Jumat, 24 Oktober 2014

News / Internasional

TIMUR TENGAH

Konflik Iran-Israel, dari Gaza hingga Sudan

Kamis, 1 November 2012 | 08:17 WIB

Terkait

MEDIA massa Israel melihat eskalasi kekerasan antara Israel dan milisi Palestina di Jalur Gaza pekan ini dan gempuran pesawat tempur Israel atas pabrik amunisi Sudan di distrik Yarmouk dekat kota Khartoum, 24 Oktober, adalah dua peristiwa yang berkaitan dan bagian dari perang tidak langsung melawan Iran. Situs Deepika Israel, Senin (29/10), menyebutkan, tindakan Hamas menembakkan rudal Grad ke arah reaktor nuklir Israel di Dimona, Gurun Negev, merupakan instruksi dari Iran dan Sudan sebagai balasan atas gempuran Israel terhadap pabrik amunisi dan senjata Sudan di distrik Yarmouk itu.

Menurut harian Inggris Sunday Times, Israel telah merancang serangan atas pabrik amunisi Sudan di Yarmouk itu sejak dua tahun lalu. Dalam operasi tersebut, Israel menggunakan delapan pesawat tempur F15. Keputusan serangan itu diambil pimpinan politik dan militer Israel setelah dinas intelijen luar negeri Israel, Mossad, menemukan dokumen rahasia tentang adanya pabrik amunisi di Sudan yang didanai Iran. Dokumen itu ditemukan di koper tokoh Hamas, Mohamed el Mabhouh, yang dibunuh Mossad di Dubai tahun 2010.

Dalam dokumen itu dijelaskan kesepakatan pertahanan bersama Iran-Sudan yang ditandatangani tahun 2008. Dalam kesepakatan itu disebutkan, Iran akan memproduksi senjata di Sudan di bawah kontrol pengawal revolusi Iran. Di antara senjata yang akan diproduksi di pabrik senjata di Yarmouk itu adalah rudal balistik jarak jauh tipe Shahab dan rudal canggih lainnya. Amunisi dan senjata yang diproduksi di Yarmouk itu sering dikirim ke sejumlah milisi bersenjata Palestina di Jalur Gaza dan Hezbollah di Lebanon.

Pemerintah Sudan secara tegas menuduh Israel melakukan serangan atas pabrik amunisi dan senjata di distrik Yarmouk. Menteri Penerangan Sudan Ahmed Bilal, dalam temu pers Rabu pekan lalu di Khartoum, mengungkapkan, empat pesawat tempur Israel yang datang dari arah timur telah menggempur pabrik amunisi dan senjata di distrik Yarmouk pada Rabu dini hari.

Israel belakangan ini semakin geram atas manuver Iran yang dinilai kian mengancam keamanan Israel, baik melalui Hezbollah di Lebanon maupun Hamas di Jalur Gaza.

Selain isu nuklir Iran, Israel saat ini juga dibuat sewot oleh kemampuan Iran mengirim pesawat tanpa awak masuk wilayah Israel. Seorang pejabat senior Iran, seperti dikutip kantor berita AP, 16 Oktober lalu, mengungkapkan, pesawat nirawak milik Iran sering masuk wilayah Israel dari arah Lebanon untuk mengintai sistem pertahanan udara dan pengumpulan data.

Pada awal Oktober lalu, Israel berhasil menembak jatuh pesawat tanpa awak tak dikenal di atas wilayah udaranya. Hezbollah kemudian mengklaim, pesawat tanpa awak yang ditembak jatuh Israel itu adalah miliknya. Iran kini mengklaim pula telah memiliki data pangkalan militer Israel dari potret yang diambil pesawat tanpa awak itu.

Israel sering menuduh pula bahwa Iran berada di balik terus berkembangnya kemampuan militer Hamas di Jalur Gaza. Pesawat tempur Israel Senin dini hari lalu kembali menggempur sejumlah sasaran di Jalur Gaza. Sehari sebelumnya, pesawat tempur Israel menggempur sejumlah sasaran di Jalur Gaza yang menewaskan seorang anggota milisi Hamas dan melukai seorang lainnya.

Mesir sempat berhasil menjadi mediator dalam mencapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas setelah Selasa pekan lalu, pesawat tempur Israel menggempur beberapa sasaran di Jalur Gaza yang menewaskan empat anggota milisi Hamas dan melukai beberapa lainnya. Namun, gencatan senjata itu hanya bertahan selama tiga hari. (Musthafa Abd Rahman, dari Kairo, Mesir)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: