Kamis, 2 Maret 2017

Edukasi

SMK, Pilihan Hidup Generasi Muda

Senin, 14 Oktober 2013 | 15:47 WIB
Dok. Kemdikbud Pada dasarnya, lulusan SMK juga dapat melanjutkan ke perguruan tinggi (PT), walaupun secara skema mereka dapat menjadi pekerja atau berwirausaha. Tak ada perbedaan untuk masuk perguruan tinggi dari sekolah SMA maupun SMK.
KOMPAS.com - Kebutuhan akan teknisi madya sangat besar di bidang industri, baik di dalam maupun di luar negeri. Sebagai institusi pendidikan yang menyediakan teknisi madya terbesar, siswa SMK tentu memiliki keahlian bervariasi. Dari sisi peluang kerja, SMK juga pilihan terbaik, terutama bagi siswa yang tidak punya kesempatan melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi.

Pada jenjang pendidikan menengah, pendidikan jalur sekolah menengah kejuruan (SMK) diharapkan menghasilkan tamatan berkarakter, mampu mengembangkan keunggulan lokal, dan mumpuni untuk bersaing di pasar global. SMK juga harus mempunyai partner industri guna menjaga kualitas lulusan sesuai kebutuhan industri. 

Seperti disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, Mustagfirin, di Jakarta, Jumat (1/3/2013) lalu, kebutuhan industri terhadap teknisi kelas menengah sangat tinggi. Kondisi demikian merupakan peluang bagi lulusan SMK untuk mendapatkan pekerjaan di sektor industri.

Setidaknya, ada tiga keuntungan bisa diperoleh para siswa lulusan SMK. Pertama, SMK berperan sebagai elevator atau tangga tercepat dari masyarakat yang berasal dari kalangan kurang mampu untuk bisa menaikkan taraf hidupnya. Kedua, lulusan SMK bisa memiliki pilihan dalam hidupnya. Setelah lulus sekolah, mereka mempunyai pilihan untuk bekerja atau berwirausaha.

"Nantinya, begitu ada pendapatan, dia akan berpikir untuk meningkatkan kompetensi dan taraf hidupnya dengan sekolah lagi," ujar Mustagfirin.

Ketiga, lanjut Mutagfirin, SMK mampu mendukung pertumbuhan ekonomi dan industri di Indonesia.

Ujian SMK

Peraturan Mendikbud Nomor 3 Tahun 2013 sangat jelas memaparkan tentang Kriteria Kelulusan Peserta Didik dari Satuan Pendidikan dan Penyelenggaraan Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Kesetaraan dan Ujian Nasional. Secara garis besar, ada beberapa ujian SMK, yaitu ujian kompetensi (UK), ujian sekolah (US), dan Ujian Nasional (UN).

Direktur Pembinaan SMK, Anang Tjahjono, menjelaskan bahwa UK terdiri dari ujian teori dan praktik. UK menjadi kebijakan tersendiri, karena lulusan SMK ditekankan pada keahlian dan keterampilan. Lulusannya pun dapat memperoleh sertifikat keahlian sesuai dengan jurusannya. Sementara UN mata pelajaran yang diujikan sama seperti di SMA meliputi Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

Bagi kebanyakan siswa SMK, UN bukanlah suatu masalah. Hal ini mengingat kebanyakan berorientasi kerja selepas sekolah menengah.

"Jadi, mereka betul-betul belajar keahlian dengan sungguh-sungguh, karena inilah yang nantinya akan diterapkan di dunia kerja maupun wirausaha," kata Anang.

Secara filosofi, Anang berpendapat UN SMK berguna untuk memetakan penerimaan siswa dalam menerima pelajaran. Tetapi ada hal lain yang lebih penting, yaitu kompetensi lulusan SMK yang menjadi parameter keberhasilan individu lulusan. 

Perguruan Tinggi

Pada dasarnya, lulusan SMK juga dapat melanjutkan ke perguruan tinggi (PT), walaupun secara skema mereka dapat menjadi pekerja atau berwirausaha. Tak ada perbedaan untuk masuk perguruan tinggi dari sekolah SMA maupun SMK. Hanya, setiap perguruan tinggi punya evaluasi masing-masing untuk penerimaan mahasiswa baru. Di sekolah pun prestasi siswa selalu terpantau melalui nilai rapornya.

