Sabtu, 1 November 2014

News / Edukasi

Sebarkan Energi Positif untuk Anak-anak

Selasa, 13 November 2012 | 12:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan terus berkembang. Menurut Master Training Parenting Menebar Energi Positif Yusron Aminullah, cara mendidik anak dari zaman ke zaman tidak akan pernah sama. Orangtua harus dinamis dalam memenuhi kebutuhan dasar seorang anak dan membekali dirinya dalam menghadapi masa depan.

"Anak-anak sekarang adalah milik zaman ini. Orangtua harus menyadari itu, bahwa setiap zaman, anak-anak kita akan sangat berbeda, maka mendidik anak yang baik pun harus sesuai dengan zaman mereka," ucap Yusron dalam Workshop Parenting di Festival Taman Bacaan Nasional, Kemdikbud, Jakarta, awal November lalu.

Dia menjelaskan, saat ini ada beberapa anak yang di usia mudanya sudah memiliki kematangan berpikir yang baik. Mereka memiliki daya tangkap penerimaan informasi yang cepat, memiliki pengamatan yang tajam, daya pikir yang lebih kritis serta daya ingat yang lebih kuat dari para orangtuanya.

"Jadi kalau ada orangtua yang merasa lebih pintar dari anaknya, itu salah sekali. Anak-anak bisa lebih pintar sehingga tidak selamanya lagi para orangtua yang memberi tahu anak-anak mereka. Karenanya, orangtua harus bersedia sharing, membagi dan menerima sesuatu dengan anak-anaknya," tutur Yusron lagi.

Meski kondisi yang terjadi demikian, Yusron mengatakan orangtua tetap bisa menunjang kematangan berfikir anak-anaknya, yaitu dengan berbagi pengalaman hidup serta mengolah kematangan emosional mereka.

"Kurangi berbicara 'kepada', melainkan perbanyak bicara 'dengan' anak-anak. Mengapa? Sebab, berbicara kepada itu lebih mengarah ke komunikasi satu arah yang hanya mengedepankan logika, sedangkan berbicara dua arah, berarti menggunakan hati kita. Itulah energi positif yang harus disebarkan kepada mereka, anak-anak kita. Komunikasi yang memadai, komunikasi dua arah," tegasnya lagi.

Energi positif yang dimaksudkan, lanjut Yusron adalah energi yang sering dipancarkan dari tubuh kita, nilainya tidak akan pernah berubah, sebab energi bersifat kekal.

"Nah energi ini, selalu ada dalam tubuh kita. Kalau yang kita pancarkan dari tubuh kita adalah energi positif, maka yang akan kembali adalah energi positif, demikian sebaliknya," ujar Yusron lagi.

Lebih jelas, menebar energi positif sesungguhnya selalu dianjurkan setiap agama. Pelajaran soal ringan tangan (beramal), rajin bekerja, berprasangka baik, membagi kasih, sampai yang paling sederhana, dan membagi senyum selalu disiarkan oleh setiap agama.

"Yang perlu kita lakukan adalah memelihara energi itu agar tetap memancarkan nilai positif. Caranya selalu ikhlas, dan merespon segala hal dengan positif," katanya.

Selain itu, untuk menyesuaikan diri dengan kondisi anak-anak. Orangtua sudah harus berlatih menyamakan tingkat frekuensi dengan banyak orang.

"Menyesuaikan diri itu seperti mengusahan untuk ada dalam satu gelombang. Seperti radio, kalau tidak satu gelombang, maka kejernihan hati kita akan berkurang, bahkan tidak nyambung," ucap Yusron lagi.

Untuk itu orangtua senantia rela dan ikhlas, serta mau untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mehamami posisi diri serta menghapus halangan dalam diri.

"Orangtua mesti terbuka, jangan merasa hebat sendiri. Latih komunikasi yang baik dengan anak-anak kita dengan memilih kalimat yang tepat yang lebih bijak, halus lembut, dan dengan kasih sayang. Anak-anak dilatih kepekaannya untuk tidak mendengarkan yang keras-keras akan mengasah emosional mereka ke arah yang positif," terangnya.

Budayakan menulis

Dalam melatih kepekaan emosi anak, Yusron juga menganjurkan orangtua dan anak untuk membudayakan tulisan di lingkungan keluarga. Menurutnya, tulisan adalah kepanjangan dari lisan. Lisan kepanjangan dari hati. Tulisan yang dilandasi hati walaupun mengkritik, kritiknya bukan untuk menjatuhkan tapi membangun. Karena di dalamnya bukan hanya kritik melainkan juga solusi.

"Jadi budayakan menulis di rumah, menulis apa saja. Menulis laporan kegiatan harian mereka dengan bahasa mereka sendiri. Sebab menulis ini akan melatih kepekaan indra anak," ujarnya lagi.

Dalam suatu waktu, orangtua boleh mengajak anak untuk melihat fenomena sekelilingnya, atau mengajak anak menyampaikan kritik dalam tulisan tetapi dimulai dari lingkungan keluarga sendiri.

"Misal kita ajak anak-anak ke panti asuhan, anak jalanan, kondisi kemiskinan, atau mengkritik ayah dan ibunya sendiri. Tapi menulisnya tidak dipaksa, dalam waktu-waktu longgar saja. Seperti di akhir pekan orangtua dan anak berjalan-jalan bersama, maka ajak anak untuk menulis dan memerhatikan sekelilingnya sehingga disampaikannya dalam kata-kata," kata Yusron lagi.


Penulis: Ali Sobri
Editor : Caroline Damanik