Kamis, 17 April 2014

News / Edukasi

Cara Efektif Genjot Kemampuan Bahasa Inggris

Rabu, 17 April 2013 | 17:12 WIB

Baca juga

KOMPAS.com - Anda termasuk yang membuang-buang kesempatan untuk mendaftarkan diri melanjutkan studi ke luar negeri atau promosi karier karena kemampuan bahasa asing yang terbatas? Mulailah benar-benar berubah!

Jika telah menetapkan cita-cita untuk melanjutkan studi ke luar negeri baik dengan beasiswa atau biaya sendiri, jangan berhenti hanya karena kemampuan bahasa yang minim. Pasalnya, Anda hanya tinggal belajar.

Selama ada niat, ada disiplin, dan ada doa, Anda bisa mewujudkannya. Tulisan Muhammad Janra ini bisa membantu Anda menemukan semangat dan langkah-langkah praktis meningkatkan kemampuan berbahasa asing Anda, terutama bahasa Inggris.

Melalui Indonesia Mengglobal, calon doktor bidang ekologi dan biologi evolusioner di Universitas Kansas ini juga belajar bahasa Inggris dari langkah-langkah kecil dan dia membuktikannya.

Masih ingin membuang waktu lebih lama?


"Improve English, Trump Your Language Proficiency Test"

Untuk melengkapi berbagai hal yang sudah dibahas di dalam website ini, saya mencoba menuliskan sebuah faktor penting dan sederhana yang mungkin dapat ikut membantu pembaca untuk menggapai cita-cita mulia untuk melanjutkan sekolah ke luar negeri, yaitu dengan memperlancar bahasa Inggris.

Sebagaimana jamaknya kita ketahui, bahasa Inggris merupakan lingua franca pergaulan manusia di dunia, di samping beberapa bahasa lainnya yang juga ramai penuturnya, seperti Spanyol, Perancis, Rusia, China dan Arab. Tapi sesuai dengan ketetapan yang sudah disepakati bersama, Bahasa Inggris adalah yang nomor wahidnya di antara bahasa-bahasa persatuan di dunia tersebut. Tentunya, tidak heran kalau dalam aplikasi sekolah ke luar negeri, terutamanya ke USA, kemampuan berbahasa Inggris yang baik menjadi salah satu faktor penentu lulus atau tidaknya kita.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini bisa memberikan sedikit banyaknya gambaran bagaimana kita bisa meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, tentunya disesuaikan dengan pengalaman dari penulis sendiri.

Dua tolak ukur kemampuan berbahasa Inggris seseorang diwujudkan dalam bentuk nilai (score) dari sistem penilaian yang dinamakan dengan Test of English as a Foreign Language (TOEFL) dan International English Language Testing System (IELTS). Dulunya TOEFL lebih berorientasi untuk menilai kemampuan bahasa Inggris orang-orang yang akan melakukan aplikasi sekolah ke USA, sedangkan IELTS berkiblat kepada negara Inggris, negara-negara persemakmuran Britania Raya dan sebagian negara-negara Eropa.

Sekarang, batasan geografis penggunaan nilai kedua sistem tersebut sudah tidak berlaku lagi, karena sebagian besar universitas di USA sudah bisa menerima sistem penilaian yang berlaku di IELTS. Demikian juga dengan TOEFL, telah diterima di negara-negara yang dahulunya IELTS oriented. Tentang ini mungkin akan kita bahas lebih lanjut nantinya.

Nah, tentunya pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita bisa mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai bagian tes kemampuan berbahasa Inggris tersebut. Di sini saya ingin kita mengenyahkan pendapat bahwa “hanya orang Inggris yang bisa berbahasa Inggris”.

Semua orang, asal punya kemauan dan keinginan untuk berusaha, pasti akan bisa paling tidak ngomong cap-cus dalam bahasa Inggris. Kita sesuaikan saja tips-nya dengan elemen umum yang diujikan dalam kedua tes yang disinggung di atas.

1. Reading
Membaca mungkin adalah sebuah hobi yang menyenangkan bagi seseorang, pun bisa menjadi hal yang sangat membosankan bagi yang lain. Cuma, kalau anda termasuk kepada golongan kedua, yang mudah bosan dalam membaca, anda harus mempertimbangkan untuk mengubah kebiasaan ini, karena jika memang berminat untuk sekolah ke luar negeri, dimanapun itu, membaca akan menjadi kewajiban utama anda. Di samping memang menjadi kewajiban yang diterapkan oleh dosen pengajarnya, dari membaca tersebut berbagai informasi dapat diserap dan tentunya akan bisa memperkaya pengetahuan kita.

Untuk meningkatkan kemampuan baca, sekaligus tentunya Listening—karena khusus untuk reading dalam bahasa Inggris, sebaiknya disertai dengan mendengarkan apa yang kita baca—mulailah dengan menggunakan bahan-bahan bacaan yang ringan. Kalau saya dahulunya paling suka dengan komik-komik dan buku cerita berbahasa Inggris, karena biasanya bahasa dan kata-kata yang dipakai adalah yang sederhana dan mudah dipahami.

Tentu saja kita akan bertemu dengan banyak kata-kata baru (new vocabulary), yang bisa dicari artinya di dalam kamus. Saya sendiri sampai sekarang berlangganan komik dan cerita elektronik, sehingga untuk translate vocab baru, biasanya menggunakan google translate. Atau kalau mau arti yang lebih komplit dari suatu kata, bisa menggunakan online dictionary dari Miriam Webster.

Kenapa menggunakan komik, cerita atau bahan bacaan lain yang disenangi? Mudah saja jawabannya: karena biasanya dengan mengerjakan sesuatu yang disenanginya, pasti tidak akan mudah bosan dan lebih cepat masuk ke pikiran dan bisa gampang kembali teringat. Setelah merasa “khatam” dengan sistem ini, bisa ditingkatkan dengan membaca koran-koran berbahasa Inggris seperti The Jakarta Post, Jakarta Globe, Antara News dan lain-lain.

Tentu saja di sini kita akan menemukan banyak vocab baru yang lebih beragam serta pola kalimat yang mungkin berbeda dari yang kita temui selama belajar bahasa Inggris. Tapi bukankah kita bisa belajar lebih banyak lagi dengan itu? Buatlah catatan di dalam notebook kecil yang bisa kita bawa kemana-mana dan bisa dilihat kembali kapanpun kita mau.

Satu cara lagi yang pernah saya aplikasikan untuk reading ini adalah dengan bekerja sebagai translator (penerjemah). Saat masih kuliah S1 dulu, saya bekerja di rental computer milik kakak saya dan salah satu bidang usahanya adalah menerima jasa terjemahan. Kebanyakan menerjemahkan ragam artikel dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia. Tentu saja, untuk melakukan pekerjaan ini saya harus membaca artikel tersebut sampai ke titik komanya, untuk memahami artinya dan menerjemahkannya dengan benar.

Cara ini memberikan kesempatan untuk menambah vocab baru ke dalam memori, sekaligus juga menambah tebal dompet, karena dari pekerjaan tersebut saya juga digaji per halaman hasil terjemahannya. Salah satu kesempatan yang berlimpah adalah menerjemahkan artikel-artikel wikipedia dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia yang caranya bisa dilihat di halaman wikipedia ini.

Bagi yang gak mau kerja sebagai translator pun, sebenarnya bisa dimulai membaca berbagai artikel dan jurnal berbahasa Inggris, karena dalam perkuliahan di luar negeri, membaca artikel dan jurnal adalah pekerjaan harian untuk mahasiswa. So, what are we waiting for?

2. Listening
Pekerjaan mendengarkan mungkin terasa remeh dan kurang dianggap oleh banyak orang. Tapi dalam belajar Bahasa Inggris, mendengar (listening) adalah pangkal kita memahami bahasa ini. Bisa dimulai dengan tentunya mendengarkan media audio atau audio-visual yang menggunakan bahasa Inggris.

Kegiatan ini akan sedikit ribet, karena pada dasarnya bahasa Inggris mempunyai perbedaan yang nyata antara written dan spoken words. Misalnya huruf ‘a’ dibaca ‘e’. Huruf ‘i’ dibaca ‘ai’ dan seterusnya. Tapi ini tidak akan lama menjadi masalah begitu kita membiasakan diri mengenal bunyi kata yang diucapkan, plus disertai dengan ekspresi wajah dari orang yang mengucapkannya.

Langkah selanjutnya, setelah mendengarkan bunyi kata dan memperhatikan ekspresi wajah adalah menyimak artinya. Ini bisa dilakukan dengan melihat subtitle yang ada di setiap film berbahasa Inggris. Kita bisa melakukannya per kata, atau bahkan per kalimat. Metode ini lebih baik dilakukan jika kita memiliki file audio-visual tersebut (baca: film), karena jika ada satu vocab atau kalimat yang menarik perhatian kita, kita bisa mengulang lagi ke bagian tersebut.

Menonton kembali secara berulang-ulang sebuah film yang kita sukai juga membantu kita dalam mengingat apa saja percakapan dan adegan yang ada di dalam film tersebut. Dan tentunya akan sangat membantu kita memperkaya kosa-kata verbal kita.

3. Speaking
Ngomong suatu bahasa yang kita sendiripun baru mengenalnya setelah dewasa, sangat-sangat susah untuk dilakukan. Tapi percayalah, walaupun berat mulut kita untuk terbuka dan mengucapkan sepatah dua patah kata “bahasa alien” tersebut, setelah sekali dua kali ngomong, pasti akan terasa lebih mudah untuk memecah kebekuan yang ada.

Kembali sedikit ke masalah listening tadi, kita sudah menonton film yang kita sukai. Kita juga sudah melihat bagaimana aktor dan aktris kesayangan kita beradegan. Pasti dengan mudah kita bisa membayangkan kembali bagaimana mereka berdialog. Bagaimana mimik mukanya, gerak bibirnya, bahkan bahasa tubuh dan gesture-nya pasti bisa kita ingat.

Coba tirukan di depan cermin ‘speaking’ yang kita lakukan. Ini akan sangat membantu, karena kita bisa mengamati bagaimana ekspresi kita sendiri di depan cermin. Mungkin jika melakukannya bersama-sama dengan orang lain masih ada yang malu, karena takut salah. Tapi dengan mencoba cara ini, kita bisa memperhatikan setiap detail perkataan yang kita ucapkan.

Mulailah dengan mengucapkan kata demi kata. Perhatikan bagaimana setiap kata tersebut kita ucapkan. Lakukan koreksi, jika nada dan bunyi suara yang keluar menyebabkan pronunciation (lafal) yang berbeda. Hal ini akan menyebabkan arti kata juga berbeda. Misalnya kata “flower” dan “flour” yang nyaris bersifat homofon. Kata yang pertama mempunyai penekanan huruf “r” dengung yang lebih kuat dibandingkan dengan kata kedua. Dengan memperhatikan bagaimana ekspresi pengucapan kita di depan cermin, akan membantu kita mendapatkan bentuk pengucapan yang sempurna.

Yang terakhir dari bagian ini, menurut saya, adalah keluar dari persembunyian kita dan mencari seseorang untuk kita melakukan praktek. Boleh jadi kita telah jago bicara dengan bayangan kita di cermin. Sekarang bagaimana melakukannya dalam kondisi yang riil. Yang termasuk riil di sini adalah bagaimana mengatasi rasa grogi saat berbicara dengan menggunakan bahasa baru ini.

Banyak lembaga pendidikan bahasa asing yang mengajak peserta didiknya untuk turun ke lapangan, biasanya ke lokasi-lokasi wisata, mencari turis-turis asing dan kemudian mendorong peserta didiknya untuk berbicara dengan mereka. Saya pikir, cara yang dilakukan ini tidak akan dengan serta merta membikin para peserta didik langsung jadi jago ngomong, tapi paling tidak akan membuat mereka menghilangkan rasa dag-dig-dug ketika ngomong.

Ingat, gak ada kok orang bule yang bakal “menerkam” kita kalo kita salah ngomong ke mereka. Mereka justru menghargai usaha kita untuk bisa bicara dalam bahasa mereka, dan kadang mereka juga turut memberikan bantuan bagaimana ngomong yang benarnya. Kalau misalnya si bule sedang tidak ingin diganggu, ucapkan terima kasih dan cari bule yang lain yang bersedia. Ready to try this part out?

4. Writing
Kalau untuk bagian ini, saya masih terlalu awam. Saya hanya pernah menulis beberapa artikel ilmiah dan tidak banyak yang bisa diberikan untuk bagian ini. Yang jelas, yang pernah saya coba lakukan dalam hal writing adalah membuat naskahnya terlebih dahulu dalam bahasa Indonesia, baru kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Tentu saja jasa penerjemah elektronik seperti google translate atau Transtool bisa dipakai.

Tetapi saya selalu menemukan kalau susunan kalimat dan bahkan kata-kata yang digunakan banyak yang rancu. Ujung-ujungnya tetap kita sendiri yang mengoreksi dan menulis ulang semuanya agar benar-benar terasa sesuai dan tepat. Mulailah menulis satu paragraf saja terlebih dahulu.

Untuk mencapai hal tersebut, cobalah pikirkan satu kata yang mudah, yang bisa kita pakai sebagai inti kalimat. Setelah dapat katanya, coba buat satu kalimat dengan menggunakan kata tersebut. Setelah itu terus diperluas dengan menambahkan kalimat baru atau dengan meng-upgrade kata-kata yang sudah digunakan dalam kalimat pertama. Misalnya, saya terpikir kata “egg” atau telur. Bisa saja saya jadikan kata tersebut sebagai pencetus untuk kalimat “I hate egg very much”. Itu sudah satu kalimat. Bisa kemudian saya perluas kalimatnya menjadi “I hate egg very much because it causes allergic reaction and makes me feel itchy everywhere” Atau dengan menambahkan kalimat lain. “I hate egg very much. I have bad experience with egg when I was a child. I tried to make an omelet, but I cracked a rotten egg. It was stinky…. Bla bla bla…..” Mudah gak kira-kira?

Oke, itu mungkin panjang lebar cerita kita tentang bagaimana meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris. Tentunya itu semua dilakukan sebagai supplement (pelengkap) terhadap proses belajar secara formal yang dilakukan di sekolah atau di tempat kursus. Yang jelas, bahasa Inggris itu intinya adalah praktek. Melakukannya tidak bisa hanya dengan menghafal tanpa pernah “ngomongin”.

Secara keseluruhan, jika Anda telah menguasai bahasa ini dengan baik dan ingin mengikuti sertifikasi kemampuan berbahasa Inggris, saya menyarankan untuk mencoba IELTS, karena menurut saya system ini yang paling mudah dibandingkan dengan TOEFL (internet atau paper-based).

Selamat mencoba!!

 


Editor : Caroline Damanik
Sumber: