Kamis, 23 Oktober 2014

News / Edukasi

Pak Guru Ini Pun Belajar, Nak...

Rabu, 15 Mei 2013 | 17:35 WIB

Terkait

KOMPAS.com — Menjadi pengajar muda melalui gerakan Indonesia Mengajar terbukti memperkaya wawasan bagi Thontowi Ahmad Suhada, yaitu dari tidak tahu menjadi tahu.

Menjadi pengajar muda tidak sekadar berkutat dengan sekolah dan pendidikan. Bapak dan ibu guru muda ini pun belajar memahami konteks kehidupan warga, keseharian, dan pekerjaan mereka. Belajar untuk mengenal akar rumput Indonesia dan belajar memaknai Nusantara.

Thontowi pun berkisah tentang wawasan barunya tentang Bagang, cara penggunaan serta manfaatnya bagi masyarakat Bajo di Kepulauan Botang Lomang, Halmahera Selatan, lokasi SDN Torosubang tempatnya mengajar.

Pak guru ini pun terus belajar, nak...


"Bagan(g)"

"Seekor burung elang terbang berputar-putar di atas langit. Keanggunannya membentangkan sayap selalu menghipnotis mataku. Melayang terbang lalu tiba-tiba dengan penuh akurat menukik ke permukaan laut. Splash! Dengan kepakan sayap yang berat sang elang kembali ke langit dengan seekor ikan tertancap di cakarnya. Matahari pun terbenam di ufuk barat."

Hari ini aku mendapatkan kesempatan untuk naik di atas Bagang. Bagang adalah alat untuk menangkap ikan. Biasanya ikan jenis anchovy (teri-terian) atau disini biasa disebut ikan Ngafi, cumi-cumi, dan beberapa jenis ikan pelagis kecil seperti ikan kembung. Berbeda dengan bagang di Sulawesi yang menetap di suatu lokasi tertentu, bagang di sini menyatu dengan badan kapal sehingga bisa berpindah dari satu perairan ke perairan lainnya. Batang-batang kayu panjang disusun melintang sepanjang kapal, selintas seperti cadik, namun dengan luas yang lebih besar. Setiap ujung batang dipancang pada tiang utama dengan kawat. Konon, tiang pancang utama ini terbuat dari kayu besi dan memiliki berat lebih dari dua ton. Kuketukkan tanganku ke batang kayu tersebut, keras sekali, lebih seperti beton ketimbang kayu. Dengan berat seperti itu, sulit membayangkan bagaimana cara mendirikannya pada sebuah kapal tanpa peralatan modern.

Menangkap ikan dengan bagang adalah sebuah seni tersendiri. Sebuah pengetahuan yang diturunkan sejak kakek moyang mereka. Pertama-tama mereka memperkirakan daerah tempat berkumpulnya ikan. Kemudian lampu-lampu mulai dihidupkan. Dulu mereka menggunakan petromak namun sekarang mereka mulai menggunakan neon dengan generator diesel. Pernah suatu ketika datang orang dari kota menawarkan lampu dengan intensitas cahaya lebih tinggi. Namun ikan justru berkumpul di area yang jauh lebih luas daripada luas bagang sehingga lebih sulit terjaring. Yah, lebih modern dan lebih mahal, belum tentu memberikan hasil yang lebih baik.

Jaring-jaring diturunkan. Dua jam telah berlalu. Ribuan ikan Ngafi bergerak memutar-melingkar disekitar lampu. Terkadang membuat gerakan tiba-tiba namun seragam, indah sekali. Secara bertahap lampu mulai dimatikan. Mulai dari ujung, satu demi satu, hingga hanya tersisa sebuah di ujung yang lain. Alat penggulung jaring mulai diputar. Ribuan ikan berlompatan berpendar keperakan. Lebih menakjubkan lagi, mereka menjadi berkilau biru, merah, oranye, hijau begitu kufoto. Ikan-ikan ini sebagian akan menjadi ikan teri yang dikeringkan, dan sebagian lagi akan menjadi umpan hidup memancing Cakalang. Memancing Cakalang atau biasa disebut Huhatei ini akan aku ceritakan di blog selanjutnya.

Sekilas, terlihat begitu mudah mendapatkan ikan. Namun seringkali kita lebih sering ditunjukkan kisah bahagia saja. Modal sekali melaut tidaklah sedikit, belum lagi dipotong jatah pemilik bagang. Kecelakaan saat melaut juga mengintai mereka. Pernah suatu ketika, saat mereka akan mulai mengangkat jaring penuh ikan, laut mengganas. Arus laut begitu kuat mendorong kapal dari jangkarnya. Tarik menarik antara jangkar dengan arus laut membuat seluruh papan-papan kayu berderit menakutkan. Tali jangkar menegang keras, menarik alat penggulungnya miring ke laut. Jaring penuh ikan memperparah keadaan. Jaring itu menangkap arus laut, membuat kapal terdorong arus dengan lebih kuat. Pilihannya hanya dua, memotong jaring penuh ikan atau membakar tali jangkar dan menunggunya putus dari jauh. Jangan suruh menarik jangkar ke atas, itu bunuh diri kata mereka. Tarikan tali jangkar cukup kuat untuk mencerabut alat penggulung dari pangkalnya. Tak bisa dibayangkan nasib awak kapal yang terkena pentalan bila penggulung itu tercerabut, bisa hancur kepala atau tangan mereka. Keputusan harus diambil dalam hitungan detik, terlambat sedikit saja seluruh kapal bisa hancur berantakan.

Begitulah cerita salah satu awak bagang sembari menikmati segelas kopi bersama. Menjadi Pengajar Muda tidak hanya berkutat dengan sekolah dan pendidikan. Memahami konteks kehidupan warga, keseharian, dan pekerjaan mereka juga merupakan bagian dari pembelajaran kami. Belajar untuk mengenal akar rumput Indonesia. Belajar memaknai Nusantara.

 


Editor : Caroline Damanik
Sumber: