Karyawan Biasa sampai CEO Siap Berbagi kepada Anak SD - Kompas.com

Karyawan Biasa sampai CEO Siap Berbagi kepada Anak SD

Caroline Damanik
Kompas.com - 19/02/2013, 11:58 WIB

KOMPAS.com — Kelas Inspirasi Gelombang II akan digelar secara serentak di Jakarta, Surabaya, Pekanbaru, Bandung, Yogyakarta, dan Solo, Rabu (20/2/2013) besok. Kaum profesional mulai dari karyawan biasa, wiraswasta, sampai direktur eksekutif dari berbagai perusahaan ternama di Indonesia siap berbagi inspirasi di sejumlah sekolah dasar yang dipilih.

Di Jakarta, ada sekitar 599 relawan pengajar yang akan berbagi di 58 SD negeri. Mereka terdiri dari kaum profesional yang memutuskan untuk berbuat sesuatu untuk kemajuan pendidikan. Caranya, berbagi inspirasi dari kisah hidup mereka sendiri.

Sejumlah direktur eksekutif (chief executive officer/CEO) dan direktur utama (dirut) terlibat dalam kegiatan ini. Sebut saja CEO Kompas Gramedia Agung Adiprasetyo, Dirut PT Pembangunan Jaya Ancol Budi Karya Sumadi, Dirut Bank DKI Eko Budiwiyono, Chairman Schlumberger Indonesia Ahmad Yuniarto, Country Head Google Indonesia Rudy Ramawy, Komisaris Utama Daniland Group Emil Arifin, dan Komisaris Garuda Indonesia Betty Alisjahbana.

Ada pula Duta Besar RI untuk ASEAN I Gede Ngurah Swajaya, peneliti LIPI Ikrar Nusa Bakti, penulis buku Negeri 5 Menara Ahmad Fuadi, mantan Puteri Indonesia Zivanna Letisha, musisi Jubing Kristianto, artis sekaligus atlet softball Indonesia Donny Kesuma, penulis Fira Basuki, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Wahyu Muryadi, dan ahli kuliner Bondan Winarno.

Tak hanya orang-orang yang terkenal, para profesional dengan minimal pengalaman kerja selama dua tahun terlibat dalam kegiatan ini. Para ibu rumah tangga yang memiliki bisnis sendiri, para dosen dan insinyur, guru, sampai penerjemah dan penyelaras bahasa pun turut serta.

Juga harus belajar

Tentu saja para "guru sehari" ini tidak sekadar bercerita. Mereka juga harus belajar. Dalam persiapan pekan lalu, para relawan dibekali sejumlah pengetahuan dan keahlian sebagai seorang pengajar. Berdasarkan modul yang dibagikan, para relawan diperlengkapi dengan teknis pengajaran. Meski dibatasi waktu, struktur pengajaran ideal yang seharusnya dipakai guru di kelas dibagikan.

Seorang pengajar, misalnya, harus memulai pengajaran dengan menarik perhatian para siswa lalu memberikan gambaran mengenai apa yang akan dibahas selama sesi. Setelah itu, pengajar bisa membagikan inti pengajaran yang akan disampaikan.

Untuk menguatkan inti pengajaran, jembatani pesan yang ingin disampaikan supaya dapat dipahami oleh para siswa, misalnya dengan menggunakan analogi atau mengganti istilah-istilah teknis yang sulit dengan istilah sederhana yang dipahami. Lalu, berikan contoh untuk menambah pemahaman siswa.

Kemudian buatlah evaluasi untuk mengetahui apakah siswa paham dengan apa yang disampaikan. Caranya, bisa melalui kuis, permainan (games), atau membuat pohon harapan. Akhirnya, tutuplah kembali sesi dengan hal yang menarik, misalnya mengajak mereka untuk meneriakkan suatu yel.

Banyak materi lain dalam hal pengajaran yang perlu dipahami oleh para relawan meski mereka hanya menjadi guru dalam sehari. Pasalnya, menurut Ketua Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar Anies Baswedan, kehadiran para profesional di dalam kelas bukan sekadar mengajar atau berbagi ilmu yang dimiliki.

"Kegiatan ini bukan mengundang mereka semata-mata menjadi guru, tapi yang terpenting adalah kembali mendatangkan mimpi di ruang-ruang kelas," kata Anies saat hadir dalam pembekalan Kelas Inspirasi pekan lalu.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    PenulisCaroline Damanik
    EditorCaroline Damanik

    Terkini Lainnya