Jumat, 28 November 2014

News / Edukasi

Dewan Pendidikan: Tinjau Penghapusan Bahasa Inggris

Jumat, 23 November 2012 | 22:21 WIB

DENPASAR, KOMPAS.com - Dewan Pendidikan Kota Denpasar meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meninjau kembali rencana penghapusan pelajaran bahasa Inggris dari kurikulum pendidikan sekolah dasar (SD).

"Pemikiran mundur jika pelajaran bahasa Inggris jadi dihapus di tengah era persaingan global saat ini. Kalau dipandang menjadi beban bagi murid SD, semestinya bisa diatur pemberian pelajarannya dipindah ke kelas yang lebih tinggi, misalnya dimulai dari kelas IV," kata Ketua Dewan Pendidikan Kota Denpasar DR Putu Rumawan Salain di Denpasar, Jumat (23/11/2012).

Menurut dia, bukan berarti dengan siswa menguasai bahasa Inggris mereka akan kehilangan karakter ke-Indonesiaannya.

"Apalagi di Bali yang menjadi jendelanya pariwisata dunia sudah menjadi keharusan masyarakat di sini sejak dini mahir berbahasa asing, khususnya bahasa Inggris," kata staf pengajar di Universitas Udayana (Unud) Denpasar itu.

Pelajaran bahasa Inggris, lanjut dia, juga dapat dimasukkan menjadi muatan lokal atau ekstrakurikuler. Intinya tidak tepat kalau dihapus sama sekali.

"Saya setuju adanya perubahan kurikulum dan memang harus dievaluasi secara berkala. Tetapi, pemerintah jangan main potong atau hapus pelajaran yang sudah ada," ujarnya.

Kurikulum yang baik, ucap dia, adalah yang dapat membawa siswa siap menghadapi cepatnya perubahan, namun tak mengesampingkan nilai-nilai kearifan lokal.

"Siswa jangan diposisikan sebagai objek, harus mendapatkan nilai begini dan begitu. Menurut saya, pendidikan yang baik adalah yang mampu menjawab tantangan zaman," ucapnya.

Rumawan mengharapkan pemerintah jangan "kebakaran jenggot" mengubah kurikulum secara drastis setelah beberapa waktu terakhir marak terjadi tawuran pelajar.

"Jika pada daerah seperti Bali yang sudah siap, namun pelajaran bahasa Inggrisnya malah dihapus, sama artinya memundurkan daya saing generasi muda kita," ucapnya.

Untuk daerah-daerah terpencil yang belum memiliki guru bahasa Inggris, kata dia, itu yang seharusnya dilengkapi tenaga guru maupun sarana prasarananya.


Editor : Benny N Joewono
Sumber: