Saatnya Guru SMK Berubah! - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Kominfo

Saatnya Guru SMK Berubah!

Kurniasih Budi
Kompas.com - 29/09/2017, 15:21 WIB
Para guru memamerkan hasil karyanya dalam lomba INOBEL 2017 di Kuta, Bali pada 4-8 September 2017. Perlombaan INOBEL 2017 diselenggarakan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud. Para guru memamerkan hasil karyanya dalam lomba INOBEL 2017 di Kuta, Bali pada 4-8 September 2017. Perlombaan INOBEL 2017 diselenggarakan Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud.

KOMPAS.com - Perubahan adalah keniscayaan, demikian kata pepatah. Bahkan, ahli filsafat Yunani kuno bernama Heraclitus pernah mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang permanen, kecuali perubahan. Albert Einstein, ilmuwan fisikan teoritis mengatakan, sesuatu yang pasti adalah perubahan.

Dalam kehidupan manusia, perubahan bisa terjadi baik pada individu maupun kelompok atau organisasi. Perubahan saat ini juga terjadi pada dunia pendidikan di Indonesia.

Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyesuaikan diri untuk memenuh kekurangan guru produktif dengan menambah kapasitas para guru yang tersedia.

Pada 2016, Indonesia masih kekurangan guru produktif Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sejumlah 91.86,1 dengan rincian 41.861 di SMK Negeri dan 50.000 di SMK Swasta. Data itu dilansir Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud.

Baca: Pemerintaan Pendidikan Siapkan SDM Berkarakter dan Berdaya Saing

Untuk memenuhi kekurangan itu, pemerintah menambah guru produktif SMK melalui Program Keahlian Ganda, outsourching guru dari dunia usaha (DU) maupun dunia industri (DI), Program Mahasiswa Magang, dan rekrutmen guru baru pegawai negeri sipil (PNS).

Program itu merupakan salah satu program utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memberdayakan pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengakui Indonesia memang kekurangan tenaga kerja skill. Selain itu, masih banyak pengangguran lulusan SMK, diploma, dan sarjana karena missmatch dan under qualification.

Perubahan di dunia pendidikan itu berpijak pada kenyataan bahwa angka pengangguran terbesar justru dari lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Dari 7 juta pengangguran di Indonesia, 9 persennya lulusan SMK.

Baca: Wapres: Terorisme Muncul di Negara Gagal

Padahal, dengan spesifikasi pembelajaran semestinya lulusan bisa terserap lapangan pekerja.
Mengacu hasil statistik pengangguran, maka penting melakukan job matching. Mata pelajaran atau penjurusan SMK mesti sesuai dengan kebutuhan dunia usaha atau dunia industri.

Untuk itulah, guru-guru diminta untuk belajar lagi supaya memiliki tambahan keahlian sebagai bekal mengajar siswa SMK.

Saat ini, pendidikan vokasi ditangani Kemendikbud, sedangkan Kementerian Tenaga Kerja menangani vocational training di Balai Latihan Kerja (BLK).

Pembekalan pengampu

Perubahan tugas mengajar mata pelajaran atau program studi lama menjadi baru yang akan diampu guru membutuhkan pengetahuan, pengalaman lapangan, dan ketrampilan produktif baru.

Pengalaman praktik mengajar yang realistis pada situasi sekolah sesungguhnya, akan menjadikan metode mengajar sesuai karakteristik program studi yang diampu guru.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menargetkan 15 ribu guru mengikuti Program Keahlian Ganda. Dengan mengikuti program itu, para diguru dibekali penguatan atau pendalaman materi. Setelah itu, mereka mengikuti melaksanakan sertifikasi kompetensi keahlian sesuai paket keahlian yang diikuti.

"Dengan demikian, diharapkan adanya peningkatan kompetensi keahlian produktif," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 di kantor Kementerian Kominfo, Rabu (9/8/2017).

Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan Elektronika (PPPPTK BOE) di Malang ditetapkan sebagai kawah candradimuka bagi pada guru yang mengikuti Program Keahlian Ganda angkatan pertama.

Ratusan guru dari seluruh daerah mengikuti program mulai dari 21 Agustus hingga 16 September 2017. Sedangkan, uji kompetensi dilakukan pada 18 hingga 19 September 2017.

Guru SMK/SMA tengah mengikuti pendidikan dan pelatihan di PPPPTK Bidang Otomotif dan Elektronika di Malang yang diselenggarakan pada 21 Agustus hingga 16 September 2017. Selanjutnya, para guru mesti mengikuti uji kompetensi pada 18-19 September 2017. Guru SMK/SMA tengah mengikuti pendidikan dan pelatihan di PPPPTK Bidang Otomotif dan Elektronika di Malang yang diselenggarakan pada 21 Agustus hingga 16 September 2017. Selanjutnya, para guru mesti mengikuti uji kompetensi pada 18-19 September 2017.

Setiap kelas di PPPPPTK BOE Malang diampu 2 orang instruktur serta 2 hingga 3 orang asessor.

Peserta angkatan pertama berjumlah 237 orang yang akan mengikuti 238 jam pelajaran di  PPPPPTK BOE Malang.

Adapun kelas yang diikuti yakni Paket Keahlian Teknik Audio Video, Teknik Elektronika Industri, Teknik Instalasi Pemanfaatan Tenaga Listrik, Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, Teknik Permesinan, Teknik Pengelasan, Teknik Mekatronika, Teknik Ototronik, Multimedia, Rekasaya Perangkat Lunak, serta Teknik Komputer dan Jaringan.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisKurniasih Budi
EditorKurniasih Budi
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM