Kamis, 18 September 2014

News / Edukasi

Seniman Jalanan Ikut Tolak Kurikulum 2013

Selasa, 9 April 2013 | 11:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Seniman jalanan ikut ambil bagian mendukung penolakan Kurikulum 2013. Penolakan ini mereka teriakkan dengan cara membuat mural (seni jalanan) dan poster Tolak Kurikulum 2013.

Seniman jalanan yang ikut menolak Kurikulum 2013 terdiri dari Komunitas Propagraphic, Serrum, Kamar Bincang, Komunitas HAHA HIHI dari Jurusan Seni Rupa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Milisi Mural Depok dan berbagai seniman jalanan lainnya bersama-sama menolak Kurikulum 2013 yang tengah digiatkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Jaya, seniman dari Propagraphic Serrum, di Jakarta, Selasa (9/4/2013), menjelaskan latar belakang pembuatan mural. "Kami menolak Kurikulum 2013, alasannya sama dengan yang lain. Kurikulum ini malah membuat murid tidak kreatif, terutama pada poin pengurangan muatan lokal. Dari sisi budaya, kita bisa terancam kehilangan jati diri kedaerahan," kata Jaya.

Apalagi, kata Jaya, mata pelajaran Geografi akan ditiadakan. "Serta banyak pengurangan pelajaran di SD. Padahal, tahap SD adalah tahap membangun fondasi pemikiran dan konsep dasar yang penting." Para seniman menilai, Kurikulum 2013 hanya menghasilkan generasi pedagang dan pekerja, tidak mampu menghasilkan generasi kreatif dan berkarya.

Karya para seniman dapat dilihat mulai dari Jalan Kayu Manis, Jakarta Timur, terowongan Cawang, dan Lapangan Tembak Senayan. Penolakan terhadap Kurikulum 2013 terus berlanjut. Senin kemarin, Indonesia Corruption Watch (ICW) menyetorkan nama-nama pejabat yang berpotensi akan menyelewengkan anggaran Kurikulum 2013 pada Komisi Pemberantasan Korupsi. Ini adalah tindak lanjut komitmen ICW untuk memantau pembahasan dan pengelolaan anggaran Kurikulum 2013 sebesar Rp 2,49 triliun.


Penulis: Ester Lince Napitupulu
Editor : Rusdi Amral