Ternyata, Ki Hadjar Juga Berpendidikan "Home Schooling"

Kompas.com - 03/06/2009, 19:00 WIB
Editor

SEMARANG, KOMPAS.com — Konsep pendidikan home schooling yang dipopulerkan oleh Seto Mulyadi (Kak Seto) ternyata mengadopsi konsep pendidikan yang selama ini dipakai di masing-masing pondok pesantren tradisional yang ada di Tanah Air.

"Konsep pendidikan di pondok pesantren tradisional merupakan konsep home schooling, konsep ini juga dianut oleh Ki Hadjar Dewantoro yang juga belajar secara otodidak seperti konsep tersebut," kata Seto, seusai menjadi pembicara seminar home schooling di salah satu hotel berbintang di Semarang, Rabu (3/6).

Selain itu, tambah Seto, KH Agus Salim juga menerapkan konsep belajar di rumah dengan melarang putra-putrinya menempuh pendidikan di Belanda.

"KH Agus Salim jelas menerapkan home schooling," katanya.

Menurut Seto, home schooling justru diambil dari akar budaya sejarah bangsa sendiri. Konsep tersebut seperti halnya para petani yang mengajarkan kepada penerusnya tentang cara menanam, atau masyarakat Bali yang mengajarkan masyarakat cara mengukir dan menari.

"Dari dahulu memang diterapkan, bukannya mengadopsi barat atau mengikuti tren semata, tetapi kami kembali menyadarkan kepada semua masyarakat akan konsep pendidikan tersebut. Hanya saja, namanya memang nama baru, yaitu home schooling," jelasnya.

Untuk itu, Seto akan mengampanyekan konsep pendidikan ini ke seluruh Indonesia supaya tumbuh "homeschooler" yang mungkin merasa tertekan dalam sistem pendidikan formal saat ini atau merasa tidak terpenuhi hak-haknya untuk belajar dengan suasana lebih ramah dengan anak.

"Konsep pendidikan itu diakui oleh UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), baik secara formal, maupun informal," ujarnya.

Disinggung soal pelajar yang mengikuti program home schooling bisa mengikuti ujian nasional (UN) atau tidak, Seto mengatakan, para pelajar tetap dapat mengikutinya.

"Yang terpenting, materi yang diajarkan sesuai standar UN dan kompetensi kelulusan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)," ujarnya.

Seto juga mengkritisi konsep mengajar anak dengan cara kekerasan. Menurutnya, cara kasih sayang dan kelembutan masih dapat dilakukan.

"Jika cara yang lebih baik masih bisa, kenapa harus menggunakan kekerasan dengan cara membentak atau menjewer," kritik Seto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.