Senin, 24 November 2014

News / Edukasi

Haris Pratama Ibrahim

TKI yang Menjadi Pengajar Bahasa Korea

Rabu, 6 Maret 2013 | 11:13 WIB

KOMPAS.com - Tahun 2009, Haris Pratama Ibrahim mendapat penghargaan dari Pemerintah Korea Selatan sebagai TKI Teladan Bidang Sosial dan Kemasyarakatan. Hal itu berawal saat dia bersama tukang las, pencetak logam, dan pengolah limbah menjadi duta bangsa Indonesia dalam festival rakyat yang digelar di Ansan, salah satu kota di Korea Selatan.

Pada 2008, Wali Kota Ansan menawari tenaga kerja Indonesia di kota itu untuk ikut memeriahkan festival rakyat menjelang musim gugur. Mereka tampil bersama 19 duta negara lain.

Jadilah di bawah koordinasi Haris, para tenaga kerja Indonesia (TKI) memperkenalkan keragaman Indonesia. Ada pameran delapan baju daerah dan prosesi pernikahan adat Jawa. Mereka juga ambil bagian dalam pertandingan olahraga. Televisi Korea Selatan (Korsel), Arirang TV, meliput festival itu.

”Tak hanya mewakili Indonesia, keikutsertaan ini juga bentuk hormat kami kepada warga Korea,” kata Haris, warga Kampung Pagerageung Kidul, Desa Pagerageung, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, ini.

Pemerintah Kota Ansan menganggap wakil Indonesia paling kreatif. ”Ada Bali di Korea”, kata Haris menirukan ucapan pengunjung.

Terpisah 5.400 kilometer, warga di Pagerageung ikut menikmati festival lewat Arirang TV yang dipancarkan satelit. Meski tak memahami bahasa Korea, mereka mengenal pemeran utamanya.

”Rupanya itu menjadi film dokumenter, judulnya About Haris. Semua kegiatan saya dari bangun pagi, bekerja, sampai mempersiapkan festival rakyat ada gambarnya. Meski TKI, kami bisa mengharumkan nama Indonesia,” ujarnya.

Haris bercerita, awal keberadaannya di Korsel pada 1999 semata alasan ekonomi. Berbekal semangat, pengalaman menjadi tukang las, dan bisa menuliskan namanya dalam bahasa Korea, ia pergi ke Korsel.

Haris bekerja di pabrik perakit komponen truk di kota Cheon Ju. Ia mencuri perhatian atasannya sejak hari pertama sebab mampu mengelas 50 komponen dudukan kepala truk per dua jam. Sementara pekerja Korsel umumnya membuat 50 komponen per delapan jam.

”Saya dipuji, tetapi diberi pekerjaan tiga kali lipat lebih banyak. Saya tak mengeluh karena sejak awal ingin bekerja dengan baik,” katanya.

Meski kemampuan teknisnya diacungi jempol, ia tak luput dari kesalahan. Haris kerap kena marah atasan karena hal sepele. Apalagi ia tak bisa berbahasa Korea. ”Setahun pertama saya sering dimarahi bos karena belum mahir bahasa Korea. Saat dia minta dibawakan meteran, saya malah bawa ember.”

Tabungan ludes

Pengalaman itu membuat dia bertekad menguasai bahasa Korea. Apalagi saat Haris tahu bahwa untuk mengajukan penambahan izin kerja, dia harus bisa berbahasa Korea. Saat itu ia hanya punya izin kerja untuk dua tahun.

Tanpa guru, ia mencoba berbagai metode belajar bahasa Korea. Menggunakan kapur, ia menuliskan dalam bahasa Latin setiap kata baru di batang besi las. Ia lalu bertanya pada pekerja setempat arti kata itu. Setiba di rumah ia berusaha mengingatnya, lalu melihat penulisannya di kamus.

”Saya sempat dianggap merusak karena bahan las saya tulisi kapur. Namun, waktu saya jelaskan sedang belajar bahasa Korea, atasan saya malah memuji,” katanya.

Perbendaharaan bahasa Koreanya bertambah, sampai Haris berani mengikuti ujian bahasa Korea sebagai syarat perpanjangan setahun bekerja. ”Saya lulus, tetapi teman saya harus pulang karena tidak berhasil.”

Setelah menghabiskan tiga tahun bekerja di Korsel, Haris pulang ke Tasikmalaya. Dengan penghasilan Rp 5 juta per bulan, ia punya cukup tabungan untuk membuka usaha ayam potong. Sayang, usaha itu hanya bertahan tiga tahun. Wabah flu burung mematikan usahanya pada 2005.

Tabungan ludes, ia bekerja di kota Ansan, Korsel. Populasi TKI di Ansan yang relatif besar memberinya ide untuk berorganisasi. Haris ikut mendirikan majelis taklim dan bergabung dalam organisasi TKI, Indonesia Community in Corea (ICC).

”ICC sering menjadi jembatan berbagai permasalahan dan aspirasi TKI di Korea. Pada 2008 ICC berkiprah, dan saya menjadi Presiden ICC dua bulan kemudian,” katanya.

Berbagai masalah yang masuk ICC membuka mata Haris. Ia melihat munculnya kontak fisik yang dialami TKI sering kali dipicu kendala bahasa. Sama seperti dia dulu, banyak TKI tak bisa berbahasa Korea.

”Kami pernah melakukan mediasi, ketika seorang TKI dipukul atasannya. Rupanya si bos kesal karena TKI itu tak paham ucapannya. Difasilitasi Pemkot Ansan, kami mendapat permintaan maaf dan uang ganti rugi,” katanya.

Masalah bahasa juga membuat proses pengiriman uang TKI ke Indonesia terhambat karena kesulitan mengisi formulir. Haris lalu diminta menjadi penerjemah di Industrial Bank of Korea. Ia direkomendasikan Pemkot Ansan membantu proses pengiriman uang para TKI. Ia minta dibuatkan formulir khusus berbahasa Indonesia dan Korea untuk memudahkan TKI ataupun petugas bank setempat.

”Setelah itu, hampir semua bank di Ansan menerapkan hal sama. Kini, semua ATM (anjungan tunai mandiri) Industrial Bank of Korea ada bahasa Indonesia-nya,” kata Haris.

Mengajar

Selepas habis masa kontrak kedua tahun 2011, penghasilan Haris sekitar Rp 8 juta per bulan. Banyak pihak menawari Haris pekerjaan dengan gaji lebih besar, tetapi ia memilih pulang ke kampung halaman. ”Saya punya mimpi lebih besar.”

Di kampung, ia mendirikan tempat belajar bahasa Korea, Minaya Hakwon. Modul ajar dia dapatkan dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia. Ia tak mengenakan tarif tertentu. ”Ada 21 orang yang belajar, alhamdulillah belum ada uang yang saya terima,” katanya.

Ia pun tak peduli dituduh sebagai calo TKI. Bahkan, pernah ada orangtua yang menawari Haris uang agar anaknya bisa bekerja di Korsel. Haris menolak. ”Tak perlu uang banyak untuk kerja di Korea. Modalnya cukup belajar bahasa Korea.”

Haris juga mengajar bahasa Korea di kelas Kejar Paket B dan C Pusat Kegiatan Belajar Mengajar Al Mubarok. Di sini pesertanya adalah mereka yang putus sekolah dan pekerja anak yang punya semangat belajar tinggi.

Ia berharap kemampuan berbahasa Korea itu bisa menjadi bekal mereka nanti. Mereka tak perlu bekerja sampai Korsel. Alasannya, banyak perusahaan asing di Indonesia yang memerlukan tenaga kerja dengan kemampuan berbahasa Korea.

”Mimpi saya yang paling besar adalah mengajak warga Korea datang ke Indonesia. Banyak potensi usaha dan kekayaan di Indonesia yang belum mereka kenal,” katanya.

 


Penulis: Cornelius Helmy Herlambang
Editor : Caroline Damanik
Sumber: