Begini Cara Baru Manfaatkan Duit Pecahan Rp 100.000 - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dan AXA

Begini Cara Baru Manfaatkan Duit Pecahan Rp 100.000

Josephus Primus
Kompas.com - 17/02/2017, 07:03 WIB
Thinkstock ilustrasi uang dalam amplop.


KOMPAS.com
 -
Dua proklamator kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Mohammad Hatta, boleh jadi adalah sosok paling melegenda di Indonesia. Nama mereka masih terus muncul dan digunakan, termasuk di mata uang rupiah.

Gambar Soekarno-Hatta terbilang paling lama terpampang pada pecahan uang kertas Rp 100.000. Laman resmi Bank Indonesia, menyatakan uang kertas Rp 100.000 bergambar Soekarno-Hatta sampai kini masih ada dan berlaku sejak emisi itu terbit pertama kali pada 1 November 1999.

Tercatat pecahan mata uang Rp 100.000 telah mengalami tiga kali pergantian tampilan. Pertama, pada 29 Desember 2004. Berikutnya pada 17 Agustus 2014 dan terkini terjadi pada 19 Desember 2016.

Semua perubahan itu sama sekali tak menanggalkan nama dan gambar Soekarno Hatta dari tampilannya. Sudah begitu, uang kertas Rp 100.000 hingga saat ini merupakan uang kertas rupiah dengan nilai ekstrinsik tertinggi.

Buat apa saja?

Dalam kehidupan nyata, uang kertas Rp 100.000 merupakan bagian dari keseharian. Khusus bagi para pekerja, minimal satu bulan sekali impian memiliki lembaran Rp 100.000 selalu menjadi kenyataan.

Bagi kebanyakan kelompok pekerja, "kebahagiaan" pada umumnya dirasa ketika kalender masih menunjukkan angka "satu digit". Dompet masih terasa tebal, hasrat untuk berbelanja sekehendak hati masih membuncah. Pada saat itu, masuk akal bila selembar uang kertas Rp 100.000 seakan tak ada arti, cepat sekali berpindah tangan.

Namun, hidup terus berjalan, tak berhenti pada pengujung hari ini saja, apalagi hanya pada angka satu digit di kalender. Agar tetap bisa mawas diri dan mengelola keuangan lebih baik, setiap orang perlu merencanakan lebih. Sama-sama selembar uang pecahan Rp 100.000, pilihan penggunaan yang akan menentukan sebesar apa manfaatnya.

Bagi pekerja sekaligus pasangan muda yang belum punya anak, misalnya, disarankan untuk mulai membeli polis asuransi. Salah satu kebutuhan pada masa depan yang butuh antisipasi adalah biaya pendidikan anak. Kabar baiknya, layanan asuransi seperti yang disediakan AXA Mandiri dan AXA sudah pula mencakup kebutuhan tersebut.

Asuransi pendidikan anak merupakan bagian penting dari perencanaan keuangan. Perencana keuangan Pandji Harsanto dalam blog-nya memberikan penekanan terutama bagi pasangan di bawah usia 30 tahun untuk segera menyiapkan asuransi pendidikan ini.

AXA Mandiri & AXA Ilustrasi seseorang yang lulus jenjang pendidikan sarjana dari hasil pengelolaan keuangan.

Merencanakan sejak dini biaya pendidikan anak adalah langkah bijak menjawab tantangan melambungnya biaya pendidikan pada masa depan. Kompas.com pada pertengahan 2014 pernah menulis bahwa rerata ongkos pendidikan di Indonesia naik 15 persen per tahun.

Lantas, apa kaitan pecahan uang kertas Rp 100.000 bergambar Soekarno-Hatta dengan perencanaan keuangan ini?

Bagi para pemula dalam urusan perencanaan keuangan, saran yang kerap mengemuka di berbagai pemberitaan maupun rubrik konsultasi adalah memulai dari batas minimal nominal.

Batas itu mencakup nominal dan risiko. Dengan spirit belajar dan terus belajar, pemula dan pasangan muda pasti akan menemukan tahapan-tahapan untuk meningkatkan jumlah dan kemampuan menanggung risiko.

Di sini, nominal Rp 100.000 bisa punya nilai manfaat jangka panjang yang lebih terasa, tak berhenti pada "tanggal muda". Cukup sisihkan tak sampai tiga lembar pecahan uang ini per bulan, polis asuransi pendidikan untuk menghindari buah hati dari risiko putus sekolah pada masa depan pun sudah bisa digenggam.

Bila dimulai sejak dini, pasangan muda punya cukup waktu untuk membangun kebiasaan menyisihkan mulai tiga lembar pecahan Rp 100.000 tersebut. Mungkin pada tahun tahun pertama, kebiasaan itu terasa berat. Namun, setelah berjalannya waktu, niscaya, kebiasaan itu menjadi sesuatu yang meringankan bahkan berbuah manfaat banyak di masa depan.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisJosephus Primus
EditorPalupi Annisa Auliani
Komentar