Jumat, 22 Agustus 2014

News / Edukasi

ASEAN Study Center Didirikan di Kampus UI

Senin, 18 Maret 2013 | 20:02 WIB

DEPOK, KOMPAS.com - Universitas Indonesia (UI) membentuk pusat studi ASEAN Study Center yang berlokasi di FISIP UI Depok.

Pendirian ASEAN Study Center ini merupakan kerjasama Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Fisip UI, dan Kementerian Luar Negeri RI dalam nota kesepahaman mengenai pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

 

Pembentukan ASEAN Study Center tersebut, bertujuan untuk memberikan kontribusi positif terhadap usaha-usaha memajukan kepentingan nasional Indonesia dalam menghadapi Komunitas ASEAN 2015, seiring dengan usaha-usaha konstruktif dalam memperkuat regionalisme di kawasan Asia Tenggara.

Pada Jumat (22/3/ 2013), bertempat di Auditorium Juwono Sudarsono, Kampus FISIP UI Depok, diadakan penandatangan notakesepahaman dan seminar bertajuk Kesiapan Indonesia Menuju Komunitas ASEAN 2015.

 

Yeremia Lalisang dari UI, dalam siaran persnya, Senin (18/3/2013), mengatakan, dalam seminar di ASEAN Study Centerakan hadir para pembicara seperti Direktur Kerjasama ASEAN, Kemlu RI, I Gusti Agung Wesaka Puja; Direktur Eksekutif ASEAN Study Center FISIP UI, Edy Prasetyono; Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Evi Fitriani; dengan moderator Makmur Keliat; Ketua Divisi ASEAN dan Kerjasama Asia Timur, ASEAN Stusy Center FISIP UI.

 

ASEAN Study Center FSIIP UI ( ASC FISIP UI) dibentuk dalam rangka merespon perkembangan mutakhir institusi kerjasama regional di Asia Tenggara, ASEAN, yang dalam dekade terakhir berkembang secara baik dan pesat, baik secara horizontal, maupun secara vertikal.

Salah satu tonggak perkembangan ASEAN yang paling penting adalah terwujudnya ASEAN Charter tahun 2007 yang mengindikasikan mulai terinstitusionalisasinya ASEAN dan harapan untuk kerjasama kawasan yang lebih terlembaga.

Dari aspek visi, para pemimpin di negara-negara anggota ASEAN mempunyai target yang lebih tinggi, ketika tahun 2003 mereka mencanangkan pembentukan Komunitas ASEAN tahun 2020 yang pada tahun 2007 kemudian dipercepat menjadi 2015.

 

ASC FISIP UI memandang bahwa komunitas ASEAN bukan cuma sekedar cita-cita tapi merupakan rekayasa politik, ekonomi, dan sosial-budaya yang menjanjikan sekaligus berisiko. Sebagai negara terbesar dalam ASEAN, Indonesia menghadapi resiko mungkin terbesar dari terbentuknya Komunitas ASEAN.

Tepatlah kiranya bila ASEAN juga fokus utama dari Kebijakan Luar Negeri Indonesia.

 

Sebaliknya posisi Indonesia dalam ASEAN sangat penting. Selain dianggap the natural leader, Indonesia merupakan negara demokrasi yang dihormati dan diteladani yang ingin dijadikan model bagi berbagai negara di kawasan dan negara yang sekarang lagi transisi ke demokrasi. Indonesia juga satu-satunya negara Asia Tenggara yang menjadi anggota G20.

 

Namun, selain berpotensi untuk memimpin arah agenda kerja ASEAN, Indonesia juga punya berbagai masalah domestik dan bilateral/regional yang berpotensi memperberat kerjasama ASEAN. Masalah domestik yang mengganggu menyangkut misalnya korupsi, penegakan hukum serta ancamanterhadap pluralisme; sementara masalah bilateral/regional menyangkut antara lain batas wilayah, pekerja migran, kejahatan transnasional dan kerusakan lingkungan hidup.

 

 

 


Penulis: Ester Lince Napitupulu
Editor : Agus Mulyadi