Psikolog: Tawuran Akibat Sekolah Tak Tanamkan Empati - Kompas.com

Psikolog: Tawuran Akibat Sekolah Tak Tanamkan Empati

Kompas.com - 28/09/2012, 21:47 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com - Psikolog Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Ferdinand Hindiarto menilai maraknya tawuran pelajar akibat pendidikan di sekolah yang tak menanamkan empati pada siswa.

"Kurikulum pendidikan sekarang ini hampir tidak memberi porsi penanaman empati, rasa, dan pengolahan hati di kalangan siswa. Semua cenderung mementingkan aspek akademik," katanya, di Semarang, Jumat (28/9/2012).

Menurut dia, penanaman empati kepada kalangan siswa sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan rasa saling menghormati, saling memahami, dan saling menyayangi, tetapi sayangnya porsinya dalam kurikulum minim.

Kalaupun ada penanaman empati, kata dia, cenderung diberikan sebatas pengetahuan yang tentu tidak akan efektif, sebab empati berkaitan dengan rasa yang harus ditanamkan, bukan hanya sekadar diajarkan.

Ia mengungkapkan cara menumbuhkan empati di kalangan siswa banyak sekali, misalnya program live in yang mengharuskan siswa tinggal sementara dan membaur dengan kalangan masyarakat kurang beruntung.

"Bisa pula dengan mengajak melihat kehidupan anak jalanan, pengamen, atau menjenguk temannya yang sakit. Di situlah empati akan muncul, merasakan penderitaan orang lain, sulitnya mencari uang," katanya.

Tidak adanya empati di kalangan siswa yang sedemikian parah, kata dia, ditunjukkan dengan pengakuan salah satu pelaku tawuran yang mengaku puas setelah membunuh, saat ditanya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

"Ini sangat parah, sudah tidak ada lagi perasaan. Penyelesaian secara hukum perlu, tetapi kan sifatnya jangka pendek, untuk penyelesaian jangka panjang ya kurikulum pendidikan harus dibenahi," katanya.

Ferdinand mengakui anak-anak sekarang ini memikul beban yang berat karena pembelajaran sekolah yang terus menggelontor materi-materi akademis, di sisi lain mereka juga sedang mencari bentuk konsep diri.

Padahal, kata dia, pencarian bentuk konsep diri bagi anak usia remaja bukanlah hal yang gampang, namun memerlukan banyak bimbingan dan panduan, baik dari orang tua, keluarga, dan guru-guru di sekolah.

"Mereka (remaja, red.) butuh berekspresi dan beraktualisasi dalam pencarian konsep diri. Namun, banyak sekolah tidak menyediakan ruang untuk itu. Akhirnya, mereka menyalurkannya lewat tawuran," katanya.

Pada saat yang sama, kata dia, masyarakat dan lingkungan juga tidak mendukung dalam pencarian konsep diri, seperti aksi kekerasan di masyarakat yang disuguhkan sebagai pemandangan sehari-hari bagi kalangan remaja.

"Demonstrasi ricuh, sweeping berujung bentrok. Ini kan pemandangan sehari-hari yang disuguhkan, akhirnya mereka (remaja, red.) menganggap kekerasan seolah-olah boleh. Kekerasan jadi solusi," katanya.

Berita lain terkait tawuran pelajar di Jakarta dapat diikuti di topik: Tawuran Berdarah.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorBenny N Joewono
    Komentar

    Terkini Lainnya

    Aris Wahyudi akan Dijerat Pasal Pornografi dan Perdagangan Orang

    Aris Wahyudi akan Dijerat Pasal Pornografi dan Perdagangan Orang

    Megapolitan
    Wiranto Minta Polemik Pembelian 5.000 Senjata Ditutup

    Wiranto Minta Polemik Pembelian 5.000 Senjata Ditutup

    Nasional
    Napi Narkoba Kabur Saat Hujan Deras dan Mati Listrik di Lapas Parepare

    Napi Narkoba Kabur Saat Hujan Deras dan Mati Listrik di Lapas Parepare

    Regional
    Beban Kerja dan Penyerapan Anggaran Tiap SKPD Berbeda, DPRD DKI Usul Skema TKD Dirombak

    Beban Kerja dan Penyerapan Anggaran Tiap SKPD Berbeda, DPRD DKI Usul Skema TKD Dirombak

    Megapolitan
    Poltracking: Elektabilitas Nurdin Halid-Aziz Tertinggi Jelang Pilgub Sulsel

    Poltracking: Elektabilitas Nurdin Halid-Aziz Tertinggi Jelang Pilgub Sulsel

    Regional
    TNI AU Tak Bermaksud Sanggah Pernyataan Panglima Soal Senjata Ilegal

    TNI AU Tak Bermaksud Sanggah Pernyataan Panglima Soal Senjata Ilegal

    Nasional
    Luruskan Pernyataan Panglima, Wiranto Sebut 500 Pucuk Senjata untuk Pendidikan BIN

    Luruskan Pernyataan Panglima, Wiranto Sebut 500 Pucuk Senjata untuk Pendidikan BIN

    Nasional
    Start dari Urutan Ke-5, Marquez Juarai Balapan GP Aragon

    Start dari Urutan Ke-5, Marquez Juarai Balapan GP Aragon

    Olahraga
    Sejak Pertama Kali Diluncurkan, Nikahsirri.com Dapat 2.700 Klien

    Sejak Pertama Kali Diluncurkan, Nikahsirri.com Dapat 2.700 Klien

    Megapolitan
    Survei Pilkada Jatim: Pemilih 'Cuek' ke Khofifah, yang 'Galau' ke Gus Ipul

    Survei Pilkada Jatim: Pemilih "Cuek" ke Khofifah, yang "Galau" ke Gus Ipul

    Regional
    Begini Modus Operasi Dugaan Pornografi di Situs Nikahsirri.com

    Begini Modus Operasi Dugaan Pornografi di Situs Nikahsirri.com

    Megapolitan
    Kadis Perumahan DKI: Kalau Dia Membubarkan Ibadah Lagi, Keluarkan dari Rusun

    Kadis Perumahan DKI: Kalau Dia Membubarkan Ibadah Lagi, Keluarkan dari Rusun

    Megapolitan
    Panjat Tembok, Napi Narkoba Kabur dari Lapas Kelas II Kota Parepare

    Panjat Tembok, Napi Narkoba Kabur dari Lapas Kelas II Kota Parepare

    Regional
    Diduga Tidak Bisa Berenang, Santri Cilik Tewas Tenggelam

    Diduga Tidak Bisa Berenang, Santri Cilik Tewas Tenggelam

    Regional
    Daftar Juara Jepang Terbuka 2017, Indonesia Raih Satu Gelar

    Daftar Juara Jepang Terbuka 2017, Indonesia Raih Satu Gelar

    Olahraga


    Close Ads X
    Close [X]
    Radio Live Streaming
    Sonora FM • Motion FM • Smart FM