Sabtu, 25 Maret 2017

Edukasi

Skenario Menyiapkan Guru Jelang Kurikulum Baru

Rabu, 5 Desember 2012 | 12:26 WIB

Bogor, KOMPAS.com - Meski masih memasuki tahapan uji publik, implementasi kurikulum selalu menjadi bagian yang paling dipertanyakan oleh banyak pihak. Berbicara mengenai implementasi, tidak akan lepas dari kesiapan guru dan langkah pemerintah dalam memberikan pelatihan yang tepat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menjelaskan bahwa skenario awal implementasi kurikulum ini secara bertahap. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, kurikulum baru pada Juni 2013 hanya akan diberlakukan pada kelas I, IV, VII dan X untuk seluruh sekolah yang ada di Indonesia atau hanya sebagian sekolah saja.

"Nanti dilihat hasil uji publiknya. Tapi implementasi bertahap ini juga pertimbangannya masalah guru dan mempersiapkannya," kata Nuh seusai acara Puncak Peringatan Hari Guru Nasional 2012 dan HUT Ke-67 PGRI di Sentul International Convention Centre, Bogor, Selasa (4/12/2012).

Ia menjelaskan bahwa dengan menggunakan pilihan kelas dalam implementasi kurikulum ini, pelatihan guru untuk tahap awal tidak perlu melibatkan 2,9 juta guru yang ada di seluruh Indonesia. Hanya guru yang mengajar di kelas-kelas pilihan tersebut yang diprioritaskan untuk menjalani pelatihan selama enam bulan sebelum Juni 2013.

"Jadi dahulukan guru kelas I, IV, VII dan X. Misal untuk guru SD berarti hanya guru kelas I dan IV, itu tidak perlu 1,6 juta dilatih semua saat itu," jelas Nuh.

"Paling nggak kalau dihitung hanya sekitar 350.000 guru yang perlu dilatih. Kalau masih segitu masih manageable," imbuhnya.

Kemudian sistemnya juga akan dilakukan secara bertingkat misalnya guru yang dilatih awalnya 100 orang, maka bagi nantinya 100 orang ini akan menyalurkan ilmu yang didapat masing-masing kepada guru lain. Namun dengan syarat guru-guru tersebut harus kompeten dalam bidangnya.

"Jadi seperti model multilevel saja. Untuk guru yang kompeten ini bisa dilihat dari UKG. Nanti kita ajak juga PGRI dan LPTK. Jadi jangan ditunda kurikulum ini, kasihan anak-anak kita kehilangan kesempatan," tandasnya.

Penulis: Riana Afifah
Editor : Caroline Damanik