Selasa, 28 Maret 2017

Edukasi

Ingat... Sukses Bukan Sekadar IPK Tinggi!

Selasa, 5 Mei 2015 | 17:56 WIB
www.shutterstock.com



KOMPAS.com — Dunia semakin membutuhkan manusia-manusia kreatif, proaktif, dan berintegritas. Karena itu, para lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki kompetensi tersebut sehingga Indonesia mampu bersaing di tingkat internasional. Tuntutan kompetensi itu menyangkut aspek teknis atau hard skill dan non-teknis atau soft skill.

Survei National Association of College and Employee (NACE) di Amerika Serikat pada 2002 mengungkapkan fakta mengejutkan. Dari 20 kriteria penting seorang juara, indikator "IPK tinggi" hanya menempati urutan ke-17. Ternyata, menurut survei tersebut, indikator terpenting dari seorang juara adalah kemampuan komunikasi, integritas, kerja sama, dan etika.

Tak hanya itu. Bahkan, hasil penelitian Universitas Harvard menunjukkan bahwa kesuksesan seseorang tidak semata ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan teknis (hard skill), tetapi juga keterampilan mengelola diri dan orang lain (soft skill). 

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa hard skill hanya menentukan 20 persen kesuksesan sesorang. Adapun sisa 80 persennya ditentukan oleh kemampuan soft skill

Sementara itu, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa saat mengawali kariernya para lulusan perguruan tinggi kerap menemui kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kerja. Selain masalah aplikasi teori perkuliahan dalam praktik kerja, mereka juga bergelut dengan masalah komunikasi intrapersonal. Alhasil, motivasi kerja menurun dan penurunan kualitas kerja bisa saja terjadi.

Peran penting perguruan tinggi

Perguruan tinggi seyogianya mampu mengambil peran sebagai jembatan antara pendidikan dan dunia kerja. Sebagai pemasok utama SDM siap kerja, mereka harus mulai menyinergikan kebutuhan aspek teknis dan non-teknis dalam kurikulum pembelajaran. 

Agustinus Nicolaas Hillebrandes Oroh atau Nico, Head of Undergraduate Program of Marketing di Fakultas Business Binus International, kepada Kompas.com, Rabu (22/4/2015), di kantornya, memaparkan pentingnya pengembangan aspek non-teknis dalam pembelajaran di perguruan tinggi. 

"Misi kita melatih mahasiswa untuk menjadi decision maker dan entrepreneurs sehingga mereka punya kualitas untuk masuk ke top management level, misalnya CEO, president director, dan lain-lain," tutur Nico. 

Karena itu, lanjut Nico, semakin tinggi posisi seseorang dalam piramida organisasi, semakin tinggi pula tuntutansoft skill-nya. Pada posisi manajerial, dia harus berinteraksi dengan banyak orang, mengambil keputusan penting, mengendalikan bawahan, kerja sama tim, juga menentukan prioritas. 

"Di posisi itu, dia dituntut mampu mengelola berbagai keadaan dan orang-orang dengan berbagai karakter dan kepribadian. Saat itulah soft skill-nya diuji," tutur Nico. 

Nico menambahkan, dalam menjembatani kebutuhan dunia kerja, perguruan tinggi wajib memiliki rancangan kurikulum yang mengedepankan penggunaan teori.

"Di program S-1, kami punya mata kuliah wajib, yaitu Business Simulation. Di situ mahasiswa diajarkan bagaimana memakai ilmu yang dipelajari. Bentuknya case study menggunakan internet dan ada lisensinya," kata Nico.

Mata kuliah Business Simulation terintegrasi dengan semua program di Binus International. Perkuliahan untuk program S-2 bahkan lebih banyak membahas tentang aplikasi teori yang sedang diajarkan.

"Kadang kita mendiskusikan tentang bagaimana mengaplikasikannya di situasi perusahaan dia. Dosen malah jadi konsultan gratis," ujarnya. 

Nico berharap, para mahasiswa mengerti cara mengaplikasikan ilmu dalam dunia kerja sehingga prospek karirrnya kian gemilang. 

www.shutterstock.com
Pengenalan dunia kerja


Sudah saatnya perguruan tinggi mengelola secara maksimal program magang untuk para mahasiswanya. Ketika magang di suatu perusahaan, pihak kampus harus memastikan para mahasiswa ditempatkan sesuai spesifikasi jurusan.

"Jangan sampai hanya jadi tukang fotokopi," katanya. 

Menghindari hal itu, lanjut Nico, sebelum mahasiswa terjun magang di perusahaan ada standar of procedure (SOP) yang wajib dipatuhi. Ada kesepakatan tertulis antara pihak universitas dan perusahaan tentang di mana dan apa yang akan dikerjakan oleh mahasiswa selama proses magang. 

"Misalnya, saat kita bekerja sama dengan universitas di Belanda, mereka memberikan daftar perusahaan. Lalu, kita buat daftar job desk untuk mahasiswa magang kita di sana," ujarnya. 

Menurut dia, hal tersebut mutlak perlu dilakukan agar mahasiswa dapat menggali semua pengalaman tentang dunia kerja selama magang. 

"Mereka harus keliling departemen supaya mengerti cara dan teknik kerja, etika, dan cara berkomunikasi dalam tim. Jadi, nanti ketika lulus, mereka tahu kerja itu sebenarnya gimana," ujarnya.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:


Konten ini adalah kerjasama antara Kompas.com dengan Binus
Penulis: Adhis Anggiany Putri S
Editor : Latief
TAG: