kelopak dan dijual Rp 10.000.

Pupuk organik

Setelah berhasil dalam pengembangan produk unggulan pembibitan tanaman, termasuk mengenalkan budidaya buah naga dan rosela di lahan gambut, sekolah mengembangkan produk unggulan baru, yakni pupuk organik. Sekolah mendapatkan mesin pengolah kompos dari Balai Pertanian Kalimantan Tengah.

Bahan kompos didapat dari sisa-sisa hasil pertanian di lahan sekolah. Untuk penjualan, sekolah juga bekerja sama dengan salah satu koperasi penjual tanaman bunga.

Produksi kompos di sekolah bisa mencapai 250 pak. Harga jualnya Rp 10.000 per pak dan sudah diminati para petani.

Sebagai sekolah pertanian andalan di Palangkaraya, prestasi sekolah ini terus meningkat, bahkan di tingkat nasional masuk 20 besar. Pada September nanti ada siswa SMKN 7 Palangkaraya yang terpilih untuk ikut ajang lomba peneliti belia tingkat SMP dan SMA/SMK se-Indonesia.

Satriawan mengatakan, pengembangan sekolah masih terus dilakukan, termasuk kebutuhan sekolah dalam menyediakan asrama untuk menampung para siswa yang lokasi rumahnya jauh dari sekolah.

Marlock, Koordinator Forum Peduli Pendidikan Pelatihan Menengah Kejuruan Indonesia, mengungkapkan, pengembangan sekolah pertanian di daerah sangat dibutuhkan. Dengan penyediaan lulusan SMK pertanian yang terampil dan kreatif serta mampu berwirausaha, potensi pertanian di Kalimantan bisa berkembang.

”Jangan lagi mengandalkan daerah lain untuk produksi pertanian. Justru Kalimantan harus bisa menyuplai produk pertanian,” ujar Marlock.

Siun Jarias, Sekretaris Daerah Kalimantan Tengah, menyatakan, pengembangan pertanian, termasuk lewat pendidikan di SMK pertanian, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di Kalimantan Tengah, khususnya, pemerintah masih menghadapi kesulitan memberdayakan masyarakat asli atau adat yang masih mengandalkan pertanian dengan sistem ladang berpindah.


Editor :