Begini Cara Iluni UI dan FKUI Melawan Hoaks tentang Difteri - Kompas.com

Begini Cara Iluni UI dan FKUI Melawan Hoaks tentang Difteri

Kompas.com - 08/01/2018, 16:48 WIB
IlustrasiGetty Images/iStockphoto Ilustrasi

KOMPAS.com - Penyakit difteri semestinya sudah tak ada lagi di Indonesia. Pasalnya, sejak 1975, pemerintah Indonesia sudah melakukan gerakan massal imunisasi difteri bagi anak-anak bawah lima tahun (balita).  

Andai pada 2017 lalu difteri muncul kembali sebagai wabah, pemicunya adalah lantaran masih adanya orangtua yang belum mau mengimunisasi anak-anak usia balita meskipun diberikan secara gratis oleh pemerintah. Selain itu, masih banyaknya anak-anak Indonesia yang sudah mendapat imunisasi, namun imunisasinya belum lengkap.

Lantas, ada pula anggota masyarakat yang berusia di atas usia 40 tahun yang belum melakukan imuniasasi. Serta, kurangnya informasi mengenai manfaat dari imunisasi serta tata cara pelaksanaan imunisasi dan apa manfaat dari imunisasi itu sendiri.

Pandangan ini, sebagaimana siaran pers yang diterima Kompas.com hari ini, mengemuka dalam acara Fokus Group Diskusi (FGD) bertajuk “Indonesia Bebas Difteri” yang diselenggarakan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) pada, Minggu (7/1/2018) di Ruang Senat Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Kampus Salemba, Jakarta.

Catatan terkumpul dari data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan pada November-Desember 2017, di seluruh Indonesia ada 38 anak meninggal dunia karena difteri. "Ada lebih dari 600 anak dirawat di rumah sakit karena difteri di 120 kabupaten/kota," ujar Ketua Pengurus Besar IDI Ilham Oetama Marsis.

Hoaks

Selanjutnya, menurut hemat  Ketua Iluni UI Wahyu Sulistiadi pemerintah dan masyarakat bersama-sama menggalakkan imunisasi difteri. "Ini agar tahun 2018 Indonesia terbebas dari wabah difteri," tuturnya.

Masih menurut Wahyu, yang juga dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI, pemerintah harus  melakukan penguatan sistem informasi kesehatan, melakukan manajamen solusi krisis serta memproduksi serum dan vaksin yang berkualitas. Yang tidak kalah pentingnya adalah, keterpaduan antara pemerintah dan masyarakat, apapun latar belakang politik dan agamanya, semuanya harus punya satu tujuan. Hilangkan penyakit difteri.

Sementara itu, pandangan Dekan FKUI Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH dalam diskusi itu menunjukkan bahwa masyarakat jangan sampai termakan informasi hoaks atau bohong yang saat ini bersebaran di media sosial, termasuk soal difteri dan imunisasi yang berakibat banyaknya anggota masyarakat yang enggan mengimunisasikan anak-anak mereka.

Untuk melawan informasi bohong itu, Ari Fahrial memerintahkan seluruh anggota civitas akademika FKUI termasuk mahasiswa kedokterannya aktif dan mempunyai berbagai akun di media sosial. Akun-akun media sosial tersebut harus  digunakan dan dimanfaatkan  melakukan sosialisasi informasi kesehatan yang benar termasuk menyampaikan informasi yang benar tentang imunisasi melawan informasi hoaks yang bertebaran di media sosial.

“FKUI sendiri sebagai lembaga pendidikan siap membantu pemerintah untuk mengatasi dan menghentikan penyebaran penyakit difteri," tuturnya.

Saat ini, Iluni UI memiliki 3000 dokter. Lalu, ada pula mahasiswa kedokteran yang siap diterjunkan ke lapangan membantu melakukan sosialisasi yang benar sekaligus juga membantu melakukan pengobatan. FKUI sendiri memiliki banyak tenaga ahli di bidang kesehatan. "Semuanya siap membantu pemerintah dan masyarakat untuk menghentikan dan mencegah penyakit difteri di Indonesia,” demikian Ari Fahrian Syam.

EditorJosephus Primus
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM