Hidup sebagai Mahasiswa Muslim di Inggris, Ini Tips dari Syafira - Kompas.com

Hidup sebagai Mahasiswa Muslim di Inggris, Ini Tips dari Syafira

Yunanto Wiji Utomo
Kompas.com - 31/03/2017, 17:50 WIB
Dokumen Pribadi Syafira Fitri Auliya, mahasiswa Indonesia di University of Edinburgh

KOMPAS.com - Hidup sebagai mahasiswa muslim yang kuliah di negara barat gampang-gampang susah. Salah satu kesulitannya adalah menjaga tetap patuh pada ajaran agama tanpa mengorbankan studi dan pergaulan.

Kisah Syafira Fitri Aulia yang menempuh studi di University of Edinburgh, Inggris, bisa menjadi referensi bagi setiap muslim.

Hingga kini, Syafira tetap menjaga makanan tetap halal, mengenakan jilbab, rajin sholat, tidak minum alkohol, dan bahkan tidak berjabat tangan dengan lawan jenis.

Bertemu dengan Kompas.com dalam media visit ke Inggris bersama British Embassy Jakarta pada November 2016 lalu, Syafira mengungkapkan bahwa bukan hal yang mudah untuk bertahan.

"Kita enggak bisa makan dengan bebas. Kalau lagi lapar, enggak bia begitu saja mampir ke warung buat beli cemilan. Beli apa-apa harus mantengin bahan dasar dengan cermat," katanya.

"Sosialisasi memang jadi enggak maksimal. Teman sekelas biasa sosialisasinya di pub tapi aku enggak mau masuk ke sana walaupun mereka jual orange juice," imbuhnya.

Syafira mengatakan, untuk mengatasi kendala itu, memang perlu trik. Bermain dengan sesama muslim saja tidak menjadi solusi karena akan mempersempit pergaulan.

"Selain itu, banyak teman-teman muslim yang berprinsip asal tidak makan babi, ayam enggak masalah walaupun enggak ada label halal," ungkapnya.

Syafira menuturkan, cara mengatasinya adalah dengan komunikasi yang baik dengan teman bercampur dengan sedikit keras kepala.

Penting untuk mengatakan kepada teman sekelas tentang prinsip dan keyakinan yang dianut dan meminta pengertian mereka.

Lebih dari setengah tahun di Inggris, Syafira mengungkapkan, selama ini teman-temannya memahami prinsipnya. Ia juga tak merasa kehilangan kesempatan untuk bersosialisasi.

Kepada setiap muslim yang belajar di Inggris dan tak ingin masuk pub, dia menyarankan untuk mencari waktu saat teman-teman berkumpul di apartemen.

"Selalu ada kumpul-kumpul yang tidak di pub. Kalau pengalaman saya, teman-teman suka bermain board game di flat," katanya.

"Kalau main board game, aku bisa gabung. Tidak masalah. Jika akan dinner bareng, aku tinggal minta nasi putih dan makan dengan abon yang aku bawa dari flat," imbuhnya.

Menurut Syafira, hidup sebagai mahasiswa muslim di negara seperti Inggris memang akan lebih repot tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Ia merasa bahwa warga Inggris dan teman kuliahnya bisa menghargai prinsipnya. Itu dirasakan sejak saat awal kuliah.

Salah satu kekhawatirannya saat awal kuliah adalah mengenakan jilbab lebar. "Di jalan memang ada yang ngeliatin, tapi teman-teman sekelas justru senang melihat penampilan itu dan memuji-muji," katanya.

Lalu saat bercerita tentang pengalaman teman sekelas mendapat perlakuan kurang menyenangkan karena memang jilbab saat berjalan-jalan ke wilayah sub-urban Edinburgh.

"Teman-teman sekelas langsung memeluk saya dan mengatakan, 'don't worry, we are supporting you' dengan nada sungguh-sungguh," jelasnya.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisYunanto Wiji Utomo
EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X