Apa yang Harus Dilakukan bila Kita Miskin? - Kompas.com

Apa yang Harus Dilakukan bila Kita Miskin?

Hasanudin Abdurakhman
Kompas.com - 20/02/2017, 06:00 WIB
Ira Rachmawati / Kompas.com / Banyuwangi Petani menanam padi di Festival Padi Banyuwangi

Ini pelajaran penting dari Emak. Ia tak meratapi nasib. Emak tadinya berasal dari keluarga yang lumayan berada. Kebun kelapa ayahnya luas. Keluarganya hidup berkecukupan. Tapi suatu hari semua itu hilang.

Pagong, tembok yang membentengi kebun dari rendaman air laut yang berlebihan, pecah. Kebun ayahnya terendam dalam. Lalu pohon-pohon kelapanya mati.

Emak tak mengeluh soal itu. Ia tak menyalahkan Tuhan. Ia pun tak meratapi nasib berkepanjangan.

Setelah menikah dan punya anak dua, Emak mengajak Ayah pindah ke kampung baru, membuka lahan untuk membangun kebun. Emak tak menempatkan dirinya sebagai perempuan, yang boleh bersikap lemah. Ia juga tak memposisikan dirinya sebagai ibu rumah tangga, yang tahunya hanya menerima.

Emak menempatkan dirinya sebagai pioneer. Ia maju, di bawah lindungan keperkasaan suaminya, menyingsingkan lengan baju, bersama mengubah nasib. Emak ikut menebang pohon, membuka lahan, bersama Ayah membangun kebun.

Ketika anaknya sudah besar dan perlu sekolah, Emak tak mengeluh karena di kampung kami tak ada sekolah. Hidup di pulau terpencil tak menghalangi cakrawalanya. Laut yang memisahkan pulau kami dengan daratan lain tak menghalanginya.

Emak merengkuh dayung, mengayuh sampan, bersama Ayah pergi mengantar anaknya untuk dititipkan sekolah di kampung lain.

Baca: Emakku Bukan Kartini

Cukup? Tidak. Tak semua anakku bisa sekolah kalau mesti menumpang di rumah orang. Maka, ia meminta Ayah membangun sekolah di kampung kami. Ayah bersama orang-orang kampung membangun sekolah.

Bagaimana peran pemerintah? Pemerintah mana? Emak tak kenal politik. Pemerintah terlalu jauh untuk dijangkau. Pemimpin di kampung kami cuma kepala kampung, yang hanya sesekali menerima subsidi yang tak seberapa.

Emak mengajarkan tak perlu merengek pada pihak lain, pihak manapun. Nasibmu kau ubah dengan tanganmu sendiri. "Kemiskinan itu mulanya dari miskin pikiran," kata Emak selalu.

"Miskin pikiran itu, kita tak tahu apa yang mesti kita buat untuk diri kita sendiri. Kita menyalahkan orang lain, mengeluh. Puas berhari-hari, bertahun-tahu mengeluh, tak ada yang berubah pada hidup kita."

hasanudin Buku Emakku Bukan Kartini tulisan Hasanudin Abdurakhman
Buka pikiran, bongkar tembok-tembok penghalang. Perempuan tak mesti jadi ratu yang sibuk membelai badan sendiri biar selalu halus.

"Tangan halusmu yang lentik gemulai tak membuat perutmu kenyang," kata Emak mengomeli anak-anak gadisnya. Gunakan tangan itu untuk bekerja, membuat kami mandiri, supaya tidak hidup miskin.

Laki-laki tetaplah pemimpin. Emak sangat menghormati Ayah. Tapi itu tak menghalanginya untuk mendorong. Emak adalah sumber motivasi bagi Ayah untuk bekerja lebih keras, dan lebih keras lagi. Dari Emak banyak datang gagasan, yang kemudian dilaksanakan Ayah.

Emak juga mengajarkan, tak ada hal yang kau tak bisa, kalau kau mau belajar. Ia buta huruf. Jadi macam mana ia bisa berdagang, sampai ia bisa mengelola barang dagangan bernilai jutaan rupiah pada tahun 70-an? Belajar!

Emak tak segan bertanya. "Aku ini bodoh. Membaca pun tak pandai. Kalau aku tak bertanya, macam mana aku bisa tahu," katanya.

Emak belajar berdagang. Ia juga belajar merias pengantin. Ia belajar tata cara merawat jenazah, sampai ia jadi pelaksana fardhu kifayah di kampung kami. Ia belajar mengandalkan ingatannya.

Itulah yang dilakukan Emak. "Kemiskinan bisa kita lawan," katanya. Caranya, dengan mulai berhenti menjadi orang yang miskin pikiran.

Baca: ?Emakku bukan Kartini?, Cerita Perjuangan Perempuan Perkasa

EditorWisnubrata
Komentar
Close Ads X