Bisakah Saya Mengatur Waktu? - Kompas.com

Bisakah Saya Mengatur Waktu?

Hasanudin Abdurakhman
Kompas.com - 17/02/2017, 05:30 WIB
iStockphoto.com/kvkirillov Ilustrasi waktu

Saya sering mendengar pertanyaan ini. Bisakah saya mengatur waktu? Seorang mahasiswa bercerita bahwa ia sedang berbisnis online, dan usahanya sedang tumbuh. Ia bertanya pada saya, apakah dia perlu meninggalkan kuliah untuk mengurus bisnisnya. Ia khawatir tidak bisa mengatur waktu dengan baik, sehingga membuat salah satu urusannya terbengkalai.

Ada pula seorang manajer di dealer sepeda motor. Ia anak muda yang penuh semangat. Meski hanya lulusan SMA ia bisa meniti karir, dari petugas sales sampai jadi manajer. Ia ingin menambah ilmu, dengan masuk ke perguruan tinggi. Tentu saja ia harus kuliah sambil kerja. Ia punya kekhawatiran yang sama, bisakah saya mengatur waktu.

Mengatur waktu adalah soal mengelola alokasi waktu. Kita semua punya waktu yang sama, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jatah itu tak bisa kita tambah, juga tak bisa dikurangi. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengelola waktu itu, untuk apa ia kita gunakan.

Mengelola waktu itu sama seperti mengisi sebuah kotak. Setiap orang punya kotak dengan ukuran atau volume sama. Berapa banyak barang yang bisa kita masukkan dalam kotak itu, tergantung bagaimana kita menyusun barang tersebut di dalam kotak.

Kalau kita masukkan barang secara serampangan, maka akan banyak celah di antara barang-barang itu, tidak terisi, dan menjadi mubazir. Kita hanya bisa memasukkan sedikit barang.

Celah tadi adalah waktu antara, waktu luang antara satu kegiatan dengan kegiatan lain. Banyak yang gagal mengelola atau mengisi waktu ini, sehingga waktunya terbuang percuma. Ia lalu merasa tidak punya cukup waktu. Padahal ia punya banyak waktu.

Bagaimana memanfaatkan waktu luang ini? Pertama, usahakan mengatur jadwal dengan rapi, sehingga tidak banyak celah atau waktu senggang antara satu kegiatan dengan kegiatan lain. Persis seperti kita menata rapi letal barang-barang dalam kotak, sehingga celah-celah kecil tadi bisa terakumulasi menjadi celah besar yang bisa diisi dengan barang lain.

Praktisnya, segera lakukan hal lain, begitu Anda selesai mengerjakan suatu hal. Atur jadwal agar Anda bisa pindah dari satu agenda ke agenda lain dengan cepat.

Cara lain adalah dengan mengisi waktu luang tadi secara efektif. Ada kegiatan yang bisa dicicil, maka lakukan kegiatan itu di sela-sela kegiatan lain. Banyak orang yang gagal memanfaatkan waktu sela ini.

Waktu dalam perjalanan, di bis atau kereta, misalnya, bisa diisi dengan membaca atau menulis. Bagaimana dengan yang menyetir sendiri? Saya dulu sering memanfaatkan waktu selama menyetir dengan berpikir. Banyak gagasan tulisan, atau solusi masalah yang terpikirkan selama menyetir.

Kita bisa pula mengelola kotak waktu kita dengan memperpendek waktu untuk setiap kegiatan. Ibarat memasukkan barang tadi, barangnya kita tekan agar volumnya menjadi lebih kecil. Kita latih diri kita untuk mengerjakan pekerjaan dengan cepat. Sesuatu yang biasanya kita kerjakan dalam waktu 1 jam, kita kerjakan dalam waktu 45 menit. Maka kita punya waktu ekstra, 15 menit.

Apa pekerjaan yang bisa dipercepat? Salah satunya adalah rapat. Ada begitu banyak orang membuang waktu pecuma untuk rapat-rapat yang bertele-tele. Ada banyak rapat yang sebenarnya bahkan tidak perlu dilakukan. Kita bisa berunding lewat telepon atau email, tapi kita memilih untuk rapat. Ditambah lagi, kita rapat secara bertele-tele.

Bila tidak ada lagi celah, tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dimampatkan waktu pengerjaannya, maka pilihan terakhir adalah seleksi.

Dari sejumlah agenda yang kita miliki, ada sejumlah agenda yang harus kita buang dari jadwal kita, untuk diganti dengan jadwal yang lebih penting. Ini adalah soal penetapan prioritas.

Masih adakah cara lain? Ada. Pakai waktu orang lain. Ibarat kotak tadi, kita tempatkan isi kotak kita ke kotak orang lain.

Bagaimana bisa? Itu namanya pendelegasian. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa kita serahkan kepada orang lain, tidak perlu kita kerjakan sendiri. Ini namanya pendelegasian.

Banyak manajer atau pemimpin yang pontang panting kehabisan waktu, karena ia mengerjakan semuanya sendiri. Sementara bawahannya menganggur. Delegasikan pekerjaan kepada staf, bawahan, atau bahkan sejawat, maka Anda akan bisa menikmati tambahan waktu.

Ingatlah. Kita sebenarnya tak kekurangan waktu. Kita hanya sering membuangnya secara sia-sia.

EditorWisnubrata
Komentar
Close Ads X