SMA Labschool Jakarta Wakili Asia Tenggara di Boston - Kompas.com

SMA Labschool Jakarta Wakili Asia Tenggara di Boston

Kompas.com - 28/01/2018, 20:01 WIB
Sebelum bertanding di Harvard MUN, Boston, para siswa SMA Labschool Jakarta berkesempatan berkunjung ke kantor Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk PBB, New York.satriawan salim Sebelum bertanding di Harvard MUN, Boston, para siswa SMA Labschool Jakarta berkesempatan berkunjung ke kantor Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk PBB, New York.

BOSTON, Kompas.com -  Di penghujung Januari 2018 ini, konferensi internasional dengan format simulasi sidang PBB tingkat SMA atau lebih sering dikenal dengan Model United Nations tingkat dunia, kembali digelar oleh Universitas Harvard.

Simulasi sidang PBB ini diselenggarakan oleh Universitas Harvard dikenal dengan nama Harvard Model United Nations (HMUN). HMUN 2018 dilaksanakan pada 25-28 Januari 2018 di Hotel Sheraton dan Hotel Marriott, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

HMUN kali ini merupakan konferensi yang ke-65. Sebagai konferensi model simulasi sidang PBB yang tertua dan paling bergengsi di dunia, tidak mengherankan jika jumlah peserta HMUN mencapai 3.300 siswa yang berasal dari 46 negara dari berbagai belahan dunia. Seperti yang dilaporkan Andrew R. Chang (Sekretaris Jenderal) HMUN 2018 dalam sambutannya Kamis, 25 Januari 2018 malam waktu setempat.

HMUN merupakan konferensi simulasi sidang PBB tertua yang diperankan oleh para pelajar setingkat SMA dari seluruh dunia. Pelaksanaan HMUN tiap tahun dilaksanakan sekitar Januari atau Februari, bertepatan dengan musim dingin di Pantai Timur Amerika Serikat. Walaupun suhu berada sekitar -7° celcius, namun tidak mengurangi gairah dan semangat pelajar seluruh dunia untuk menghadiri simulasi persidangan para diplomat ini.

Universitas Harvard adalah kampus yang pertama kali menyelenggarakan simulasi sidang PBB ketika organisasi internasional ini masih bernama Liga Bangsa-Bangsa pada tahun 1927. Sebagai kampus yang paling prestisius (di samping kampus lainnya seperti MIT dan Universitas Boston yang juga terletak di kota Boston), penyelenggaraan HMUN menjadi salah satu program MUN kelas dunia yang didambakan oleh pelajar dari berbagai negara.

Dalam ajang HMUN tahun 2018 ini jumlah peserta sebanyak 3.300 delegasi, berasal dari sekitar 250 sekolah dan mewakili 46 negara di dunia. Seperti yang disampaikan  Andrew R. Chang dalam sambutannya, Kamis 25 Januari 2018, bertempat di Hynes Convention Center, Hotel Sheraton.

Indonesia pun tak ketinggalan menjadi salah satu dari 46 negara yang berpartisipasi dalam konferensi internasional akbar tersebut. Bahkan SMA Labschool Jakarta menjadi satu-satunya sekolah yang mewakili Indonesia dan kawasan Asia Tenggara dalam ajang HMUN 2018 kali ini. “Tahun ini adalah kali ke empat bagi Labschool Jakarta sebagai perwakilan satu-satunya dari Indonesia dan Asia Tenggara dalam HMUN,” seperti yang disampaikan Suparno Sastro (Kepala SMA Labschool Jakarta) yang ikut mendampingi.

Indonesia berhadap-hadapan langsung dengan negara lain dalam dan lintas benua seperti; India, China, Turki, Jepang, Banglades, Pakistan, UEA, Nepal, Belanda, Perancis, Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, Kenya, Ethiopia, Tunisia, Kanada, Brazil, Venezuela, dan tentunya tuan rumah Amerika Serikat dan puluhan negara lainnya. Hal ini tertera dalam Buku Panduan HMUN 2018 yang dibagikan panitia. Para delegasi dari SMA Labschool Jakarta yang lolos seleksi dan diterima panitia berjumlah 24 siswa dan didampingi oleh 3 guru pendamping, yakni Satriwan Salim, Suparno Sastro dan Rinawati Sudarman.

24 siswa SMA Labschool Jakarta ini bersidang sesuai dengan komisi-komisi seperti WHO, Social Humanitarian and Cultural Committee, Disarmament and International Committee, UNHCR, UNHRC. Tiap-tiap komisi menyelesaikan persoalan dengan satu topik permasalahan, yang sudah ditentukan oleh panitia sebelumnya. Seperti di UNHRC topiknya adalah “Hak-hak Kelompok LGBT”. Di UNHCR topiknya “Perlindungan HAM terhadap Perempuan Pengungsi Suriah”. Kemudian di  Social Humanitarian and Cultural Committee topiknya “Migrasi: Xenophobia, Rasisme dan Kekerasan” dan topik lainnya. Pada HMUN 2018, SMA Labschool Jakarta berperan menjadi diplomat mewakili Yunani dan Norwegia.

Sebelum bertanding di Harvard MUN, Boston, para siswa SMA Labschool Jakarta berkesempatan berkunjung ke kantor Perwakilan Tetap Republik Indonesia (PTRI) untuk PBB, New York. Yang membuat suasana pertemuan menjadi emosional adalah, ketika para siswa ditemui oleh Ainan Nuran. Seorang diplomat muda cantik dan energik yang nama dan videonya sempat viral di media sosial dan media online beberapa bulan lalu. Bukan sekadar diplomat muda, cantik dan cerdas, tetapi Ainan berani mendebat para perdana menteri dan presiden negara-negara seperti Vanuatu dan Palau di forum Sidang PBB, yang mencoba menyinggung urusan dalam negeri Indonesia, perihal Papua. Lebih membanggakan lagi adalah karena Ainan Nuran merupakan alumni SMA Labschool Jakarta angkatan 2005.

MA Labschool Jakarta menjadi satu-satunya sekolah yang mewakili Indonesia dan kawasan Asia Tenggara dalam ajang HMUN 2018 kali ini MA Labschool Jakarta menjadi satu-satunya sekolah yang mewakili Indonesia dan kawasan Asia Tenggara dalam ajang HMUN 2018 kali ini

Duta Besar PTRI untuk PBB, Bapak Dian Triansyah Djani berkenan hadir menemui para siswa. Di tengah kesibukannya karena ada jadwal sidang di Markas Besar PBB, beliau masih menyempatkan bertemu. Bahkan dalam pertemuan dibuka sesi diskusi, khususnya bagi para siswa Labschool Jakarta.

Dalam diskusi, tanya jawab yang interaktif itu karena penampilan dan gaya Pak Dubes yang sangat energik, berwawasan luas, interaktif dan "nyablak" membuat para siswa sangat antusias. Pesan beliau pada pokoknya adalah: Bahwa kita Indonesia adalah negara besar, punya potensi dan punya peran strategis di dunia. Sudah semestinya anak-anak generasi bangsa jangan lagi merasa "inferior" dibanding bangsa lain di dunia. Kita menjadi bangsa harus percaya diri. Dan para siswa Labschool harus dapat penghargaan “The Best” dalam ajang HMUN kali ini, harus bisa mengalahkan negara lain.

Kesempatan berkompetisi tingkat internasional di Universitas Harvard ini adalah kesempatan yang sangat membanggakan sekaligus sebuah kehormatan bagi para siswa. Seperti dikatakan oleh seorang siswa, Rizqa A. Wibawanto. “Saya merasa sangat senang, merasa terhormat bisa terpilih dari Labschool mewakili Indonesia dalam ajang ini. Saya berkesempatan bertemu dan berdiskusi persoalan dunia dengan teman-teman dari Afrika, Eropa, Asia dan Amerika tanpa merasa rendah diri,” demikian ungkapnya.

Rizqa yang kebetulan seorang siswi jurusan IPS ini juga bercita-cita ingin menjadi diplomat. “Saya punya cita-cita menjadi diplomat. Bisa membuat negara Indonesia makin berjaya di kancah internasional. Makanya dengan ikut HMUN saya akan belajar banyak bagaimana rasanya jadi seorang diplomat,” pungkas Rizqa.

Perasaan yang hampir sama disampaikan Dika Imanullah Thalib, siswa kelas IPA. Dika mengatakan, “Saya sangat bahagia ikut Harvard MUN. HMUN ini sangat unik, berbeda dengan kebanyakan MUN di Indonesia yang pernah saya ikuti. Saya bisa ketemu ama banyak siswa dunia yang punya perspektif berbeda-beda tentang satu topik.” Kemudian lanjut Dika, “But dari semua hal itu yang paling saya sukai di Harvard MUN adalah kita dapat berteman dengan penduduk luar negeri, and for me Harvard MUN is the best place to do that!”

Cerita yang berbeda diungkapkan seorang siswi, Kania Zillan. “Saya berkenalan dengan siswa dari Yunani dan Turki. Di awal konferensi saya bertemu siswa asal Turki yang mengajarkan cara berkenalan dan salaman ala orang Turki pada saya. Saya belajar ragam budaya.” Kejadian lebih menarik dan lucu lagi adalah ketika Kania berjumpa dengan siswa laki-laki asal Brazil. “Pas ketemu sama anak Brazil, dia langsung nyosor ingin cium pipi kiri-kanan ke saya. Saya shock banget. Lalu anak itu bilang, maaf ini budaya kami jika bertemu dengan teman,” demikian kisah Kania.


EditorTjahjo Sasongko
Komentar
Close Ads X