Mustagfirin menjelaskan, kurang lebih 20 persen lulusan SMK melanjutkan ke perguruan tinggi. Mereka akan berebut kursi PT dengan lulusan SMA/MA, sementara daya tamping PT masih sangat terbatas.

Lulusan SMK maupun SMA yang ingin melanjutkan pendidikan ke PT, harus memenuhi tiga syarat, yaitu kemampuan finansial, akademik, dan ada minat. Namun demikian, daya tampung PT dapat meningkat dengan keberadaan Akademi Komunitas (AK).

Pada prinsipnya, AK adalah lanjutan berbasis keterampilan dari sekolah menengah, baik bagi siswa SMA, SMK, atau Madrasah Aliyah. AK diharapkan mampu menawarkan program keahlian yang betul-betul dibutuhkan oleh masyarakat, seperti animasi, pertanian, kelautan, dan otomotif.

Anang menambahkan, pilihan lain bagi lulusan SMK adalah melanjutkan ke politeknik yang membuka sains terapan dan doktor sains terapan.

"Ini juga sesuai dengan KKNI atau Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia tahun 2012. Jadi, terlihat jelas tingkat kualifikasinya, bahwa jenjang siswa SMK tidak hanya melalui studi formal, tetapi juga dari bidang-bidang profesional ataupun kegiatan kerja mandiri," ujarnya.

Sementara itu, bagi yang memilih untuk bekerja, tidak perlu khawatir. Banyak industri di dalam dan luar negeri yang kini semakin mengakui kompetensi lulusan SMK.

"Bahkan Jepang menilai pekerjanya yang lulusan SMK sangat profesional, pekerja keras, dan berkomitmen tinggi. Ini yang membuat mereka terheran-heran," kata Anang.

Program SMK

Saat ini di SMK terdapat 6 bidang keahlian, 40 program studi, dan 121 kompetensi keahlian. Jumlah ini nantinya akan berkembang seiring diterapkannya Kurikulum 2013.

Menyikapi perubahan pada kurikulum ini, Anang melanjutkan, secara umum hanya terletak pada perubahan mata pelajaran wajib saja, seperti Agama, Pancasila, Bahasa Indonesia, dan Matematika. Sementara pelajaran lainnya tetap berjalan sesuai peminatan siswa. Yang terpenting diketahui adalah ada dua program SMK yang diselesaikan dalam waktu berbeda, yaitu program tiga tahun dan program empat tahun (satu tahun praktik lapangan).

"Jadi, lulusan SMK punya pangsa pasar tersendiri, yaitu partner industri. Bahkan, walaupun belum lulus, sudah ada yang memesan," tambah Anang.

Konsep ini sesuai dengan desain awal SMK, yaitu menghasilkan tenaga kerja yang kompeten dan bersertifikat. Proses pembelajarannya pun diarahkan pada kemandirian untuk menciptakan peluang usaha.

Siswa diberi kebebasan untuk berinovasi dan berkreativitas sesuai dengan bidangnya. Guru hanya menyampaikan permasalahannya. Sementara solusinya diserahkan kepada siswa, kemudian harus mereka presentasikan.

"Dengan begitu, siswa terlatih berinovasi menciptakan ide-ide baru untuk dikritisi guru dan teman-temannya sendiri untuk kemudian diperbaiki. Di sisi lain, communication skill siswa juga terlatih," tutur Anang.

Selain itu, guru juga berperan untuk mengajarkan sosial kultur guna memberikan bekal siswa dalam berinteraksi di lingkungan kerja. Dengan berbagai keahlian yang dimiliki, lulusan SMK memiliki banyak pilihan dalam mencari kehidupan, yaitu berkarir di dunia industri atau menekuni usaha sendiri. Semua itu bisa dilakukan oleh lulusan SMK, yang tentu saja, sesuai dengan kredo; SMK Bisa! (ARIFAH) 

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Latief
TAG: