ASEAN Mesti Gandeng Jepang dan China

Kompas.com - 16/03/2009, 23:12 WIB
Editor

TOKYO, KOMPAS.com - Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara (ASEAN)  mutlak menggandeng Jepang dan China sebagai mitra keamanan sejajar dalam memelihara keamanan regional sekaligus menjadi kontributor bagi keamanan di Asia, dan tidak boleh "berkiblat" pada satu kekuatan yang dominan di benua ini.
   
Demikian pandangan Sekjen Departemen Pertahanan (Dephan) Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin kepada Antara di Tokyo, Senin (16/3), berkaitan dengan kegiatan pembicaraan keamanan atau security talks antara Jepang dan ASEAN yang berlangsung di ibu kota Jepang itu.
   
Pembicaraan keamanan tersebut merupakan pertemuan informal pertama kalinya digelar Jepang dengan ASEAN sejak Negeri Sakura itu resmi memiliki departemen pertahanannya sendiri. "ASEAN tidak boleh menjadikan salah satu negara, Jepang atau China saja sebagai motor keamanan kawasan, tetapi harus bisa menggandeng kedua-duanya dalam memberikan kontribusi bagi stabilitas kawasan," kata mantan Pangdam Jaya itu.
   
Menurut Sjafrie Sjamsoeddin, tren keamanan saat ini sudah berubah sesuai dengan perubahan global yang berlangsung dengan cepat, sehingga mutlak memerlukan kerja sama sejajar mengingat masalah keamanan tidak lagi dalam bentuk perang fisik semata, tetapi sudah mencakup persoalan keamanan yang lainnya. "Berbagai isu keamanan regional kini jauh lebih rumit dan lebih luas. Selama ini agenda isu keamanan kawasan didominasi berbagai isu keamanan konvensional, namun kini juga semakin disibukkan dengan persoalan keamanan non-tradisional," katanya.
   
Isu keamanan konvensional di antaranya konflik teritorial ataupun perlombaan senjata seperti yang kini tengah berlangsung di Laut Cina Selatan dan semenanjung Korea. Sedangkan keamanan nontradisional berupa ancaman-ancaman terhadap stabilitas sebuah negara yang dilakukan oleh aktor non-negara.
   
Ancaman oleh aktor non-negara ini dapat berkarakteristik kekerasan dan non-kekerasan. Ancaman kekerasan dilakukan sindikat Narkotika internasional, kelompok pemberontakan atau teroris. Sedangkan non-kekerasan berupa penyelundupan manusia atau juga ephoria demokratisasi yang berlebihan.
   
                      
Saling memengaruhi
  
    
Sementara itu, menurut Atase Pertahanan KBRI Tokyo Kolonel Art. Neno Hamriono, pembicaraan keamanan itu mutlak diperlukan guna membangun saling pengertian dan kerjasama yang kuat di tengah tantangan globalisasi seperti sekarang. Apalagi ketika tingkat ketergantungan dan saling mempengaruhi antar negara juga semakin tinggi.
   
Jepang sendiri sangat serius dengan persoalan keamanan di Selat Malaka, mengingat jalur pasokan energinya (sebesar 60 persen) bergantung pada selat tersebut.
   
Pertemuan Jepang dengan para pejabat tinggi keamanan dari sepuluh negara ASEAN akan berlangsung di Tokyo 17-18 Maret. Berbagai masalah kerja sama akan dibahas mulai dari upaya mengatasi perompakan di laut, terorisme serta kerja sama dalam penanggulangan bencana alam.
   
Sejak memiliki departemen yang permanen, Jepang ingin membangun hubungan yang lebih intens setingkat menteri pertahanan dengan ASEAN. Pembicaraan keamanan itu rencananya digelar secara rutin setiap tahun.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.