Sabtu, 19 April 2014

News / Edukasi

Pelajaran Bahasa Indonesia Tidak Jelas

Rabu, 13 Februari 2013 | 14:03 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com —  Pelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013 bakal berpengaruh besar terhadap pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah. Pembelajaran Bahasa Indonesia dinilai menjadi tidak jelas karena fokus kebahasaan tidak lagi menonjol.

Ketua Umum Asosiasi Pendidik Bahasa dan Sastra Indonesia (APBSI) Saifur di Jakarta, Rabu (13/2/2013), mengatakan, praktik Kurikulum 2013 nantinya menjadikan bahasa dan sastra Indonesia sebagai alat untuk menyampaikan materi lainnya, seperti ilmu pengetahuan sosial dan alam.

Belajar Bahasa Indonesia tidak sekadar memakai bahasa Indonesia untuk menyampaikan materi belajar. Namun, perlu juga dipelajari soal makna atau bagaimana memilih kata yang tepat. "Hal-hal ini yang akan kabur dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama di SD yang harus selalu tematik integratif," kata Saifur.

Menurut Saifur, pada mulanya, bahasa dan sastra Indonesia dijadikan media untuk memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, identitas, kebahasaan, dan aspek-aspek lain yang terkait dengan kecerdasan linguistik seorang siswa.

Kebijakan dalam Kurikulum 2013 berdampak signifikan terhadap model, proses, dan sistem pembelajaran, baik di sekolah maupun perguruan tinggi.

"Para guru resah dengan perubahan itu yang sampai saat ini informasinya belum jelas sampai ke guru, terutama guru Bahasa Indonesia," kata Saifur.

Berdasarkan penelitian APBSI dengan responden para pendidik bahasa dan sastra Indonesia di SMP dan SMA di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Tengah, para guru merasa uji publik belum memberikan informasi yang signifikan bagi pendidik bahasa dan sastra Indonesia.

Padahal, perubahan Kurikulum 2013 jelas akan membawa dampak signifikan terhadap proses belajar mengajar yang meliputi materi dan model pengajaran hingga alat yang digunakan untuk menyampaikan materi terhadap peserta didik.

 

Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, kata Saifur, perlu tetap berorientasi pada pendidikan nilai-nilai, identitas, dan bahasa yang menjadi jati diri bangsa. "Di SD kan perubahan pelajaran Bahasa Indonesia terintegrasi. Bahasa Indonesia sebagai alat untuk menyampaikan materi pelajaran lain. Dikhawatirkan, nantinya ketika di SMP siswa jadi bingung belajar soal bahasa dan sastra Indonesia," kata Safir.

 

Sementara itu, Abdul Hadi WM, penyair dan pengajar di Universitas Paramadina, mengatakan, penguatan pendidikan kesusastraan penting. Generasi muda dapat belajar budaya lewat sastra.

 

Namun, pembelajaran soal sastra ini lemah. "Sekarang ini tidak terjadi regenerasi sastra dengan baik," ujar Abdul.


Penulis: Ester Lince Napitupulu
Editor : Tjahja Gunawan Diredja