Minggu, 23 November 2014

News / Edukasi

Uang Kuliah

Beasiswa Bidikmisi Bermasalah

Senin, 18 Maret 2013 | 08:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi yang berkuliah di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di seluruh Indonesia mengeluhkan pencairan beasiswa ke rekening mahasiswa yang selalu terlambat.

Bahkan, pencairan beasiswa bidikmisi ke rekening mahasiswa ada yang disunat alias tidak sesuai dengan jatah yang seharusya diterima mahasiswa. Persoalan pencairan beasiswa bidikmisi para mahasiswa tersebut mengemuka dalam kongres pertama mahasiswa bidikmisi perguruan tinggi agama islam (PTAIN) se-Indonesia di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang, Jawa Timur, pada 14-16 Maret.

Pada kongres ini hadir perwakilan mahasiswa bidikmisi dari 21 PTAIN di seluruh Indonesia yang bersepakat membentuk organisasi nasional Lingkar Bidikmisi (Lingdiksi) PTAIN se-Nusantara.   

Fadli, Sekretaris Jenderal Lingdiksi PTAIN se-Nusantara yang juga mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanudin, Banten, Senin (18/3/2013), menjelaskan ribuan mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi di PTAIN sering mengalami keterlambatan pencairan dana ke rekening mahasiswa.

Akibatnya, banyak mahasiswa yang terpaksa mencari pekerjaan di luar jam perkuliahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. "Ini memunculkan masalah baru. Beberapa mahasiswa tidak memenuhi standar indeks prestasi kumulatif (IPK) yang ditentukan masing-masing kampus karena harus membagi waktu antara bekerja dan kuliah," kata Fadli.

Menurut Fadli, setiap semester mahasiswa mendapat beasiswa bidikmisi senilai Rp 6 juta. Biaya tersebut dipakai untuk biaya kuliah dan biaya hidup sehari-hari mahasiswa yang memang berasal dari keluarga tidak mampu.

Mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi angkatan 2010 dan 2011 belum menerima beasiswa untuk semester ini. Biasanya pada Januari, beasiswa sudah ditransfer ke rekening mahasiswa.

Adapun untuk penerima beasiswa bidikmisi angkatan 2012, beasiswa yang diterima tidak utuh. Mahasiswa mengaku hanya mendapat transfer beasiswa ke rekening sebesar Rp 4,65 juta dari yang seharusnya Rp 6 juta per semester.

Di sejumlah kampus dilaporkan, ada penerima beasiswa bidikmisi angkatan 2012 yang belum menerima transferan. Pencairan beasiswa untuk angkatan 2012 dilaporkan tidak merata kepada semua penerima, bahkan yang satu kampus.

"Tidak ada kejelasan terkait pengurangan tersebut. Pihak kampus juga tidak bisa memberi penjelasan," kata Wawik Adipin, Sekretaris Nasional Lingdiksi yang juga mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Mahasiswa penerima bidikmisi angkatan 2010 dan 2011, ujar Fadli, merasa resah dengan adanya rumor bahwa mereka yang awalnya di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dialihkan ke bawah naungan Kemenag.  

"Ada perasaan resah dan muncul pertanyaan, apakah dana yang kami terima juga akan berkurang seperti angkatan 2012 yang katanya di bawah Kementerian Agama. Kami masih bingung dengan status penerimaan beasiswa kami apa masih di bawah kemdnikbud atau di Kemenag," kata Fadli, penerima beasiswa bidikmisi angkatan 2011.

Fadli mengatakakan, dengan membentuk Lingdiksi, mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi di PTAIN memiliki wadah untuk mengikat tali silaturahmi dan menampung aspirasi dari semua anggota bidikmisi.

Mereka memperjuangkan nasib bersama suapaya pencairan beasiswa terjamin dan tepat waktu sehingga mereka bisa berkuliah tanpa terbebani biaya.

Menurut Fadli, persoalan beasiswa bidikmisi di bawah Kemenag ini sudah dilaporkan kepada M Zain, Kepala subdit Pengembangan Akademik Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Islam Kemenag yang hadir dalam kongres.Namun, belum ada penjelasan yang memuaskan.


Penulis: Ester Lince Napitupulu
Editor : Tjahja Gunawan Diredja