Jumat, 31 Oktober 2014

News / Edukasi

Agus Martoyo

Guru yang Terus Berinovasi

Rabu, 13 Februari 2013 | 11:03 WIB

KOMPAS.com - Agus Martoyo (52), guru Elektronika Industri Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Jakarta, tak pernah menyerah untuk menghadirkan inovasi. Ia hanya ingin inovasi yang dibuatnya, terutama berkaitan dengan mesin Computer Numeric Control, bisa memberdayakan masyarakat Indonesia.

Meskipun sering kali respons dari pemerintah maupun pemerintah daerah tak seperti yang diharapkan, Agus tak berhenti berkarya. Ia tak mau mengandalkan orang lain untuk mengembangkan inovasi yang berguna bagi masyarakat. Ia juga siap merogoh kantong sendiri.

Agus mengembangkan peralatan peraga pendidikan untuk kebutuhan SMK dan balai latihan kerja sejak 2003. Inovasi ini didorong kegalauannya melihat minimnya peralatan peraga pendidikan yang dibutuhkan sekolah.

Tahun 2008, Agus membuat mesin Computer Numeric Control (CNC) grafir dan dipamerkan dalam Produk Kreatif Indonesia di Jakarta. Ia membuat mesin CNC grafir dengan memperbanyak komponen lokal untuk membuktikan Indonesia bisa memproduksi sendiri.

Mesin grafir itu bermanfaat bagi perajin kayu karena mereka tak perlu lagi bekerja secara manual. Sayang, apa yang dikerjakan Agus itu tak berlanjut. Indonesia lebih suka mengimpor mesin serupa dari luar negeri.

Mesin batik

Agus meyakini, keahliannya harus dikembangkan. Ia tengah fokus untuk membuktikan bahwa mesin CNC batik yang dibuatnya tahun 2011 dapat meningkatkan pamor batik Indonesia. Sentuhan teknologi dalam pembuatan pola dasar batik tulis dengan mesin CNC batik, yang dinamakan mesin batik Kelowong, mempermudah pembuatan pola batik.

”Pembuatan batik tulis memakan waktu lama, bisa berbulan-bulan, tergantung kerumitan polanya. Tak heran batik tulis itu mahal. Saya ingin batik tulis tak hanya dinikmati kalangan menengah-atas,” ujarnya.

Agus lalu menerapkan kerja mesin CNC yang berbasis komputer untuk menggantikan penulisan pola batik tulis manual. Fungsi mesin batik itu menggambar pola dengan lilin cair secara langsung, tanpa membuat gambar pola dengan pensil.

Pola batik tulis digambar di komputer. Lalu, dengan peranti lunak yang bisa mengubah gambar menjadi kode, pola batik dicetak oleh mesin batik Kelowong. Pola batik tulis yang diperintahkan komputer ke mesin, dipindahkan ke kain berukuran 2,5 meter x 1,2 meter atau 1,2 meter x 1,1 meter.

”Pekerjaan membuat pola batik tulis jadi lebih mudah dan singkat. Untuk pola batik tulis sederhana, cukup dua jam. Untuk yang rumit, polanya bisa 3-5 jam,” ujarnya.

Pembuatan pola dasar batik menggunakan canting berisi lilin di mesin ini, bisa tembus depan-belakang. Pola batik siap dilanjutkan dengan pengerjaan isen-isen atau mengisi pola dengan cairan lilin (malam).

Temuan Agus itu mendapat pujian dalam berbagai ajang pameran. Namun, kekaguman itu berhenti di pameran, tak ada tindak lanjutnya. Padahal keinginannya sederhana, pemerintah yang punya anggaran bisa menyebarkan mesin CNC kepada perajin batik skala kecil guna meningkatkan produktivitas mereka.

”Ternyata, keinginan saya berbeda dengan apa yang dipikirkan pemerintah. Penemuan ini berlalu begitu saja. Tak ada keinginan untuk mendalami, apalagi memasyarakatkannya,” kata Agus. Padahal, penghargaan sebagai inovator telah dia dapatkan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta Dewan Riset Daerah DKI Jakarta.

Kenyataan itu tak membuatnya patah semangat. Ia bercerita, ada orang Malaysia yang hendak membeli hak paten mesin batik Kelowong. Agus hampir tergoda. ”Rasa cinta pada negeri ini membuat saya bertahan. Mesin batik ini saya patenkan dan terus dikembangkan.”

Perjalanan Agus untuk memasyarakatkan mesin batik Kelowong tak mulus. Ia juga menghadapi kritik. ”Saya dituding merusak pakem pembuatan pola batik tulis dengan tangan,” katanya. Padahal, inovasinya itu tetap memerlukan perajin batik. Seni membatik tulis tak hilang, meski dibantu mesin CNC.

Mendirikan perusahaan

Pemikiran Agus tentang teknologi pembuatan batik semata-mata untuk membuat batik semakin mendunia. Ia juga mendorong anak kembarnya untuk mengembangkan usaha batik. Pembuatan pola batik tulis bisa dikerjakan dengan mesin CNC.

”Saya sudah bertanya-tanya, untuk pembatik profesional bayarannya minimal Rp 400.000 per hari. Kami berembuk, lebih baik pengerjaan batik melibatkan ibu rumah tangga, sekaligus memberdayakan mereka,” kata Purnami, anaknya.

Jadilah Pondok Batik di dekat rumahnya sebagai tempat para ibu rumah tangga belajar membatik. Pola desain batik tulis pun dibuatnya beragam. Ada batik tulis dengan gambar burung kiwi, misalnya, untuk dipasarkan ke Selandia Baru, atau pola batik bergambar Menara Eiffel khas Perancis.

Bagi dia, pola batik dengan desain dari budaya bangsa lain justru membuat batik tak berjarak dengan pemakainya. Ia membayangkan batik tulis pun bisa menjadi seragam di negara lain.

Usaha pembuatan batik tulis tersebut merupakan pengembangan dari usaha yang dikembangkan Agus sebelumnya. Tahun 2003, dia mendirikan perusahaan pembuat peraga pendidikan bernama CV Citra Reka Teknologi (Citralab). Ada 12 pekerja tetap dan tak tetap di perusahaan itu.

Menurut Agus, keberaniannya mendirikan usaha berawal dari gaji guru pegawai negeri sipil (PNS) yang belum memadai. Ia lalu mencoba berbagai pekerjaan sampingan, hingga menemukan peluang pada usaha peraga pendidikan.

”Saya bersyukur, dengan keterbatasan saya sebagai guru, justru bisa membuka peluang kerja bagi orang lain. Saya ingin hidup ini berguna bagi orang lain. Kreativitas saya bisa bermanfaat buat orang lain,” kata Agus.

Perusahaan yang didirikan Agus itu kini menjadi salah satu mitra SMKN 4 Jakarta yang didukung Wahidin Ganef, selaku kepala sekolah. Siswa SMKN 4 Jakarta pun secara rutin magang pada usaha pembuatan peraga pendidikan dan mesin batik Kelowong.

”Saya ingin menjadi guru yang bisa mengembangkan inovasi untuk mendorong anak didik agar berkembang. Saya ingin SMK terus maju,” ujar Agus.

 


Penulis: Ester Lince Napitupulu
Editor : Caroline Damanik
Sumber: