Mahasiswa Indonesia di Selandia Baru Pelajari Evolusi Teroris di Tanah Air - Kompas.com

Mahasiswa Indonesia di Selandia Baru Pelajari Evolusi Teroris di Tanah Air

Irfan Maullana
Kompas.com - 29/04/2016, 22:11 WIB
KOMPAS.com/IRFAN MAULLANA Kapten Malvino Edward Yustica Sitohang di Victoria University of Wellington, Selandia Baru.


KOMPAS.com - Kebutuhan teroris akan internet di negara kita telah mengalami evolusi. Demikian dituturkan seorang anggota polisi Polda Metro Jaya, Kapten Malvino Edward Yustica Sitohang, ketika membuka perbincangan dengan Kompas.com saat berkunjung ke Victoria University of Wellington, Selandia Baru, belum lama ini.

Malvino, yang tengah mengeyam pendidikan Strategic Studies di Victoria University of Wellington, mengatakan bahwa teroris di Indonesia telah mengalami empat tahap evolusi dalam penggunaan internet.

"Mulai dari justifikasi, propaganda, rekrutmen, finansial," kata Malvino.

Untuk evolusi keempat, yakni kebutuhan internet untuk menunjang kekuatan finansial, terdakwa perkara terorisme Mawan Kurniawan alias Mawan alias Clicker, menjadi contoh nyata yang pernah dihadapi Indonesia.

"Nah untuk finansial ini bisa kita lihat dari kasus Mawan Kurniawan alias Mawan alias Clicker," kata Malvino.

Mawan dinilai membantu Rizki Gunawan alias Rony Setiawan alias Luqman Gun alias Gesek alias Kiki, terdakwa lain, meretas (hacking) situs investasi, yaitu speedline.com, untuk tujuan terkait dengan terorisme.

Bobol situs

Membobol situs memang bukan pekerjaan mudah bagi kebanyakan orang. Namun, bagi orang sekelas Mawan, pekerjaan itu tidak terlalu sulit dilakukan.

Sebagai karyawan swasta dan programmer serta lulusan perguruan tinggi informatika, Mawan dapat membuat bermacam program untuk membobol sebuah situs, seperti mengubah tampilan (deface). Mawan pernah didakwa mengubah tampilan beberapa situs, antara lain situs Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Panin Sekuritas.

Sejak November 2010, menurut jaksa penuntut umum, terdakwa Mawan kemudian juga membantu membuat program stealer bagi terdakwa Rizki Gunawan alias Luqman Gun untuk membobol situs investasi.

Selain itu, Mawan juga membuat program checker. Fungsi program itu, antara lain, mengecek validitas login dari e-mail, Paypal, dan Facebook serta mengetahui isi data (content) dari e-mail, Paypal, dan Facebook tersebut.

Dengan program-program yang dibuat terdakwa Rizki dan teknik-teknik lain, Rizki alias Luqman dapat memanfaatkan program-program dari Mawan untuk membobol situs investasi. Dengan menggunakan program yang diberikan oleh terdakwa, Luqman mampu mengumpulkan uang sekitar Rp 4 miliar.

Sebagian besar uang itu digunakan untuk pelatihan militer terkait di Poso. Dari hasil hacking itu, terdakwa Mawan juga mendapatkan uang sekitar Rp 300 juta dari Rizki alias Luqman.

Berdasar kasus Mawan, kata Malvino, tantangan memerangi teroris di Tanah Air akan semakin rumit.

"Indonesia ke depan makin kompleks, sebab tantangan kita ke depan adalah perang hibrida, bukan lagi perang yang tembak-tembakan," ujarnya.

PenulisIrfan Maullana
EditorLatief
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM