Jumat, 1 Agustus 2014

News / Edukasi

Peluang Beasiswa Kuliah ke Jerman Tidak Terserap Maksimal

Rabu, 12 Desember 2012 | 16:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Peluang masyarakat Indonesia untuk mendapatkan beasiswa kuliah di jenjang doktor ke Jerman cukup besar. Sayangnya, kuota yang disediakan Pemerintah Jerman tersebut tidak terserap maksimal di Indonesia.

Dalam upaya membantu masyarakat Indonesia untuk siap kuliah doktor di Jerman, Ikatan Ahli Sarjana Indonesia Jerman (IASI) menawarkan program pelatihan studi S-3 ke Jerman.

Adam Pamma, Ketua Umum IASI, dalam siaran persnya, Rabu (12/12/2012), mengatakan pelatihan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi luas bagi calon mahasiswa dari Indonesia yang ingin melanjutkan studi S-3 ke Jerman. Sebab, Jerman merupakan salah satu negara tujuan studi S-3.

"Selain karena memiliki tradisi riset dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Jerman juga memiliki reputasi universitas berkelas dunia, salah satu negara pendaftar paten terbanyak di dunia, serta eksportir terbesar untuk bidang teknik dan rekayasa," kata Adam.

Adam menyebutkan peluang beasiswa ke Jerman juga cukup besar. Di antaranya beasiswa Pemerintah Jerman (DAAD), yakni beasiswa yang disediakan oleh Pemerintah Indonesia (Ditjen Pendidikan Tinggi, Kemendikbud) dan beasiswa Debt Swap.

Beasiswa Debt Swap adalah program kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Jerman untuk penghapusan utang Indonesia terhadap Jerman. Program ini dimulai tahun 2012 yang direncanakan berlangsung selama 10 tahun dengan target 5.000 doktor.

Namun, kata Adam, berdasarkan data yang dilansir oleh Ditejen Pendidikan Tinggi, Kemendikbud, jumlah penerima beasiswa Debt Swap tahun 2012 yang berangkat ke Jerman hanya 54 orang. Padahal, seharusnya minimal 500 orang per tahun agar kuota bisa terpenuhi.

"Kurang terserapnya beasiswa Debt Swap tentu saja disebakan oleh berbagai faktor, misalnya kurang informasi tentang studi di Jerman dan faktor-faktor lain. Untuk itu, IASI mencoba untuk membantu masyarakat Indonesia karena ini merupakan salah satu program kami," papar Adam.

Keberhasilan program beasiswa Debt Swap, ujar Adam, dapat memberikan sumbangan yang besar terhadap peningkatan angka lulusan doktor di Indonesia yang jumlahnya saat ini baru mencapai 25.000 orang atau hanya 1 dari 10.000 orang Indonesia yang bertitel doktor. Bandingkan dengan China yang memiliki 800.000 orang doktor dan India 650.000 orang doktor.

Program pelatihan studi S-3 ke Jerman telah dilaksanakan di dua tempat, yakni di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dan Universitas Sriwijaya Palembang. Program pelatihan ini terselenggara atas kerja sama antara IASI dan kedua universitas tersebut.

Materi pelatihan mencakup beberapa hal, seperti bagaimana mencari profesor pembimbing, persiapan penulisan proposal, jenis pilihan beasiswa ke Jerman, tips menghadapi tes beasiswa, dan kultur riset di Jerman. Selain itu, juga disampaikan pentingnya membangun jaringan selama melakukan studi atau riset di Jerman.

Jaringan yang dibangun tentu akan bermanfaat setelah kembali ke Tanah Air, terutama jaringan yang akan membuka peluang kerja sama riset dan alih teknologi. Semakin banyak peneliti Indonesia yang membangun kerja sama dengan Jerman di bidang riset dan alih teknologi, proses alih teknologi dari Jerman ke Indonesia akan semakin cepat, yang dapat memperkuat kemajuan penguasaan sains dan teknologi dalam negeri.

Menurut Adam, IASI memprogramkan akan menyelenggarakan pelatihan serupa pada 2013 dan 2014 di 14 kota besar di seluruh Indonesia. IASI juga telah membentuk tim yang terdiri dari 10 orang dari berbagai disiplin ilmu (engineering, logistik, bioteknologi, kelautan, pertanian, peternakan, ekonomi, ilmu sosial, dan politik) yang akan menjadi partner konsultasi untuk studi S-3 di Jerman bagi calon mahasiswa asal Indonesia. Tim konsultasi ini adalah para peneliti Indonesia yang sedang studi S-3 di Jerman dan juga yang sedang bekerja di berbagai industri di Jerman.

Adam menjelaskan IASI merupakan sebuah organisasi resmi yang diakui oleh Pemerintah Jerman yang berdiri sejak tahun 1976 dengan tujuan utama adalah  menjembatangi hubungan kerja sama Indonesia-Jerman di berbagai bidang, terutama alih teknologi, riset, pendidikan, dan bisnis.

Saat ini, IASI sedang melakukan beberapa kegiatan yang berkaitan dengan hubungan kerja sama Indonesia-Jerman.

Kerja sama yang dilaksanakan di antaranya memfasilitasi pengiriman profesor Jerman ke beberapa perguruan tinggi di Indonesia, memfasilitasi kerja sama sekolah menengah kejuruan di Sulawesi Selatan dan berufschule (semacam SMK di Jerman) serta promosi investasi dari Jerman ke Indonesia dan beberapa proyek sosial lainnya yang sifatnya alih teknologi.

Anggota IASI adalah para ekspatriat Indonesia di Jerman, peneliti, dan para ahli, serta perusahaan Jerman. 


Penulis: Ester Lince Napitupulu
Editor : Robert Adhi Ksp