Pendidikan Informal untuk Penguatan Pembelajaran di Daerah Tertinggal Halaman 5 - Kompas.com

Pendidikan Informal untuk Penguatan Pembelajaran di Daerah Tertinggal

Perhimpunan Pelajar Indonesia
Kompas.com - 10/10/2017, 17:37 WIB
Sekelompok siswa SD Inpres Tiom berjalan pulang dari sekolahnya yang belum sepenuhnya memulai aktivitas belajar-mengajar di Kabupaten Lanny Jaya, Papua, Selasa (28/7/2015). Kabupaten pemekaran dari Jayawijaya pada tahun 2008 ini membutuhkan 200-300 guru TK/PAUD, SMP,dan SMA/SMK.KOMPAS/ICHWAN SUSANTO Sekelompok siswa SD Inpres Tiom berjalan pulang dari sekolahnya yang belum sepenuhnya memulai aktivitas belajar-mengajar di Kabupaten Lanny Jaya, Papua, Selasa (28/7/2015). Kabupaten pemekaran dari Jayawijaya pada tahun 2008 ini membutuhkan 200-300 guru TK/PAUD, SMP,dan SMA/SMK.

Teknis ujian

Selain sistem proses belajar-mengajar yang fleksibel, ujian nasional (UN) untuk siswa pendidikan informal atau ujian nasional pendidikan kesetaraan (UNPK) atau juga ujian kejar paket bisa tetap dilaksanakan dengan fleksibel.

Pelaksanaan UNPK di Jawa, misalnya, dilaksanakan di lokasi yang sama dengan UN, tetapi pada waktu yang berbeda. Jadi, bila UN dilaksanakan pada pagi hari, ujian kejar paket dilaksanakan di siang hari.

Pelaksanaan UNPK di daerah 3T pun bisa tetap dilaksanakan dengan cara seperti itu untuk menjaga standar yang ditetapkan. Namun, untuk memudahkan siswa peserta ujian, pemerintah idealnya memfasilitasi akomodasi peserta didik UNPK untuk bolak-balik ke lokasi ujian atau menginap.

Kenapa ini perlu? Karena, ini adalah upaya untuk menjaga semangat peserta didik UNPK untuk tetap melanjutkan pendidikan.

Bagaimanapun juga generasi muda dari daerah 3T adalah mereka yang patut diberi semangat. Tujuan jangka pendeknya untuk menjaga dan meningkatkan rasa nasionalisme mereka. Dengan begitu, mereka merasa diperhatikan oleh negara.

Dalam jangka panjang, perlakuan dari negara semacam itu tidak akan membuat mereka mendukung, bergabung, bahkan untuk sekadar berpikir mengenai separatisme.

Namun yang juga harus dipahami, fasilitator harus berperan aktif melihat perkembangan peserta didik karena sangat memungkinkan untuk menemukan bibit-bibit unggul dari daerah 3T.

Peserta didik yang dinilai berpotensi untuk melanjutkan pendidikan menengah bisa diikutkan program-program beasiswa untuk menempuh pendidikan di luar daerah 3T tersebut.

Siswa dari Papua, misalnya, dapat menerima beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM) untuk melanjutkan SMA/SMK di Pulau Jawa. Ada juga Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADIK) yang memberi beasiswa ke perguruan tinggi.

Dinda Lisna Amilia

Mahasiswi S2 Mass Communication and Journalism di University of Mysore India, Ketua Dewan Pengawas PPI India dan Wakil Kantor Komunikasi PPI Dunia (ppidunia.org).

Page:
EditorLaksono Hari Wiwoho
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM