Sabtu, 25 Oktober 2014

News /

KUALITAS DOSEN

Rendah, Peminat Pendidikan Doktor

Senin, 27 Mei 2013 | 03:53 WIB

Jakarta, Kompas - Peminat pendidikan S-3 atau doktor, baik di dalam maupun luar negeri terutama untuk dosen dan peneliti, masih kurang. Akibatnya, kuota pendidikan S-3 tidak terpenuhi dan beasiswa yang sudah tersedia tak termanfaatkan.

Sebagai contoh, untuk pendidikan doktor di dalam negeri pada tahun lalu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan kuota untuk 6.000 dosen, tetapi yang mendaftar hanya sekitar 5.000 orang.

”Adapun kuota pendidikan S-3 di luar negeri, dari kuota 1.000 beasiswa yang disediakan, hanya dapat dipenuhi 800 orang,” kata Supriadi Rustad, Direktur Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Ditjen Pendidikan Tinggi, Kemdikbud, di Jakarta, akhir pekan lalu,

Padahal, kata Supriadi, jumlah dosen dan peneliti di Indonesia yang berpendidikan doktor masih sangat sedikit. Dari sekitar 270.000 dosen dan peneliti perguruan tinggi negeri dan swasta, hanya sekitar 23.000 yang berpendidikan doktor.

”Banyak dosen lebih nyaman dengan status dosen yang sudah disertifikasi karena dapat tambahan satu kali gaji tiap bulan. Kalau mereka dapat beasiswa kuliah, tunjangan sertifikasi dihentikan dulu sementara waktu,” kata Supriadi.

Pemerintah, kata Supriadi, berencana meningkatkan jumlah doktor, dengan target 30.000 dosen dan peneliti berpendidikan doktor pada tahun 2014.

Lakukan terobosan

Menurut Supriadi, penambahan jumlah dosen dan peneliti bergelar doktor tidak bisa hanya mengandalkan dari dosen yang ada. Terobosan dilakukan Kemdikbud lewat Program Doktor Sarjana Unggulan (PDSU) yang dimulai tahun ini. Program ini merupakan pendidikan yang bertujuan menyediakan dosen berkompeten dengan kualifikasi doktor.

”Lulusan S-1 yang berprestasi atau brilian digandeng oleh promotor berkualitas untuk bisa jadi doktor. Dalam empat tahun, lulusan S-1 yang mendapat beasiswa ini sudah bisa jadi doktor yang bisa mengisi kebutuhan dosen dan peneliti di perguruan tinggi,” kata Supriadi.

Salah satu perguruan tinggi yang ditunjuk dalam memberikan beasiswa PDSU adalah Institut Teknologi Bandung (ITB). Menurut Prof Pudji Astuti, Dekan Sekolah Pascasarjana ITB, di situs resmi ITB, program ini ditujukan bagi lulusan program sarjana di ITB dan universitas lain di Indonesia yang sangat berbakat, memiliki kemampuan akademik yang tinggi, kreatif, dan memiliki motivasi kerja yang baik, serta kemampuan komunikasi yang baik.

Prof M Syahril Badri Kusuma, Wakil Dekan Akademik Sekolah Pascasarjana ITB, mengatakan, peserta yang bisa ikut program ini adalah sarjana dengan nilai akademik tinggi.

Tahun 2013, calon peserta program PDSU dapat mendaftar pada program-program Matematika, Fisika, Kimia, Farmasi, serta Teknik Geofisika, Teknik Elektro, dan Teknik Informatika.

Tahun ini, ada tujuh perguruan tinggi yang ditunjuk. Selain ITB, program ini dijalankan di IPB, UI, UGM, Universitas Andalas, ITS, dan Universitas Hasanuddin. Ada 50 promotor yang ditetapkan. Kuota beasiswa berkisar 150 orang. (ELN)


Editor :