Selasa, 28 Maret 2017

Edukasi

Apa yang Harus Dipersiapkan agar Bisa Kuliah di Inggris?

Kamis, 2 Maret 2017 | 22:27 WIB
Goldsmith Goldsmith, University of London

KOMPAS.com - Setiap negara dan universitas punya permintaan berbeda. Begitu juga dengan Inggris dan perguruan tingginya.

Agar sukses menembus universitas yang diinginkan dan tidak sengsara di Inggris, Anda perlu memperhatikan beberapa hal sebelum melamar. Apa saja?

Biaya

Biaya tentu faktor penting. Kesan pendidikan di Inggris adalah mahal. Namun sebenarnya, itu tergantung pada pilihan jurusan, kota tempat studi, serta lama studi.

Berkunjung ke sejumlah kota di Inggris pada November 2016 lalu dan menemui pelajar Indonesia, Kompas.com mendapat gambaran tentang biaya kuliah dan hidup di Inggris.

Biaya kuliah untuk mahasiswa Indonesia lebih mahal dari warga lokal ataupun Uni Eropa. Baik untuk program S-1 ataupun S-2, biayanya berkisar antara 16.000 - 40.000 Pound Sterling.

Program studi sangat mempengaruhi biaya yang dibayar. Program kedokteran misalnya, biayanya bisa mencapai 32.000 - 40.000 Pound Sterling.

Sementara itu, biaya hidup bervariasi tergantung kota. Di London, paling tidak harus menyediakan uang 1.250 Pound Sterling per bulan, mencakup biaya tempat tinggal, makan, dan transportasi.

Sementara menurut penuturan Janu Muhammad, mahasiswa Indonesia di University of Birmingham, di kotanya biayanya bisa lebih murah.

"Birmingham itu seperti Jogja. Murah. Untuk tempat tinggal 500 Pound Sterling sudah bagus," katanya. Total biaya hidup sebulan bisa antara 900 - 1000 Pound Sterling

Bahasa

Untuk hal ini, setiap universitas dan jurusan pun punya permintaan berbeda. Perbedaan bukan dibuat-buat, tetapi terkait dengan proses studi.

Gilbert Sanjaya, mahasiswa Indonesia di University of Oxford menuturkan, kualifikasi bahasa di universitasnya tergolong tinggi. "Biasanya IELTS minimal 7, bahkan ada yang minta 8," katanya.

Syarat itu masuk akal. Sebab, pola pendidikan di Oxford menekankan pada diskusi. Tanpa kemampuan bahasa yang baik, mahasiswa akan kesulitan.

Sementara, universitas lain yang punya ranking lebih rendah biasanya juga punya kualifikasi lebih rendah. Di University College London misalnya, sejumlah jurusan mensyaratkan IELTS 6,5.

Jurusan-jurusan teknik dan sains biasanya punya kualifikasi bahasa yang lebih rendah. Sementara, untuk jurusan bahasa dan filsafat, kualifikasi bahasanya paling tinggi.

Belajar jurnalisme di Goldsmith, University of London, misalnya, calon mahasiswa harus punya IELTS 8 dan tak boleh ada satu kategori pun yang di bawah 7,5.

Soal bahasa ini, siapa pun harus punya persiapan yang baik. Kemampuan bahasa selalu ditanyakan setiap kali melamar di sebuah universitas.

Kualifikasi Akademik

Untuk masuk jenjang S-1, kebanyakan universitas di Inggris akan meminta sertifikat A Level. Tapi, bukan berarti Anda yang tak memilikinya tak bisa melamar.

Jacqueline Jenkins, Head of Higher Education Engagement, British Council London, mengatakan, "bagi yang tidak punya A-Level, bisa masuk tetapi harus mengambil foundation."

Masa kuliah S-1 di England, salah satu negara bagian Inggris, adalah 3 tahun. dengan mengambil foundation, Anda akan menambah waktu 1 tahun.

Sementara di Skotlandia, masa kuliah S-1 sama seperti di Indonesia, 4 tahun. Anda bisa mengambil foundation dalam waktu tersebut. Jadi, tidak menambah masa studi.

Prestasi akademik penting, terutama jika mengejar universitas dengan ranking bagus. Anda yang berminat kuliah S-1 dan S-2, faktor ini harus diperhatikan.

Jika bermimpi masuk Oxford atau Cambridge, maka prestasi akademik akan jadi faktor utama. Mau S-2 di Oxford misalnya, Anda paling tidak punya IPK 3,5 saat S-1.

Tapi, itu juga tidak saklek. Jika memiliki pengalaman kerja serta pengaruh bagi masyarakat yang luas, faktor tersebut bisa menambah pertimbangan universitas.

Sementara, jika ingin menempuh S-3, syaratnya lain lagi. Sandoko Kosen, kandidat PhD fisika di Oxford, mengatakan bahwa pengalaman riset, publikasi, dan kecocokan dengan misi universitas menentukan.

"Saya waktu itu mengirim email pengalaman riset dan publikasi kepada profesornya langsung. Kebetulan dia percaya dengan kemampuan saya dan saya dianggap bisa membantu risetnya, akhirnya diterima," ungkapnya.

Visa Pelajar

Ini adalah syarat penting untuk memasuki Inggris dan menjadi pelajar. Namun demikian, ada baiknya pengurusan dilakukan setelah positif diterima di sebuah universitas.

Mental

Terakhir tapi penting adalah faktor mental. Ini soal kemauan untuk beradaptasi dengan kondisi dan budaya setempat.

Rachel Surijata, mahasiswa Indonesian di Goldsmith, University of London, mengatakan, di Inggris harus bisa hemat. "Enggak bisa sedikit-sedikit nongkrong seperti di Indonesia," ungkapnya.

Rachel beradaptasi dengan memasak makanannya sendiri. Kadang, seperti saat ditemui Kompas.com, lauknya hanya abon. Hal yang sama dilakukan oleh banyak mahasiswa Indonesia lainnya.

Hal lain adalah tuntutan studi. Belajar di Inggris tak seperti di Indonesia, begitu ungkap Alexander Tigor, mahasiswa di Queen Mary University.

"Banyak paper yang harus dikerjakan. Selain itu kita juga banyak acara diskusi dan belajar bersama di luar kelas," ungkapnya.

Hal yang sama diungkapkan Gilbert. "Di Oxford tugasnya menumpuk. Kadang libur pun harus ke perpustakaan untuk belajar," katanya.

Jadi, jangan hanya membayangkan enaknya belajar di Inggris. bayangkan juga perjuangannya. Tapi setelah lulus, Anda mungkin bisa menikmati karir baik karena lulus dari universitas di negara yang diakui kualitas pendidikannya.



















Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Yunanto Wiji Utomo
Editor : Yunanto Wiji Utomo
TAG: