Selasa, 23 Desember 2014

News / Edukasi

Anak Putus Sekolah Merajut Mimpi

Jumat, 22 Maret 2013 | 09:25 WIB

KOMPAS.com - Di ruang kelas pinjaman dari Yayasan Pendidikan Al Mubaroq, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, 20 anak mantan pekerja anak memelototi aksara Korea di papan tulis. Mereka tengah menimba bekal untuk meraih mimpi.

Anak-anak putus sekolah itu sedang mengikuti program Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMA) di Yayasan Pemberdayaan Umat (Yapem). Enam bulan terakhir, bahasa Korea mulai mereka serap. Mereka belajar mengenal kata, pembentukan kalimat, hingga percakapan sederhana. Kecakapan diperlukan sebagai bekal mencari pekerjaan di Korea Selatan atau perusahaan Korea di Indonesia kelak.

Bekerja di Korea atau di perusahaan milik Korea di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir sangat diminati masyarakat Tasikmalaya. Tahun 2013, tercatat 21 anak yang menunggu jadwal keberangkatan ke ”Negeri Ginseng” itu. Upah memadai dan kenyamanan bekerja menjadi faktor pemikat.

Para peserta didik antusias memperlihatkan kemampuan mereka. Lia Lisnawati (19), warga Kampung Cimanggu I, Desa Sukamenak, Kecamatan Sukaresik, Tasikmalaya, percaya diri maju menuliskan josim yang berarti ”awas, hati-hati”.

Kholid (18), warga Sukaresik lainnya, tidak mau kalah. Ia menuliskan him yang berarti ”kuat”. Kedua kata itu sering digunakan mandor perusahaan di Korea saat memberikan perintah kepada anak buahnya.

Lia pernah nekat bekerja di pabrik konfeksi di Bandung selama tiga tahun selepas lulus SMP. Namun, setahun terakhir ia bekerja di rumah menemani orangtuanya. Hal itu terpaksa dilakukan karena orangtuanya tidak punya biaya untuk menyekolahkan lebih lanjut.

Kholid sempat mengubur mimpi menjadi mekanik tiga tahun lalu. Tingginya biaya masuk SMA memaksa Kholid meninggalkan bangku sekolah. Penghasilan ayahnya Rp 300.000 per bulan hanya cukup untuk biaya makan empat anggota keluarganya. Untuk meningkatkan penghasilan keluarga, ia menjadi perajin bambu dengan penghasilan Rp 10.000 per hari.

”Lewat program Paket C, saya dapat pelatihan montir mesin mobil dan mesin lainnya,” katanya.

Koordinator Yapem, Dwi Juli, mengatakan, sejak enam bulan lalu pihaknya fokus mengajarkan bahasa Korea bagi mantan pekerja anak. Program ini kelanjutan program Pengurangan Pekerja Anak dalam rangka mendukung Program Keluarga Harapan. Ia dibantu beberapa relawan tanpa upah tetap. ”Awalnya tak mudah menjaring peserta didik. Kami pernah disangka calo TKI dan sindikat penculik anak,” katanya.

Program ini mendapatkan sambutan positif. Pengajar bahasa Korea, Haris Pratama, mengatakan, beberapa anak mulai mahir menulis dan berbahasa Korea dalam waktu enam bulan. Salah seorang kini tengah menanti panggilan bekerja dari perusahaan otomotif asal Korea di Jakarta.

”Sengaja kami kenalkan ungkapan yang kerap digunakan di pabrik dan perusahaan. Selama ini banyak pekerja Indonesia belum menguasai bahasa Korea. Tidak jarang terjadi perselisihan antara pekerja Indonesia dan atasannya,” kata Haris yang pernah menjadi TKI di Korea selama 12 tahun.

Sekitar 60 kilometer ke arah selatan dari Pageurageung, Sukmara, siswa kelas I SMAN 2 berbasis Kelautan dan Berasrama Cipatujah, Tasikmalaya, juga tengah meraih mimpi. Setahun terakhir Sukmara bersama 24 siswa lainnya belum memiliki ruang kelas permanen. Mereka berdesakan menggunakan ruang rapat Desa Cikawungading berukuran 10 x 6 meter. ”Meski numpang, asalkan bisa sekolah gratis, tidak masalah,” katanya.

Sukmara mengatakan sempat putus sekolah selama lima tahun karena tidak punya biaya. Di usia belia, ia terpaksa merantau ke Kota Banjar dan Kota Cimahi, Jawa Barat, bekerja sebagai penjaga toko dan operator internet. SMAN 2 yang tidak memungut bayaran menariknya pulang kampung setahun lalu.

”Saya ingin jadi pembudidaya ikan,” kata Sukmara, yang kini didaulat sebagai ketua OSIS oleh 24 siswa lainnya.

Kepala Sekolah SMAN 2 Cipatujah Dadan Sudrajat mengatakan, pemilihan kelautan karena kualitas dan pendapatan masyarakat pesisir pantai dinilai masih minim. Sementara pemilihan konsep asrama guna menampung siswa miskin yang rumahnya jauh dari sekolah.

Akan tetapi, Dadan mengatakan, proses pembangunan sekolah masih terkendala status kepemilikan tanah. Pemkab Tasikmalaya berjanji menyelesaikan masalah itu sebelum tahun ajaran baru 2013.

Para pengajarnya pun tidak kalah militan. Tanpa dibayar, sebanyak 18 pengajar mau mendidik siswa setiap hari. Semuanya sarjana dan mayoritas adalah warga Cikawungading, Kecamatan Cipatujah.

Neli Nurviani (22), pengajar seni budaya dan keterampilan, rela tidak dibayar sama sekali. Ia bangga melihat kemauan keras anak Cipatujah belajar lagi.

Perangkat desa yang galau dengan maraknya anak putus sekolah juga ikut terlibat. Supriyatna (72), Kepala Urusan Pemerintahan Desa Cikawungading, naik turun bukit setiap hari. Ia mendatangi satu per satu rumah anak yang anak putus sekolah selepas tugas di kantor desa.

 


Penulis: Cornelius Helmy Herlambang
Editor : Caroline Damanik
Sumber: