Kamis, 31 Juli 2014

News / Edukasi

Uji Publik Kurikulum 2013 Cuma "Bohong-bohongan"

Kamis, 6 Desember 2012 | 00:00 WIB

Berita terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski uji publik pengembangan kurikulum baru tengah dijalankan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) telah memulai langkah untuk merumuskan modul dan silabus yang akan digunakan pada kurikulum baru. Lalu apa tujuan uji publik yang saat ini tengah berjalan?

Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Coruption Watch (ICW), Febri Hendri, mengatakan bahwa uji publik yang saat ini dilakukan oleh pemerintah hanya bentuk legitimasi. Sebab, pada faktanya, pemerintah sudah mulai menyusun modul terkait kurikulum baru di Cisarua sejak dua hari lalu.

"Kalau begitu, buat apa ada anggaran untuk uji publik. Uji publik ini jadinya hanya uji bohong-bohongan saja," kata Febri saat jumpa pers di kantor ICW, Jalan Kalibata Timur, Jakarta, Rabu (5/12/2012).

Dalam kesempatan yang sama, anggota dari Persekutuan Gereja Indonesia (PGI), Jeirry Sumampow, mengatakan bahwa tidak ada kesempatan untuk tanya jawab saat pembukaan uji publik yang berlangsung di Hotel Mega Anggrek beberapa waktu lalu. Padahal, dirinya yang saat itu mendapat undangan berharap ada dialog yang terjadi agar jelas duduk perkara perubahan kurikulum ini.

"Yang terjadi tidak ada dialog bahkan pakar pendidikan seperti Pak Tilaar diminta naik ke panggung untuk launching," ujar Jeirry.

"Dari sisi proses ini jelas ada keganjilan dan cenderung dipaksakan. Tidak dibuka sesi tanya jawab, sudah langsung di-launching saja. Harusnya kan setelah paparan, ada kesempatan untuk dialog," imbuh Jeirry.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh sempat ditanya mengenai penyusunan silabus yang dilakukan saat uji publik tengah berlangsung. Ia menjawab bahwa sebenarnya sudah ada gambaran mengenai kurikulum yang berlaku tahun depan sehingga tidak perlu menunggu waktu lagi.

"Gambarannya ini sudah ada. Jadi disiapkan nanti kalau A gimana, kalau B gimana. Dilihat dari uji publik juga," jelas Nuh.

"Kalau kita bekerjanya urutan begitu lama. Jadi sambil ini uji publik, kami mulai siapkan saja. Saat uji publik dan evaluasi selesai, ternyata yang ini yang dipakai, silabusnya sudah siap," tandasnya.


Penulis: Riana Afifah
Editor : Caroline Damanik