Jidoushi, Tadoushi, dan Tanggung Jawab - Kompas.com

Jidoushi, Tadoushi, dan Tanggung Jawab

Hasanudin Abdurakhman
Kompas.com - 17/03/2017, 13:29 WIB
shutterstock Carilah kebahagiaan Anda dengan mulai kenali diri sendiri, merangkulnya dan selalu berpikir positif

Dalam sebuah penerbangan yang terlambat dari jadwal, awak kabin menjelaskan,”Kami mohon maaf atas keterlambatan penerbangan ini, karena pesawat ini tadi terlambat tiba dari Jakarta.”

Jadi, siapa yang menyebabkan keterlambatan penerbangan ini? Pesawat. Kita semua tahu bahwa keterkambatan terjadi akibat kesalahan manajemen perusahaan penerbangan. Tapi itu tidak diakui dalam penjelasan tadi.

Saat terjadi kecelakaan, orang biasa berkata,”Mobil saya bertabrakan.” Seakan mobil itu bisa berjalan sendiri lalu bertabrakan.

Kejadian sebenarnya adalah, pemilik atau pengendara mobil menabrakkan mobilnya. Tapi hampir tidak pernah ada orang yang bilang, ”Saya menabrakkan mobil saya.”

“Bertabrakan” adalah kata kerja intransitf. Dalam tata bahasa kita definisinya adalah kata kerja yang tidak memerlukan objek. Pasangannya adalah kata kerja transitif, yang memerlukan objek.

Dalam hal di atas “bertabrakan” adalah kata kerja intransitif, “menabrak” atau “menabrakkan” adalah kata kerja transitif.

Orang Jepang punya definisi yang berbeda soal kedua jenis kata kerja ini. Mereka menyebutnya jidoushi (intransitif) dan tadoushi (transitif). Cara orang Jepang mendefinisikan keduanya merefleksikan sikap bertanggung jawab.

Doushi berarti kata kerja. Ji artinya sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain.

Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.

Dalam hal contoh di atas, “bertabrakan” adalah jidoushi (dalam bahasa Jepang “butsukaru”). Bentuk transitif atau tadoushi dari kata ini adalah “butsukeru”.

Kalau mengalami kecelakaan, orang Jepang tidak memakai kata kerja intransitif, tapi memakai kata kerja transitif. Mereka akan bilang,”Kuruma wo butsuketa.” (Saya menabrakkan mobil saya.) Mereka tidak akan bilang,”Kuruma ga butsukatta.” (Mobil saya bertabrakan.) Kata kerja dengan akhiran “-ta” menunjukkan bentuk lampau.

Cara mengungkapkan kejadian itu menegaskan soal siapa yang bertanggung jawab. Memakai kata kerja intransitif cenderung membuat kita lupa soal siapa yang bertanggung jawab, karena peristiwa seakan terjadi dengan sendirinya.

Orang Jepang secara tegas menggunakan kata kerja transitif, ungkapannya lebih bertanggung jawab.

Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi tekanan soal tanggung jawab ini, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita.

Saat melakukan eksperimen waktu kuliah dulu keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak. Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya.

Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak”. Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat “Souchi (alat) ga kowareta“.

Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab, “Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.” (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan).

Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Dalam hal ini saya. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.

Perhatikan bahwa orang Jepang mendefinisikan kedua kata kerja tadi dengan cara yang secara tegas menyatakan pihak yang bertanggung jawab atas suatu peristiwa. Ini sangat mempengaruhi cara berpikir mereka.

Cobalah kita perhatikan, mana yang lebih sering kita pakai untuk mengungkapkan peristiwa, transitif atau intransitif?

Tanggung jawab dalam hal ini tidak hanya untuk soal-soal yang negatif belaka. Ini berlaku juga untuk hal yang positif.

Ada begitu banyak ungkapan yang menunjukkan bahwa tanpa sadar kita banyak berharap atau menganggap terjadinya sesuatu akibat hal-hal yang ada di luar diri kita. Pemilihan subjek atau kata kerja yang kita ambil mewakili pola pikir itu.

Misalnya, ungkapan ini. “Buku saya sudah jadi.” Bandingkan dengan,”Saya sudah selesai menulis buku saya.” Kedua kalimat membawa makna inti yang sama. Tapi kalimat kedua menegaskan usaha yang dilakukan oleh subjek.

Cara kita berbahasa menunjukkan pola pikir kita. Bahkan cara kita berbahasa memberi sugesti yang menggiring cara berpikir kita. Mari gunakan ungkapan-ungkapan yang memberi sugesti positif.

EditorWisnubrata
Komentar
Close Ads X