Selasa, 28 Maret 2017

Edukasi

Meluncur dari Solo, Gerakan Mengaji Bareng di Kampus untuk Tekan Radikalisme

Sabtu, 11 Maret 2017 | 14:47 WIB
Dok Gerakan Nusantara Mengaji Peluncuran Gerakan Kampus Nusantara Mengaji di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017) malam.


SOLO, KOMPAS.com
—Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir, Jumat (10/3/2017), meluncurkan Gerakan Kampus Nusantara Mengaji. Upaya ini diyakini dapat menjadi satu lagi cara untuk menekan radikalisasi.

"Saya yakin meng-khatam-kan Alquran dapat memperkuat mental mahasiswa serta meminimalisir gerakan radikalisme di kampus,” ujar Nasir, Jumat malam, seperti dilansir dalam siaran pers Gerakan Nusantara Mengaji.

Peluncuran Gerakan Kampus Nusantara Mengaji ini dilakukan di kampus Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah. Bersamaan, peluncuran di kampus yang dikenal dengan sebutan UNS tersebut juga menandai deklarasi gerakan serupa di 40 kampus negeri di seluruh Indonesia.

Nasir mengapresiasi Rektor UNS yang telah melakukan koordinasi dengan 40 kampus tersebut. “Semoga Kampus Nusantara Mengaji menjadi solusi menangkal gerakan kekerasan yang selama ini semakin mengkhawatirkan,” kata dia.

Hadir dalam kegiatan yang menjadi bagian perayaan Dies Natalis ke-41 UNS tersebut antara lain Mantan ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh, Pendiri ESQ Ary Ginanjar, dan Rektor UNS Ravik Karsidi. 

Dok Gerakan Nusantara Mengaji Peserta kegiatan peluncuran Gerakan Kampus Nusantara Mengaji di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Jumat (10/3/2017) malam.

Nasir menjelaskan, Nusantara Mengaji adalah kegiatan rutin yang telah digelar sejak 2016. Di Jakarta, dia mendeklarasikan gerakan tersebut bersama beberapa tokoh seperti Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siraj dan Ahsin Sakho Muhammad, di Masjid Darul Quran, Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ).

Dalam kesempatan terpisah, Koordinator Nasional Nusantara Mengaji Jazilul Fawaid berharap peluncuran Kampus Nusantara Mengaji menjadi solusi bagi berbagai persoalan sosial, termasuk tawuran antar-mahasiswa, pergaulan bebas di kampus, dan radikalisme.

“Ini merupakan ikhtiar batin dan spiritual kita untuk memperkuat bangunan intelektual kampus,” katanya.

Kegiatan utama Gerakan Nusantara Mengaji selama ini adalah mengajak dan mendorong umat Islam lebih dekat dengan Alquran, salah satu caranya dengan menggelar berbagai kegiatan khataman—penanda telah selesai membaca 30 juz Alquran—massal.

Sementara itu, M Nuh menyebut, ide awal dari gerakan Kampus Nusantara Mengaji adalah memberikan penghargaan kepada para mahasiswa yang hafal Alquran. 

"Kita semua ingin memberikan penghargaan apa pun yang punya prestasi,” tutur Nuh. Jika selama ini prestasi diukur dengan kemenangan dalam olimpiade sains, lanjut dia, kenapa kemampuan menghafal Alquran tidak bisa diakui juga. 

“Menghafal Alquran lebih dari prestasi yang sangat luar biasa. Memang tidak mudah memuliakan orang yang mulia,” imbuh Nuh.  

Adapun Mahfud MD berpendapat, mahasiswa sebaiknya tak hanya mengembangkan aspek rasional. Menurut dia, mengasah keimanan dan spiritual juga sama pentingnya untuk dilakukan para mahasiswa.

Editor : Palupi Annisa Auliani
TAG: