Ketika Perpustakaan Hadir di Lapas Cipinang...

Kompas.com - 15/06/2009, 21:37 WIB
Editor

JAKARTA, KOMPAS.com — Senin (15/6) siang di Lapas Klas I Cipinang, di Jalan Raya Bekasi Timur 170, Jakarta Timur, panas sungguh terik. Namun, ratusan tahanan dan narapidana di balik pagar besi tampak antusias menyaksikan pemandangan baru. Di gazebo Lapas kini sudah ada Perpustakaan Kompas Gramedia, yang siang itu diresmikan H Muhammad Sueb, Direktur Bina Bimbingan Kemasyarakatan, Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Departemen Humum dan HAM RI.

"Keberadaan perpustakaan, yang buku-buku dan raknya merupakan sumbangan Kompas Gramedia ini, sangat berarti dalam pembinaan. Adanya perpustakaan ini di luar angan-angan, di luar pikiran," kata Muhammad Sueb.

Perpustakaan itu menyatu dengan gazebo, yang mengambil luas sepertiga luas gazebo, sekitar 6 x 10 meter persegi. Menurut Kepala Lapas Klas I Cipinang Haviluddin, untuk mengadakan perpustakaan itu, Kompas Gramedia menyumbangkan 1.200 eksempar buku berbagai bidang dan 20 rak buku.

"Sumbangan buku oleh Kompas Gramedia akan berlanjut setiap bulannya. Tak hanya sebatas itu, Kompas Gramedia juga akan memberikan pelatihan penataan perpustakaan untuk para binaan dan petugas," ujarnya.

Menurut Haviluddin, keberadaan perpustakaan ini akan sangat membantu para binaan, yang di antara 250 orang tahanan dan narapidana, ada 81 orang yang kuliah program sarjana hukum, kerja sama dengan Universitas Bung Karno.

Dia juga mengungkapkan bahwa sejumlah terpidana juga ada yang menulis buku, seperti antara lain Rahardi Ramelan, yang menulis buku Cipinang Desa Tertinggal. Dan kini, Theo F Toemion, juga sudah menulis buku berjudul Uang & Malapetaka Dunia: Hancurnya Neokapitalisme & Neoliberalisme (terbitan Verbum Publishing, Juni 2009). Sebelumnya, Theo di penjara juga telah menulis buku Krisis Pertama Indonesia (terbitan Gramedia, tahun 2006).

CEO Kompas Gramedia, Agung Adiprasetyo, secara filosofis mengatakan, hidup memang sebuah pilihan. Apakah memilih jalan yang gelap atau terang. Namun, Agung mengakui banyak hal lain yang harus disentuh.

Barangkali dengan keberadaan Perpustakaan Kompas Gramedia, bentuk sentuhan lain itu bisa menjadi kenyataan. Yang dimaksud Agung, dengan membaca buku, mata hati para binaan bisa disentuh. Dengan membaca, wawasan akan semakin kaya. Karena itu, di salah satu dinding perpustakaan tertulis kalimat berbunyi: Gemar membaca kaya wawasan.

Direktur Bina Bimbingan Kemasyarakat Muhammad Sueb menggarisbawahi, bantuan perpustakaan di Lapas Klas I Cipinang ini, sebuah kepedulian dan amal ibadah Kompas Gramedia yang tidak akan terputus pahalanya sampai kapan pun.

Pada peresmian perpustakaan itu, tampak hadir Direktur Bina Latihan Kerja dan produksi Ditjen Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM, Amalia Abidin dan Kepala Kanwil Departemen Hukum dan HAM DKI Jakarta, Asjudin Rana.

Pada kesempatan itu, binaan Lapas menampilkan tarian dari Nanggroe Aceh Darussalam dan alunan lagu oleh kelompok band binaan Lapas. Di samping menulis buku, binaan Lapas juga ada yang menciptakan lagu-lagu, kata Kalapas Haviluddin.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X