Sistem Pendidikan dan Kebutuhan Bisnis Belum "Match" - Kompas.com

Sistem Pendidikan dan Kebutuhan Bisnis Belum "Match"

Latief
Kompas.com - 08/11/2016, 09:53 WIB
M LATIEF/KOMPAS.com CEO Bina Nusantara Group Bernard Gunawan Binus University saat membuka Binus Industry Partnership Program (BIPP) 2016 di Shanghai, China, Selasa (8/11/2016).

SHANGHAI, KOMPAS.com - Binus University kembali menggelar Binus Industry Partnership Program (BIPP) 2015 di Shanghai, China, Selasa (8/11/2016). Program tersebut diinisiasi untuk membina kerjasama antara perguruan tinggi, khususnya Binus University, dengan pihak industri dalam menyelenggarakan program magang.

CEO Bina Nusantara Group Bernard Gunawan mengatakan program BIPP yang digelar untuk ketiga kalinya ini diharapkan bisa memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan di industri. Banyak hal bisa digali oleh kedua pihak untuk menghadapi tantangan masa depan.

"Kami selalu mengundang rekan-rekan industri ini tujuannya untuk bertukar pikiran tentang kualitas anak-anak (mahasiswa) kami dan tentu juga berharap bisa mendapatkan banyak masukan dari industri. Kami berharap di tahun ketiga ini hubungan dengan industri semakin kuat, karena saya yakin banyak yang bisa dieksplorasi bersama-sama," ujar Bernard.

Bernard optimistis SDM dari kedua belah pihak akan sangat bisa bekerja sama. Di Binus sendiri misalnya, tercatat sampai tahun ini sebanyak 8.521 mahasiswa mendaftar di Binus, dengan jumlah alumni mencapai 93.601 orang, dan dengan 861 kerjasama industri.

"Bisa dibayangkan betapa besarnya potensi untuk bisa digarap bersama-sama dengan industri saat ini dan ke depan," kata Bernard.

M LATIEF/KOMPAS.com Binus University kembali menggelar Binus Industry Partnership Program (BIPP) 2015 di Shanghai, China, Selasa (8/11/2016).
Rektor Binus Institut Teknologi Kreatif at Malang, Ir Boto Simatupang, menambahkan bahwa sampai saat ini sistem pendidikan dan kebutuhan bisnis atau industri masih belum "match". Hal itu bisa sangat mengkhawatirkan, karena saat ini ekonomi Indonesia masih di peringkat 16 terbesar dunia, sementara di 2030 ekonomi diprediksi di posisi 7 terbesar di dunia.

"Ini harus disiapkan dari perguruan tinggi dan industri, terutama soft skills mereka," ujar Boto.

Untuk itu, lanjut Boto, fokus Binus saat ini adalah menghasilkan SDM yang bisa bersaing dan menang dalam persaingan atau menjadi enterpreneur. Strateginya adalah mengedepankan kualitas akademik, memperkuat riset, dan internasionalisasi.

"Kita sadar tidak bisa sendiri, untuk itu kami terus kedepankan program 3+1," kata Boto.

Program 3+1 adalah program yang memberikan kesempatan bagi mahasiswa semester 6 jurusan apapun untuk merasakan pengalaman kerja di dunia nyata (industri) selama 1 tahun.

Selama setahun sisa masa kuliahnya itu mahasiswa akan belajar di luar lingkungan kampus dan menimba ilmu dari perusahaan-perusahaan multinasional atau global.

Melalui program ini, lanjut Boto, para mahasiswa dapat terjun lebih awal ke dunia kerja. Dengan cara itulah, menurut dia, mahasiswa memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan mahasiswa universitas lain.

"Ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmunya dan belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya," ujar Boto.

PenulisLatief
EditorLatief
Komentar
Close Ads X