Senin, 1 September 2014

News / Edukasi

PENDIDIKAN TINGGI

Mervin Bakker: Internasionalisasi Pendidikan Bukan Komoditas Bisnis

Selasa, 12 Februari 2013 | 14:11 WIB

KOMPAS.com - Pendidikan bukan consumer good yang akan berefek langsung dan cepat pada subyek penerimanya. Pendidikan harus dijadikan investasi sehingga keputusan seseorang menempuh studi di luar negeri adalah keputusan sekali dalam hidup dengan pertimbangan yang sangat matang.

Pandangan itulah yang dilontarkan oleh Mervin Bakker kepada Kompas.com saat pertama datang ke Indonesia untuk menjabat sebagai Direktur Nuffic Neso Indonesia dua tahun lalu. Mengaku kerasan tinggal di Indonesia, Mervin, begitu ia akrab disapa, mengakui bahwa banyak potensi pendidikan tinggi di negara ini perlu digarap terutama internasionalisasi pendidikan tinggi. Berikut petikan wawancaranya dengan Kompas.com untuk kedua kalinya:

Ini tahun kedua Anda di Neso Indonesia. Gambaran apa yang Anda dapatkan tentang Indonesia?

Tentu saja saya sangat terkesan dengan dinamika yang ada di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi sangat baik. Indonesia juga mulai semakin fokus pada internasionalisasi. Dalam sepuluh tahun ke depan, Indonesia dapat masuk dalam 10 negara dengan perekonomian terbaik. Saya sangat yakin itu!

Bagaimana dengan sistem pendidikan dan para pelajarnya?

Memang, pada saat yang sama, ketika semakin fokus pada internasionalisasi, muncul kritik di dalam negeri, terutama tentang sistem pendidikan di perguruan tinggi. Banyak praktisi bisnis melihat, bahwa masih banyak lulusan universitas tidak memiliki keterampilan-keterampilan tertentu yang mereka butuhkan ketika bergabung dalam pemerintahan dan perusahaan. Jadi, saya berpikir, bahwa mereka membutuhkan persiapan.

Saya rasa, mereka (pelajar) akan terjun dalam perkara lebih besar di Indonesia, yaitu harus ikut membantu kemajuan Indonesia. Begitu juga, tentu saja, Belanda, yang sudah memiliki pondasi kuat di negara ini dan punya sejarah panjang dengan Indonesia. Maka, hemat saya, kedua negara ini dapat duduk bersama di universitas untuk bekerja sama merekrut mahasiswa.

Kami di Neso mencoba mendorong dan memfasilitasi institusi pendidikan tinggi di kedua negara untuk berkomunikasi dan bekerja sama dalam memberikan sistem pengajaran dan pembelajaran yang terbaik bagi para pelajar.

Di tengah persaingan dengan banyak negara untuk bekerjasama dan menarik jutaan pelajar Indonesia, saya melihat keberhasilan Neso bekerjasama dengan pemerintah Indonesia dan banyak perguruan tingginya. Bagaimana hal itu bisa terlaksana dengan baik?

Ya, saya lihat itu dan tentu saja saya senang. Hanya saja, saya akui, kami sudah "keduluan" meskipun tidak terlambat. Ada banyak kompetisi dari banyak negara, dan mereka memiliki pendekatannya masing-masing. Namun, saya sangat gembira karena pendekatan Belanda yang melihat internasionalisasi dan pertukaran pelajar tidak sebagai komoditas bisnis, namun menjadikan sistem pendidikan tinggi bagian dari kekuatan Negara.

Pada saat bersamaan, Belanda juga membantu Indonesia untuk maju bersama-sama melalui beasiswa bagi para pelajar ini contohnya. Kami mendanai pelajar untuk mengenyam pendidikan di Belanda. Dalam hal ini, berarti kami juga membantu mengembangkan internasionalisasi pendidikan di lingkungan universitas, karena universitas mendapatkan mahasiswa yang dapat bertukar pengalaman dengan Belanda,seperti dari India, Inggris, China, Indonesia dan banyak negara lain.

Selain itu, kami dapat membantu organisasi atau instansi di Indonesia membangun tim terbaik. Dengan cara ini, target internasionalisasi dapat berjalan beriringan. Saya pikir, semua ini mengenai kesetaraan.

