Kamis, 2 Maret 2017

Edukasi

Mengajarkan Kenikmatan Belajar

Minggu, 28 Februari 2016 | 07:49 WIB
KOMPAS / LUCKY PRANSISKA Siswa kelas 1 di SD Inpres Tiom, Lanny Jaya, Papua, memulai kegiatan belajar, Selasa (28/7/2015). Kegiatan belajar di sekolah tersebut baru dimulai untuk kelas 1 dan 2, sementara kelas lain belum berkegiatan karena guru belum hadir. Beberapa orang tua murid pun baru mendaftarkan anaknya ke sekolah.
Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Sebagai orang tua saya kadang khawatir soal masa depan anak saya. Akan jadi apa mereka kelak? Orang tua manapun tentu ingin anaknya tumbuh tanpa kekurangan, dan sukses dalam menjalani hidup mereka.

Tapi tak jarang kita temui orang tua yang “gagal”. Orang tua sukses menjalani hidup mereka sendiri, tapi gagal mengantarkan anak menjadi orang yang sukses.

Istilah sukses itu sendiri memang punya banyak sisi. Terkadang sulit membuat ukuran-ukuran mengenainya. Kerumitan inilah salah satu pangkal kegagalan orang tua.

Mereka mendefinisikan sukses secara sempit, umumnya berpusat pada kesuksesan mereka sendiri. Kemudian memaksakan agar anak-anak mereka mengikuti jalan yang sama.

Tak jarang anak yang punya keinginan sendiri ditekan sedemikian rupa. Ada yang “berhasil”, dalam arti mengikuti jejak orang tua, namun mereka sendiri tidak bahagia.

Tapi tak sedikit yang akhirnya tidak jadi apa-apa. Tidak jadi seperti orang tua mereka, pun tidak jadi diri mereka sendiri.

Saya (merasa) menyadari hal itu. Saya tidak ingin anak-anak mengikuti jejak saya. Mereka harus tumbuh dan berkembang sesuai minat dan bakat mereka.

Posisi saya adalah membantu mereka membangun minat, dan mengembangkan bakat, dan mencari jalan menuju sukses. Jalan itu sendiri harus mereka jalani dengan menikmatinya.

Tapi jujur saja, hal itu sepertinya tak mudah dilakukan. Dunia di luar sana begitu luas, sementara yang sudah pernah kita sentuh masih sangat sempit cakupannya.

Bagaimanapun juga ketika anak menapak menuju dunia yang sama sekali tidak kita kenal, kita akan merasa khawatir.

Kebanyakan orang tua sepertinya merasa nyaman kalau anak menapaki jalan yang sudah mereka kenal. Sukur-sukur melalui jalan yang sudah pernah mereka lewati sendiri.

Kadang saya khawatir, bagaimana kalau prestasi belajar anak-anak saya pas-pasan? Bagaimana kalau prestasinya tidak menonjol? Lalu tidak dapat tempat di universitas yang bagus. Atau bahkan tidak mau kuliah sama sekali.

Bagaimana kalau mereka tidak berminat untuk jadi orang sukses? Bagaimana kalau mereka tidak berminat jadi apa-apa? Saya yakin setiap orang tua, atau kebanyakan orang tua punya kekhawatiran itu.

Lalu bagaimana? Orang tua saya bukanlah orang berpendidikan. Ayah kelas dua Sekolah Rakyat, Emak tak pernah sekolah sama sekali. Mereka juga bukan orang sukses dalam ukuran orang-orang pada umumnya. Mereka “hanya” petani kelapa.

Tapi dengan semua “kekurangan” itu mereka sukses mendidik anak-anak. Mereka adalah orang-orang yang menjadi orang tua secara alami.

Saya berkeyakinan bahwa saya dengan pendidikan dan pengalaman selama ini, punya modal yang lebih baik. Maka saya yakin seharusnya saya juga bisa lebih baik.

Page:

Editor : Wisnubrata