Kamis, 2 Maret 2017

Edukasi

“Emakku bukan Kartini“, Cerita Perjuangan Perempuan Perkasa

Selasa, 14 Februari 2017 | 13:43 WIB
KOMPAS.com/BUDIYANTO Petani memanen padidi Cidolog, Sukabumi, Jawa Barat, Kamis (10/11/2016).
Oleh: Hasanudin Abdurakhman

Perempuan sering dianggap makhluk lemah. Perempuan sering bersimpuh tak berdaya di hadapan kezaliman, atau tekanan sosial. Atau terhadap keadaan yang tak bersabahat. Apalah dayaku, karena aku hanya seorang perempuan.

Emakku hanya perempuan biasa. Ia bahkan tak pernah sekolah, karena di kampungnya dulu memang tak ada sekolah. Andai pun ada, Emak mungkin tak akan dapat kesempatan memasukinya. Karena ia hanya seorang perempuan. Perempuan tak perlu sekolah, tak perlu belajar. Ketika ada kesempatan belajar kajian sederhana, ayahnya melarangnya ikut serta.

Namun Emak tak menyerah pada kemiskinan yang membelitnya. Juga tidak pada ketiadaan yang ia hadapi. Meski tak pernah sekolah, cakrawalanya terbentang jauh melampaui pulau kecil tempat kampungnya berada. Ia punya cukup kesadaran bahwa pendidikan adalah jalan untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi anak-anaknya.

Hijrah adalah langkah pertama yang diambil Emak. Ia ajak suaminya, seorang buruh tani, untuk pindah kampung, ke tempat di mana mereka berdua bisa punya tanah. “Tanah adalah modal dasar hidup kita,” katanya.

Saat memegang kapak untuk merimba, menebang pohon, membuka lahan untuk dijadikan ladang, Emak sama perkasanya dengan lelaki manapun di dunia ini. Ayunan kapaknya berdesing saat melewati udara, menghujam dalam, melukai pohon perkasa.

Batang demi batang pohon bertumbangan, tunduk di bawah kakinya. Di kaki itulah lalu terbentang ladang garapan pemberi harapan. Di situlah berkembang padi, lalu kelapa yang menjadi penopang nafkah keluarga.

Kusaksikan sendiri ayunan parang Emak saat kami bersama menebas rumput-rumput yang menyelimuti kebun kelapa. Kupandangi pula ayunan cangkul dan penggalinya, saat ia menggali parit selokan di tengah kebun. Kunikmati pula belai tangannya saat ia menidurkanku.

Telapak tangan Emak bukanlah telapak tangan halus dengan jemari lentik. Telapak tangan itu kasar, tapi kokoh menjanjikan perlindungan bagi masa depan kami.

Emak berwatak keras. Ayahnya melarangnya belajar. Ia diam ketika itu. Tapi ia menyimpan dendam. “Tak ada yang boleh melarang kalau kelak anakku hendak kusekolahkan,” tekadnya.

Bahkan ketiadaan sekolah di kampung kami pun tak menghalanginya. Ia rela mendayung sampan 3 hari, pergi ke kampung pamannya, menitipkan anaknya sekolah di sana.

Emak adalah penggerak. Melalui suaminya ia membuat orang-orang kampung bergerak, membangun sekolah. Ia adalah pelopor, ia yang pertama mengirim anak-anaknya sekolah ke kota.

Bertani saja tak cukup untuk menjamin anak-anaknya bisa sekolah. Emak kemudian berdagang. Ia membeli baju dan kain dari kota, kemudian menjajakannya berkeliling kampung. Ia juga merias pengantin. Segala sesuatu yang bisa dijadikan sumber pendapatan, akan dikerjakannya.

Di hari tuanya Emak bukan orang kaya raya. Tapi pasti, ia tak lagi fakir. Anak-anaknya mendapat pendidikan, kemudian hidup layak. Emak menikmati hari tuanya dengan sederhana.

Emakku bukan Kartini. Ia tak menulis untuk menginspirasi banyak orang. Ia hanya berbuat, membuktikan bahwa perempuan tak selalu lemah dan menyerah. Ia menunjukkan dengan perbuatan, bahwa kemiskinan bisa dilawan.

Emak bukanlah tokoh bangsawan, ia pun bukan petinggi di tengah masyarakat. Tapi ia telah menunjukkan hal yang paling substansial dalam soal kepemimpinan. Yaitu bahwa kepemimpinan itu adalah memberi pengaruh pada orang, untuk membuat perubahan.

Entah ada berapa juta perempuan seperti Emak di negeri kita. Emak-emak perkasa, yang membebaskan anak-anaknya, menjadi tak lagi papa dan sengsara. Di tangan mereka nasib kita, nasib bangsa ini diubah.

Baca juga: Emakku Bukan Kartini

Catatan: cerita perjuangan Emak penulis ini dituangkan dalam buku yang bisa dibeli di Gramedia lewat tautan ini.

Editor : Wisnubrata