Rabu, 22 Oktober 2014

News / Edukasi

Beasiswa, Si Pemicu Prestasi

Rabu, 19 Desember 2012 | 13:05 WIB

KOMPAS.com - ”Saya sering mendapat beasiswa. Sekarang saya menerima beasiswa dari kampus, beasiswa dari Menpora, dan beasiswa dari hasil kerja sama PB Pasi dan Bank Mandiri,” kata sprinter nasional, Serafi Anelies Unani, yang juga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Surabaya.

Mungkin kita bertanya-tanya mengapa Serafi bisa mendapat begitu banyak beasiswa dengan mudahnya? Sebenarnya tidak semudah itu dia mendapatkan beasiswa.

Sebelum mendapatkan beasiswa, Serafi yang senang olahraga ini dengan serius menekuni atletik. Dia memilih spesialisasi nomor sprint alias lari jarak pendek. Dia tampil sebagai juara nasional yunior dan memegang rekor nasional remaja nomor lari 400 meter putri sejak 6 Agustus 2006.

Prestasinya terus berlanjut sampai jenjang senior. Selain malang melintang di lintasan nasional, Serafi juga punya nama di tingkat internasional. Dia mempersembahkan medali emas nomor bergengsi 100 meter putri di SEA Games Palembang 2011. Dia juga meraih perunggu nomor 100 meter putri di ASEAN University Games 2012 di Vientiane, Laos, 16-20 Desember.

Senada dengan Serafi, Triyaningsih juga mendapat beasiswa karena prestasinya sebagai pelari jarak jauh nasional dan pemegang lima rekor nasional.

”Beasiswa merupakan salah satu pemicu saya dalam menekuni olahraga. Beasiswa juga pemicu saya untuk menyelesaikan kuliah,” ungkap peraih tiga emas di SEA Games 2011 ini. Prestasi terakhirnya adalah meraih medali perak nomor 10.000 meter putri di ASEAN University Games 2012.

Rekan Serafi yang juga sesama sprinter, Tri Setyo Utami, mendapat beasiswa karena prestasinya di atletik. Dia meraih beasiswa sejak semester dua di Jurusan Pendidikan Kepelatihan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Surabaya.

Atlet sprint putra Zulkarnain Purba bahkan sejak SMP di Medan hingga kuliah di STEI Rawamangun, Jakarta, selalu mendapat beasiswa.

Konsekuensi berbeda

Di luar atletik, banyak pula cabang olahraga yang mendatangkan beasiswa, misalnya bola basket, tinju, sepak bola, dayung, senam, dan berbagai olahraga bela diri. Beasiswa ini bisa berasal dari sekolah atau kampus, negara, pemerintah daerah, perusahaan, atau klub. Setiap beasiswa memiliki konsekuensi berbeda.

Beasiswa dari kampus biasanya untuk atlet amatir. Mereka tidak boleh tampil di liga profesional dan wajib membela kampusnya dalam setiap pertandingan. Mereka yang pernah menerima beasiswa seperti ini, antara lain, adalah Denny Yustiadi. Dia menerima beasiswa dari STIE Perbanas karena prestasinya sebagai pemain basket. Alhasil, dia pun tampil di liga basket mahasiswa.

”Waktu itu, beasiswa saya tidak penuh, hanya sebagian,” kata Denny yang populer sebagai streetballer dan memiliki julukan D-Rockz itu.

Dua pemain basket populer lainnya, Amin Prihantono dan Wenda Wijaya, dulu juga menerima beasiswa dari kampusnya, STIE Perbanas. Namun, karena kemudian bergabung dalam klub basket profesional Satria Muda Jakarta, mereka pun melepas beasiswa tersebut. Sebagai gantinya, mereka mendapat beasiswa dari klub.

Mantan pemain basket nasional dan streetballer Anthony Gunawan juga mendapat tawaran beasiswa dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun, dia memutuskan tidak mengambil beasiswa tersebut dan hijrah ke Jakarta untuk bergabung dengan klub Aspac. Dia akhirnya mendapat beasiswa klub untuk melanjutkan studi di Fakultas Teknik, Universitas Trisakti, Jakarta.

”Biar cengengesan begini, kuliah saya selesai dan bergelar sarjana teknik,” kata Anthony yang juga menjadi pengusaha dan berniat mengambil studi lanjutan.

Pendidikan dan pelatihan

Atlet yang masih duduk di bangku SMA biasanya mendapat beasiswa dari pemerintah provinsi jika mereka terpilih sebagai siswa Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP). Di sini jenjangnya dimulai sejak tingkat SMP.

PPLP ada di seluruh provinsi di Indonesia dan yang tertua adalah PPLP Jawa Tengah di Salatiga. PPLP di Salatiga menampung atlet pelajar yang antara lain berprestasi di cabang olahraga atletik dan sepak bola.

PPLP atletik ada di hampir seluruh provinsi, dari Aceh hingga Papua. Namun, ada beberapa cabang olahraga yang hanya ada di PPLP tertentu, seperti voli pantai di PPLP Mataram, Lombok, atau PPLP Dayung di Sentani, Papua.

PPLP menghasilkan banyak atlet nasional yang kini berjaya. Sementara di tingkat nasional, sekolah khusus atlet ada di Ragunan, Jakarta. Di sekolah yang sama di Ragunan, ada pula siswa PPLP Jakarta. Bedanya, PPLP Jakarta dibiayai Pemprov DKI Jakarta, sedangkan siswa Ragunan dibiayai negara.

Semua siswa PPLP dibebaskan dari biaya studi. Malah mereka mendapat uang saku. Wajar jika banyak orang yang berminat menjadi siswa PPLP meski harus tinggal di asrama dan hidup jauh dari orangtua.

Syaratnya, mereka harus punya prestasi olahraga dan memiliki tinggi tubuh sesuai persyaratan, misalnya 160 sentimeter (cm) untuk putri dan 170 cm untuk putra.

Mereka yang telah lulus SMA pun tetap mendapat tawaran beasiswa jika prestasinya terus bagus. Mereka terdaftar di Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM). Mereka tetap berolahraga dan dapat meneruskan studi sesuai pilihan mereka. Bahkan, beasiswa untuk atlet yang berprestasi tetap ada selepas mereka pensiun sebagai atlet.

Mereka yang pernah menerima beasiswa jenis ini antara lain mantan sprinter Emma Tahapary dan Asrul Akbar.

”Saya selesai kuliah tahun 2007. Dulu, kuliah saya di IKIP Jakarta terbengkalai karena saya pergi berlatih dan bertanding di luar negeri. Saya juga ditawari beasiswa S-2,” tutur Emma yang hingga kini memegang rekor nasional lari 400 meter putri itu.

Sementara Asrul menerima beasiswa untuk melanjutkan kuliah pascasarjana.

Jadi, masih ragukah kaum muda Indonesia menekuni olahraga sekaligus kuliah? (IDA SETYORINI)


Penulis: Ida Setyorini
Editor : Caroline Damanik
Sumber: