Esensi Pendidikan Dasar Pecinta Alam, Menjawab Tantangan Ahok... - Kompas.com

Esensi Pendidikan Dasar Pecinta Alam, Menjawab Tantangan Ahok...

Latief
Kompas.com - 04/07/2014, 16:38 WIB
Dok Peni-Indro/MAPALA UI Seperti kegiatan di alam bebas lainnya, sejatinya, mendaki gunung bagaikan sedang menjalani kehidupan. Aktivitas pendakian gunung memiliki banyak bahan pengajaran pendidikan karakter yang pastinya dibutuhkan seseorang jika ingin sukses dan bahagia dalam hidupnya.
KOMPAS.com - Kegiatan pencinta alam di Indonesia sedang berduka. Duka mendalam akibat "tercoreng" oleh peristiwa kematian dua siswa SMA 3 Jakarta dalam pendidikan dasar pencinta alam di sekolah tersebut. Keduanya bukan tewas dalam bergiat di alam, melainkan dalam proses pendidikan yang diduga disertai tindakan kekerasan (bullying). 

Sejatinya, perisiwa itu tak perlu terjadi, terutama disebabkan adanya dugaan bullying. Karena, memang, hal itu tak sesuai dengan tujuan organisasi kepecintaalaman didirikan. Jelas, tak ada hubungannya antara pendidikan cinta alam dengan kekerasan fisik (Baca: Satu Lagi Siswa SMA 3 Rombongan Pencinta Alam Meninggal).

Tapi, toh, proses pendidikan kepencintalaman baru saja "makan korban". Efeknya pun buruk. Dinas Pendidikan DKI menyatakan akan menutup kegiatan ekstrakurikuler pencinta alam di semua SMA di Jakarta. Kendati ditentang oleh pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga, bahwa, proses pendidikan kepencintaalaman perlu mendapat koreksi, perlu dievaluasi.

Ahok tidak setuju dengan rencana Dinas Pendidikan DKI menutup kegiatan ekstrakurikuler pencinta alam di semua SMA di Jakarta. Lalu, kalau Ahok bilang begitu, mau apa para pencinta alam di sekolah-sekolah itu? Ini tidak main-main, karena memang nyawa taruhannya!

Jiwa dan fisik sehat

"Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan, mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat".

Kalimat itu meluncur dari mulut seorang Soe Hok Gie, aktivis '66 yang juga tokoh pencinta alam pendiri Mahasiswa Pencinta Alam Universitas Indonesia ( Mapala UI). Kalimat tersebut seperti kembali mengingatkan soal hakikat pencita alam yang baru saja "tercoreng" oleh peristiwa meninggalnya siswa SMA 3 Jakarta dalam pendidikan kepencintaalaman itu sendiri.

Kembali pada ucapan almarhum Soe Hok Gie, ia melanjutkan:"Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan, mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat".

Dalam perjalanan di alam bebas terkait kegiatan kencintaalaman, seseorang tentu disuguhkan pada keindahan dan kemegahan alam pegunungan. Dengan hadir secara langsung, semua panca indranya terlibat untuk membuktikan alam begitu indah sehingga mereka akan bertanggung jawab untuk selalu memeliharanya.

Dok MAPALA UI Awalnya, organisasi kepecintalaman didirikan untuk tujuan pembangunan karakter, yaitu rasa cinta tanah air, tanggung jawab, semangat pantang menyerah, dan persahabatan. Semua itu dapat terwujud dengan cara bergiat di alam bebas.
Ya, di alam seseorang akan dilatih untuk menjadi seseorang yang penuh cinta pada lingkungannya. Ia akan terasah untuk bertanggung jawab pada dunia, paling tidak pada lingkungan di sekitarnya. Tidak membuang sampah sembarangan atau merusak ekosistem yang ada menjadi pelajaran paling sederhana, namun sangat penting yang bisa didapat melalui aktivitas naik gunung sebagai salah satu wujud kegiatan atau pendidikan pencinta alam.

Seperti kegiatan di alam bebas lainnya, sejatinya, mendaki gunung bagaikan sedang menjalani kehidupan. Aktivitas pendakian gunung memiliki banyak bahan pengajaran pendidikan karakter yang pastinya dibutuhkan seseorang jika ingin sukses dan bahagia dalam hidupnya.

"Kata karakter di sini maksudnya bagaimana seseorang menampilkan kebiasaan positif dalam menyikapi segala kejadian yang dihadapinya dalam kehidupan. Kebiasaan positif itu tentunya dapat dipelajari dan perlu dibangun atau dilatih. Melalui kegiatan mendaki gunung, seseorang dapat membangun karakter positif dirinya dengan alamiah," ujar Nouf Zahrah Anastasia, praktisi psikologi yang kini menjabat Head of Special Education Sekolah Cita Buana kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (4/7/2014).

Nouf mengatakan, semua orang tahu, bahwa mendaki gunung kerap kali diidentikan dengan kegiatan "heroik" seorang anak pencinta alam. Bahkan, kegiatan tersebut dianggap olahraga yang menyerempet-nyerempet bahaya, dan tentu saja; kematian. Tetapi, kematian bukan dalam proses pendidikannya, tahapan membekali dirinya. Bukan itu!

"Semua itu benar, terutama jika dilakukan tanpa bekal pengetahuan yang cukup dan persiapan matang. Bukan apa-apa. Mendaki gunung adalah aktivitas yang jelas-jelas melibatkan kegiatan fisik berat di tengah alam yang sulit ditebak kondisinya," ujar Nouf. 

Dpk Fanny Winara/MAPALA UI Ilustrasi: Simulasi ekspedisi Arung Jeram Sungai Lariang Mapala UI di Sungai Cimanuk, Jawa Barat.
Esensi yang melenceng

Awalnya, organisasi kepencintalaman didirikan untuk tujuan pembangunan karakter, yaitu rasa cinta tanah air, tanggung jawab, semangat pantang menyerah, dan persahabatan. Semua itu dapat terwujud dengan cara bergiat di alam bebas.

Sejenak, melihat ke belakang, organisasi pencinta alam dibentuk untuk mewadahi para anak muda yang ingin berkelana di alam bebas. Dengan berkelana di alam bebas tersebut, mereka dapat bekerja sama dengan rekan seperjalanannya. Selain itu, mereka juga dapat bersilaturahmi dengan penduduk setempat untuk menebar semangat persahabatan.

Kegiatan kepencintalaman seyogianya dibentuk untuk meningkatkan intelektualitas, jasmani, dan rohani. Sebagaimana disampaikan oleh Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, pendidikan itu dapat diperoleh melalui sekolah, keluarga, dan pergerakan. Kegiatan kepencintalaman ini merupakan salah satu wadah pendidikan berbentuk pergerakan.

Dalam kegiatan ini, pembelajaran bukan hanya diperoleh dari mendengar, tetapi juga diperoleh dari  melihat, dan merasakan. Oleh karena itu, ide untuk menghentikan kegiatan kepencintalaman kurang tepat karena itu sama saja memampatkan basis pendidikan.

Ya, seperti perkataan Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, kegiatan pencinta alam di sekolah harus dibina dengan baik, bukan begitu saja perlu dihentikan. Pendidikan dasar pencinta alam di sekolah-sekolah perlu dievaluasi lagi. (Baca: Ahok Tak Setuju Ekskul Pencinta Alam Ditutup).

"Dalam pendidikan Mapala UI, senior berperan sebagai mentor, yang menjadi pembimbing sekaligus teman diskusi calon anggota. Jadi senior itu, justru bersifat menjadi teman jalan. Biar alam yang membentuk mental calon anggota," ujar Ridwan Hakim (21), Ketua Mapala UI kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (4/7/20140).

Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UI itu menuturkan, bahwa dalam melaksanakan pendidikan terhadap “anak baru”, Mapala UI melakukannya dengan gaya "teman ngobrol dan teman jalan". Sistem itu terdefinisikan melalui senior yang berperan sebagai mentor pembimbing, dan sekaligus teman berdiskusi.

"Itu dilakukan supaya kemampuan berorganisasi melalui manajemen perjalanan yang baik dapat diinternalisasikan oleh setiap anggotanya. Bukan dengan hukuman, apalagi pakai main fisik," ujarnya.

Selain itu, lanjut Ridwan, memang perlu adanya latihan fisik untuk menunjang kegiatan di alam bebas. Latihan fisik adalah suatu kebutuhan untuk menjalankan kegiatan di alam bebas, bukan perintah, apalagi paksaan seorang senior. Senior adalah teman diskusi, bukan tempatnya hukuman.

Namun, ketika pelatihan fisik dan mental menjadi satu-satunya indikator dalam kegiatan kepencintalaman saat ini, premis tersebut berdampak pada wacana bahwa seorang yang gagah dan berani seolah-olah menjadi gambaran seorang yang bergiat di alam. Esensinya malah melenceng.

Ridwan mengatakan, paradigma yang mungkin dijalani para siswa SMA tersebut seolah menimbulkan konsekuensi logis yang membuat adanya kekerasan dalam kegiatan kepencintalaman. Hal tersebut diperparah dengan banalisasi kekerasan dalam kegiatan, yang bahkan cenderung menjadi sesuatu yang menawan bahwa; makin keras, makin macho.

"Dalam hal ini, kami siap membantu meniadakan praktik-praktik kekerasan dalam kegiatan kepencintalaman melalui metode pendidikan yang tepat, sebagaimana usulan Bapak Ahok. Mari kita melihat dengan jernih, tujuan dibentuknya organisasi pencinta alam. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air, dan sesama hidup. Kekerasan bukan melambangkan kegiatan kepencintalaman," kata Ridwan.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisLatief
EditorLatief
Komentar
Close Ads X