Sejauh Anda lihat, beasiswa apa yang paling menarik di mata pelajar Indonesia?

Kami memiliki beberapa program beasiswa. Seperti misalnya program beasiswa StuNed, NFP dan yang paling baru adalah program beasiswa Orange Tulip Scholarship. Bagi kaum professional yang sedang bekerja dan memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun, program StuNed dan NFP sangat menarik, karena kedua beasiswa ini merupakan beasiswa full dari pemerintah Belanda atau dengan kata lain beasiswa ini meng-cover semua biaya studi, mulai biaya kuliah, biaya hidup, tiket pulang pergi, asuransi dan juga biaya visa.

Untuk orange tulip, yang kadang kami menyebutnya OTS (Orange Tulip Scholarship) juga tidak kalah menarik. Karena untuk mendaftar beasiswa ini, siswa tidak harus memiliki pengalaman kerja.

Apa keunggulannya?

Beragam jenisnya, ada yang berupa potongan uang kuliah, namun ada juga yang full pendanaannya. Ini tergantung dari program studi yang diambil dan kualifikasi pelamar beasiswa, kaarena sumber dana untuk beasiswa ini merupakan gabungan dari universitas di Belanda, perusahaan dan pemerintah Indonesia, dalam hal ini dari dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Hal menarik lainnya dari OTS adalah beasiswa ini tidak hanya untuk program master di Belanda, tapi juga bisa untuk program foundation dan bachelor. Siapapun bisa mengaksesnya dengan mudah, tidak eksklusif untuk program beasiswa ini. Silahkan dilihat di situs kami; www.nesoindonesia.or.id/beasiswa.

Tahun lalu pemerintah Belanda meluncurkan skema Highly Skilled Migrant untuk para pelajar internasional, termasuk untuk Indonesia. Apa manfaatnya? Bisa Anda jelaskan sedikit?

Tentu saja. Program ini sangat baik dan terbukti membantu para pelajar tersebut dalam mendapatkan pekerjaan di Belanda. Hanya saja, masih perlu promosi lebih baik lagi.

Dengan skema ini, mereka (pelajar) dapat memperpanjang izin tinggalnya selama satu tahun setelah waktu kelulusan. Ini bertujuan agar mereka menemukan pekerjaan. Dan jika mereka dapat menemukan pekerjaan tetap dalam waktu satu tahun tersebut, maka mereka dapat tinggal untuk waktu lebih lama di Belanda sesuai kontrak kerja yang mereka pegangi.

Namun, saya tahu betul, kalau orang Indonesia itu seringkali merasa rindu kampung halaman dan ingin segera kembali ke tanah air setelah lulus. Untuk itulah, saya selalu ingin membantu mereka agar bisa tinggal lebih lama di Belanda atau Eropa untuk mengkombinasikan pendidikan dan pengalaman-pengalaman kerjanya. Jadi, ketika mereka kembali ke Indonesia, mereka dapat membantu perusahaan di Indonesia atau pemerintah Indonesia untuk melangkah maju.

Selain itu, Highly Skilled Migrant ini kami bentuk juga untuk membantu para pelajar dalam beradaptasi di Belanda. Di sini kami mendorong mereka untuk mencari tahu lebih banyak mengenai kebudayaan dan bahasa Belanda. Walaupun untuk sekolah ke Belanda tidak perlu belajar bahasa Belanda terlebih dahulu, namun akan lebih mudah dan menyenangkan jika kita mengerti bahasa setempat, apalagi jika kita berencana mencari pekerjaan di sana.

Oleh karena itu juga, kami (Nuffic Neso Indonesia) bekerja sama dengan Erasmus Taal Centrum menyelenggarakan kursus bahasa Belanda gratis bagi para pelajar Indonesia yang sudah mendapatkan surat penerimaan dari universitas di Belanda. Sehubungan dengan terbatasnya tempat yang tersedia untuk mengikuti kursus gratis ini maka siapa yang paling cepat mendaftar maka dialah yang akan mendapatkan tempat. Soal ini, siapapun bisa mengecek sendiri informasi mengenai jadwal dan tata cara pendaftaran kursusnya di www.erastaal.or.id. Silahkan, siapapun bisa mengakses dengan mudah!


Penulis: M Latief
Editor : Latief